Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #11

Sepupu

Ternyata hubungan gue dan Selly mungkin memang nggak sesederhana yang gue kira.

Untuk beberapa detik, lorong rumah sakit terasa sunyi.

Yang terdengar cuma bunyi monitor samar dari balik pintu ICU, langkah perawat di ujung lorong, dan napas gue sendiri yang mendadak terasa terlalu berat.

Ayah berhenti melangkah.

Tatapannya nggak lepas dari Selly dan ibunya.

Lalu, pelan-pelan, Ayah menoleh ke arah gue.

Wajah ayah seperti seseorang yang benar-benar menyesal.

“Da…” suara Ayah pelan.

Gue masih diam.

Ayah menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara lagi.

“Maaf.”

Satu kata itu langsung bikin kepala gue makin penuh.

“Ayah nggak punya banyak waktu buat jelasin semuanya,” lanjutnya pelan. “Makanya Ayah langsung bawa kamu ke sini.”

Gue mengerutkan alis.

“Ayah…”

“Tapi setelah ini,” potong Ayah cepat, suaranya mulai berat, “Ayah janji Ayah jelasin semuanya ke kamu.”

Ini sesuatu yang sudah lama disimpan, waktu itu gue sempat mendengarnya juga.

Dan sesuatu itu sekarang berdiri tepat di depan gue.

Ibu Selly yang duduk di samping Selly ikut mendongak.

Awalnya beliau melihat gue.

Lalu pandangannya bergeser ke Ibu.

Dan akhirnya berhenti di Ayah.

Wajahnya langsung berubah pelan.

Bukan kaget biasa.

Lebih seperti seseorang yang tiba-tiba melihat luka lama muncul lagi di depan matanya.

Ayah berdiri diam di tempat.

Tangannya yang tadi menggenggam kunci mobil terlihat mengeras.

Ibu berdiri setengah langkah di belakang beliau sambil membawa tas kecil dan bingkisan buah yang sudah dibawa dari rumah.

Nggak ada yang bicara.

Sampai akhirnya Ibu Selly berdiri.

Pelan.

Tapi dari caranya berdiri aja, gue langsung tahu sesuatu yang buruk bakal terjadi.

“Kamu…”

Suaranya bergetar.

Ayah menunduk sedikit.

“Mbak…”

Belum sempat Ayah menyelesaikan satu kata pun, Ibu Selly langsung melangkah cepat.

“Kurang ajar kamu.”

Kalimat itu menghantam lebih dulu sebelum tangannya benar-benar mendarat di wajah Ayah.

Plak.

Suara tamparannya terdengar jelas di lorong ICU.

Ibu gue langsung kaget sampai bingkisan buah di tangannya hampir jatuh. Untungnya ruang tunggu depan ICU cukup tertutup dan nggak terlalu ramai.

Ayah nggak membalas.

Nggak bergerak sama sekali.

Cuma wajahnya sedikit berpaling karena tamparan tadi.

“Ibu!” Selly langsung berdiri dengan wajah pucat. “Ibu, jangan!”

Tapi ibunya seperti sudah tidak bisa mendengar apa pun lagi.

Bertahun-tahun sesuatu yang ia pendam akhirnya keluar malam ini juga.

Kekecewawan bercampur kekesalan di lorong ICU ini.

“Berani-beraninya kamu datang ke sini,” katanya dengan suara pecah. “Setelah selama ini kamu hilang. Setelah semua yang kamu lakukan. Sekarang kamu datang?”

Ayah menarik napas pelan.

“Saya datang untuk…”

“Untuk apa?” potong Ibu Selly tajam. “Minta maaf?”

Ayah langsung diam.

Ibu Selly tertawa kecil, getir. Bukan sebagai tanda kelucuan.

“Suami saya sudah terbaring di dalam. Baru sekarang kamu ingat punya saudara?”

Kalimat itu langsung bikin kepala gue berdenging.

Saudara.

Gue langsung menoleh ke Selly.

Selly juga melihat ke arah gue.

Dan dari matanya, gue sadar satu hal.

Dia sudah tahu lebih dulu.

Ibu gue akhirnya mencoba maju sedikit.

“Mbak, tolong tenang dulu. Kita bisa ngomong baik-baik…”

“Baik-baik?” Ibu Selly menoleh cepat. Matanya merah penuh air mata. “Ibu tahu apa soal baik-baik?”

Ibu gue langsung diam.

Tangan ibu terlihat gemetar kecil di pegangan bingkisan buah.

“Ibu…” Selly mencoba memegang lengan ibunya pelan. “Jangan di sini.”

“Diam dulu, Selly.”

Selly langsung berhenti.

Bukan karena takut.

Lebih karena dia tahu ibunya sedang ada di titik yang bahkan dia sendiri tidak bisa jangkau.

Gue masih berdiri membeku.

Semua potongan kecil muncul satu per satu di kepala gue.

Tatapan aneh Ayah waktu pertama lihat Selly.

Selly yang mendadak menjauh setelah melihat foto keluarga di rumah waktu malam kita makan bersama.

Gue juga baru ingat, waktu pesta pernikahan keluarga, jangan-jangan Selly yang waktu itu gue lihat memang dia. Bayangannya terlalu jelas saat itu, dan sekarang semuanya sudah semakin jelas.

Lalu saudara ayah.

“Kamu tahu dia sudah berapa lama sakit?” suara Ibu Selly kembali pecah. “Kamu tahu anak saya hidup kayak apa selama ini? Kamu tahu Selly harus sekolah sambil mikirin biaya rumah sakit, obat, semuanya sendiri?”

Ayah menunduk.

“Saya tahu saya salah.”

“Salah?” ulang Ibu Selly lirih sambil tertawa getir kembali. “Kamu pikir ini cuma soal salah?”

Ayah tidak menjawab.

“Kamu datang bawa istri, bawa anak, bawa buah.” Ibu Selly menunjuk bingkisan di tangan Ibu gue. “Seolah-olah semua bisa jadi sopan cuma karena dibungkus plastik cantik.”

Tangan Ibu langsung menggenggam bingkisan itu lebih erat.

“Mbak, buah ini bukan maksud…”

Belum selesai Ibu bicara, Ibu Selly langsung menepis bingkisan itu.

Bingkisan itu jatuh ke lantai dengan suara keras.

Buah-buah di dalamnya berhamburan. Apel menggelinding sampai dekat kaki gue. Jeruk berhenti di bawah kursi tunggu. Plastik pembungkusnya robek sebagian.

Tidak ada yang bergerak mengambilnya.

Ibu Selly menatap semua itu beberapa detik sebelum akhirnya suaranya turun pelan.

“Suami saya di dalam sana...”

Kemarahan di wajahnya mulai terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih rapuh.

“Dia sudah hancur begini...” suaranya pecah. “Sekarang kamu datang?”

Selly langsung menunduk. Tangannya naik menutupi sebagian wajahnya sendiri seperti ingin menghilang dari tempat itu.

Hati gue merasa tertusuk-tusuk melihatnya seperti itu.

Gue ingin mendekat.

Ingin bilang sesuatu.

Tapi kaki gue tidak bergerak sama sekali.

Karena malam itu, gue benar-benar melihat Selly bukan cuma sebagai Selly.

Dia adalah anak dari seseorang yang sedang berjuang hidup di balik pintu ICU.

Dan gue berdiri di sisi keluarga yang membuat ibunya menangis seperti itu.

Tiba-tiba Ibu Selly menatap tajam ke arah gue.

“Kalau saya tahu dari awal kamu anaknya dia...” suaranya bergetar. “Saya tidak akan pernah membiarkan Selly dekat sama kamu.”

Kalimat itu langsung menghantam dada gue.

Selly langsung mengangkat kepala cepat.

“Ibu, ini bukan salah Arda!”

“Maaf saya benar-benar tidak tahu,” kata gue pelan, hampir seperti bisikan.

“Tidak tahu?” Ibu Selly tertawa kecil. Kali ini getir sekali. “Atau memang kamu dikirim buat lihat keadaan kami?”

“Tidak!” Ayah akhirnya mengangkat suara. Tidak keras, tapi cukup buat semua orang diam sesaat. “Arda tidak tahu apa-apa.”

“Jangan bawa-bawa Arda,” kata Ibu gue cepat. Suaranya mulai gemetar. “Anak-anak tidak tahu urusan ini.”

“Justru itu masalahnya!” balas Ibu Selly sambil menatap Ibu gue. “Kalian orang dewasa bikin luka, lalu anak-anak kalian datang seolah semua bisa dimulai dari nol.”

Lorong ICU kembali hening.

Selly menggenggam lengan ibunya lebih kuat kali ini.

“Ibu, cukup.”

“Selly…” akhirnya gue menyebut nama Selly karena sudah tidak tahan juga.

“Cukup, Bu.” Suara Selly ikut bergetar. “Ayah di dalam.”

Kalimat itu akhirnya membuat Ibu Selly berhenti.

Dadanya naik turun. Napasnya berat. Air mata terus jatuh, tapi tidak ia seka sama sekali.

Mungkin karena kalau ia mulai menyeka air mata itu, seluruh pertahanannya akan ikut runtuh.

Beberapa perawat mulai mendekat dari ujung lorong.

“Bu, mohon tenang,” kata salah satu perawat hati-hati. “Kalau ada masalah keluarga, bisa dibicarakan di luar area ICU.”

Ibu Selly memejamkan mata sebentar.

Selly masih memegang lengannya erat.

Ayah gue berdiri diam dengan kepala tertunduk lebih dalam dari sebelumnya.

“Mbak...” suara Ayah pelan sekali sekarang. “Saya benar-benar datang untuk minta maaf.”

Ibu Selly membuka mata perlahan.

Tatapannya masih penuh air mata.

Tapi dingin.

“Maaf itu terlambat.”

Ayah seperti kehabisan kata.

“Dulu waktu suami saya masih sehat, dia nunggu kamu datang,” kata Ibu Selly pelan sekarang. Tidak lagi setinggi tadi, tapi justru terasa lebih menyakitkan. “Waktu dia masih bisa marah. Masih bisa berdiri sendiri. Masih bisa ngomong panjang.”

Tatapannya tidak lepas dari Ayah.

“Dia nunggu.”

Ayah diam.

“Sekarang dia bahkan kadang sudah tidak sadar siapa yang datang.” Suaranya mulai patah lagi. “Baru sekarang kamu muncul?”

Ibu gue menunduk pelan. Tangannya yang tadi kosong setelah buah-buah itu jatuh terlihat kaku di sisi tubuhnya sendiri.

“Mbak...” suara Ibu lirih. “Kami tidak datang buat nambah sakit.”

“Kalian sudah nambah sakit dari lama.”

Hening langsung jatuh lagi di lorong ICU.

Dan di tengah semua itu, gue cuma bisa menatap Ayah.

Selama ini Ayah selalu terlihat besar di mata gue.

Tegas.

Tahu arah.

Rumah kami rapi karena Ayah.

Hidup kami tenang karena Ayah.

Semua seolah selalu ada dalam kendalinya.

Tapi malam itu tidak.

Malam itu Ayah terlihat seperti seseorang yang akhirnya dipaksa berdiri di depan sesuatu yang terlalu lama dia tinggalkan.

Ayah Selly ada di balik pintu ICU.

Ibu Selly berdiri di depannya dengan semua luka yang akhirnya pecah malam itu.

Selly berdiri di samping ibunya, mencoba menahan semuanya supaya tidak semakin hancur.

Dan gue, gue berdiri di tengah-tengah semua itu tanpa tahu harus jadi siapa.

Anak Ayah.

Atau seseorang yang masih ingin dipercaya Selly.

“Selly...” panggil gue pelan.

Selly menoleh.

Matanya basah, tapi dia belum menangis.

“Ini...” tenggorokan gue terasa kering. “Ini sebenarnya apa?”

Selly tidak menjawab.

Dia cuma menatap gue lama sekali dengan wajah yang terlihat terlalu lelah untuk anak seusianya.

Dan anehnya, justru dari diam itu gue mulai sadar.

Dia sudah tahu lebih dulu.

Selly tahu sesuatu yang selama ini disembunyikan dari gue.

Ibu Selly menarik napas dalam sebelum kembali melihat Ayah.

“Pulang.”

Ayah mengangkat wajah pelan.

“Mbak, saya cuma mau lihat Kakak Saya.”

“Pulang,” potong Ibu Selly lagi. “Kalau kamu masih punya sedikit rasa malu, pulang saja.”

Rahang Ayah mengeras pelan. Tangannya semakin kuat mengepal.

Ibu menyentuh lengan beliau hati-hati.

“Mas...”

Ayah masih menatap pintu ICU.

Untuk sesaat gue pikir beliau bakal tetap memaksa masuk.

Tapi kemudian bahunya turun sedikit.

Dan malam itu, Ayah terlihat benar-benar kalah.

“Baik,” jawabnya lirih.

Ibu Selly tidak membalas lagi.

Selly menatap gue sekali lagi.

Ada terlalu banyak hal di matanya.

Maaf.

Lihat selengkapnya