Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #12

Rumah

Gue melaju keluar komplek tanpa tujuan jelas.

Lampu jalan lewat satu-satu di samping gue. Beberapa warung masih buka, suara motor sesekali melintas dari arah berlawanan, tapi kepala gue terlalu penuh buat benar-benar sadar gue sedang ada di mana.

Yang ada cuma suara Ayah yang terus muter di kepala.

Anak durhaka.

Jangan dekati Selly lagi.

Gue sempat berpikir berhenti di minimarket. Atau duduk sendirian di taman dekat sekolah sampai malam lewat sendiri.

Tapi semakin jauh motor gue jalan, semakin gue sadar ada satu hal yang paling gue takutkan malam itu.

Pulang lagi.

Dan entah kenapa, di tengah kepala yang berantakan itu, gue langsung kepikiran satu orang.

Roni.

Orang yang biasanya paling nggak serius sedunia, tapi selalu ada waktu keadaan gue mulai hancur.

Tanpa sadar, motor gue langsung membawa gue menuju rumahnya.

Rumahnya jauh berbeda dari rumah gue.

Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada halaman luas atau lampu taman yang menyala rapi. Cat tembok depannya sedikit pudar, sandal berjejer berantakan dekat pintu, dan ada pot tanaman kecil di teras yang kelihatannya dirawat ibunya.

Sederhana.

Lampu ruang tamunya masih menyala.

Dan anehnya, cuma karena lihat cahaya itu, dada gue sedikit lebih lega.

Gue mematikan motor lalu mengirim pesan singkat.

“Ron. Gue di depan rumah lu.”

Tidak sampai semenit, pintunya langsung terbuka.

Roni keluar dengan kaus rumahan dan celana pendek, rambutnya acak-acakan seperti baru baru bangun tidur.

Begitu lihat muka gue, ekspresinya langsung berubah.

“Lu kenapa?”

Gue mencoba jawab.

Tidak bisa.

Roni langsung membuka pintu lebih lebar.

“Masuk dulu.”

Gue mengikuti dia masuk ke dalam rumah.

Ruang tamunya kecil. Ada sofa cokelat tua, televisi yang menyala pelan, kipas angin yang bunyinya sesekali berdecit, dan kalender warung yang tergantung miring di dinding.

Dari dalam kamar terdengar suara kipas kecil dan dengkuran halus.

“Ayah sama Adik gue Cindy udah tidur,” bisik Roni sambil menunjuk pintu kamar sebelah.

Gue mengangguk kecil.

Ibu Roni keluar dari dapur sambil membawa gelas.

“Loh, Arda?”

Gue langsung menunduk sopan.

“Malam, Tante. Maaf ganggu.”

“Ganggu apa?” beliau langsung mendekat sedikit. “Kamu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana itu menyentuh hati gue.

“Sudah, Tante.”

Roni langsung memotong cepat.

“Arda nginep sini, Bu. Sekalian belajar buat persiapan UAS.”

Ibunya mengangguk santai seolah itu hal biasa.

“Oh iya nggak apa-apa. Kalau lapar masih ada nasi nih.”

Rumah Roni terasa jauh lebih nyaman daripada rumah gue sendiri malam ini.

Gue masuk ke kamar Roni.

Kamarnya sempit, tapi hidup. Buku numpuk di meja belajar, kabel charger kusut di dekat bantal, poster bola menempel seadanya di dinding.

Berantakan khas Roni.

Beberapa menit kemudian dia masuk sambil membawa dua mangkuk mi.

“Lu pilih. Goreng apa rebus?”

“Gue bilang udah makan.”

“Tapi wajah lu nggak bisa bohong kalau lagi lapar.”

“Yauda yauda.”

“Berarti gue aja yang milih.” Roni menyerahkan mie goreng ke gue. “Ini punya lu.”

Gue makan pelan, awalnya tidak nafsu. Tapi lama-lama habis juga.

Setelah selesai, Roni membereskan mangkuk ke dapur lalu balik lagi sambil membawa bantal tambahan.

“Lu di kasur. Gue di bawah.”

“Nggak usah.”

“Da.”

Nada suaranya langsung bikin gue diam.

“Lu tamu. Jangan bikin ribet.”

Gue akhirnya duduk di kasur sementara Roni rebahan di lantai samping kasur, yang sudah ia beri matras juga.

Kamar langsung sunyi beberapa saat.

“Lu mau cerita?” tanyanya pelan.

Gue menunduk.

“Belum.”

“Oke.”

Cuma itu.

Roni nggak maksa, napas gue terasa sedikit lebih ringan.

Gue merebahkan badan.

Dari luar kamar terdengar suara piring dicuci, suara televisi kecil, dan kipas angin ruang tamu yang terus berputar.

Rumah sederhana itu tetap berjalan seperti biasa.

Dan malam itu, gue tidur di rumah orang lain bukan karena main atau tugas kelompok.

Tapi karena rumah gue sendiri terasa terlalu asing buat dipulangi.

Besok paginya gue sama sekali nggak punya semangat buat sekolah.

Rasanya badan gue berat semua. Kepala juga masih penuh sama kejadian semalam.

Tapi Roni tetap maksa gue bangun.

“Masuk sekolah aja dulu,” katanya sambil narik selimut gue. “Kalau nggak kuat, tidur aja di kelas.”

“Duh malas banget gue.”

“Daripada bolos nanti lu kena alpa.”

Akhirnya gue bangun juga.

Setelah mandi dan sarapan lontong sayur dari Ibu Roni, gue sama Roni berangkat ke sekolah seperti biasa.

Atau setidaknya mencoba terlihat biasa.

Tapi begitu sampai sekolah, semuanya tetap terasa aneh.

Lorong yang biasa gue lewati bareng Selly sekarang terasa kosong.

Perpustakaan terasa terlalu sepi.

Selly tidak kelihatan seharian itu.

Gue bahkan nyaris nggak fokus sama sekali di kelas. Pada akhirnya gue benar-benar menjalankan saran aneh Roni tadi, tidur lemas di meja sambil pura-pura dengar guru menjelaskan.

Tapi bahkan waktu mata gue terpejam, kepala gue tetap ribut.

Tentang Ayah.

Tentang Ibu, juga Syakila yang pasti bingung semalam.

Terutama Selly.

Gue juga sadar gue nggak mungkin terus-terusan numpang di rumah Roni. Walaupun dia nggak pernah bilang keberatan, gue tetap merasa nggak enak sama keluarganya.

***

Malam kedua gue di rumah Roni bahkan sudah terasa lebih nyaman.

Habis magrib, gue sempat bantu Roni mindahin motor ayahnya ke dalam teras kecil rumah mereka. Gang depan rumah sudah mulai sepi.

Begitu masuk ke dalam, aroma tumisan bawang langsung terasa dari dapur. Bau masakannya gampang menyebar sampai ruang tamu.

Ibu Roni lanjut menata piring di meja makan kecil dekat dapur. Ayah Roni duduk di kursi plastik sambil nonton berita malam dengan volume pelan. Sesekali beliau komentar sendiri soal harga beras atau politik yang gue nggak terlalu ngerti.

“Cuci tangan dulu kalian,” kata Ibu Roni tanpa menoleh.

“Iya, Bu,” jawab Roni.

Meja makan mereka sederhana banget. Tidak besar. Tidak ada lampu gantung mahal atau meja panjang kayak di rumah gue. Cuma meja kayu kecil dengan taplak motif bunga yang warnanya mulai pudar.

Tapi semuanya terasa hidup.

Ada ayam goreng, tumis kangkung, tahu, sambal, sama kerupuk yang ditaruh di toples bulat.

“Duduk, Da,” kata Ibu Roni sambil nyendokin nasi buat gue. “Jangan sungkan.”

“Iya, Tante. Terimakasih.”

Roni langsung duduk sambil narik kerupuk duluan.

Suasana makan malamnya ramai yang bikin nyaman.

Roni cerita kalau gue sering tidur di kelas tapi tetap ngerti pelajaran. Ayahnya menimpali dia. Ibunya sesekali nyuruh makan yang banyak. Adik Roni pemalu, kebanyakan diam, berbeda sekali dari kakaknya.

Makan malam bersama seperti ini jarang sekali terjadi di rumah gue, paling-paling kalau ada acara yang harus dirayain kayak waktu ulang tahun gue.

Ayah dan Adik Roni makan dengan cepat dan selesai lebih dulu, lalu mereka ke ruang tengah lanjut menonton televisi.

Kemudian tiba-tiba Ibu Roni ngomong sambil ngelihat gue,

“Jadi Arda, biasanya kan Roni terus yang nginep di rumah kamu. Sekarang gantian ya.”

Gue tersenyum kecil.

“Iya, Tante.”

“Bagus juga,” lanjut beliau santai. “Rumah jadi nggak sepi-sepi amat.”

Roni tiba-tiba nyeletuk sambil makan.

“Arda mah sebenarnya jarang dekat sama cewek, Bu.”

Gue langsung nengok.

“Kenapa tiba-tiba topiknya ini?”

“Nggak apa-apa, random aja.” jawabnya santai. “Waktu kelas satu aja sempat suka sama satu kakak kelas doang.”

Ibu Roni langsung tertarik.

“Oiya?”

“Iya kakak kelas tiga yang dulu anak OSIS, Bu. Cantik, pinter, perfect banget deh.”

Gue langsung menghela napas panjang.

“Ron.”

“Padahal sebenarnya banyak cewek yang mau juga sama Arda, cuma Arda pilih-pilih juga orangnya.”

“Ya jelaslah Dek, Arda ini kan tampan.” Sambung Ibu Roni.

“Emang Aku nggak Bu?”

“Ya kamu juga kan anak Ibu.”

“Hahah kirain. Terus habis lulus langsung hilang deh tuh kakak kelas,” lanjut Roni sambil ketawa kecil.

Ibu Roni menatap gue beberapa detik sambil senyum tipis.

“Berarti memang kalau Arda sudah nyaman sama seseorang, serius ya.”

Gue menunduk sambil muter sendok pelan.

“Mmm kayaknya sih, Tante.”

Roni memotong dengan cepat lagi, “Dia tuh susah banget suka sama orang.”

“Sok tahu banget lu Ron.”

“Yasudah lanjut makannya dulu Ibu mau cuci piring Ayah sama Adik kamu.”

“Iya bu.”

Kami lanjut makan, tapi kalimat Roni tadi langsung bikin gue kepikiran Selly lagi.

Handphone gue tiba-tiba bergetar di meja.

Lihat selengkapnya