Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #13

Maaf dan Pulang

“Arda…”

Suara Ibu lirih saat memanggil nama gue.

“Bu...”

Belum sempat gue mengatakan apa-apa, Ibu sudah memeluk gue lebih dulu dengan sangat amat erat.

Seolah gue bisa menghilang lagi kalau ibu melepaskannya.

Awalnya gue cuma diam. Masih ada sisa marah, kecewa, dan gengsi yang belum benar-benar hilang. Tapi pelan-pelan tangan gue ikut terangkat membalas pelukan itu.

“Maaf, Bu.”

Ibu tidak menjawab. Tangannya mengelus-elus lembut di belakang punggung gue.

Dari dalam rumah, Ayah muncul.

Ayah berdiri beberapa langkah di belakang Ibu. Wajahnya masih kaku, tapi tidak setegang waktu malam saat kami bertengkar.

Kami saling menatap.

Tidak ada yang bicara.

Sampai suara langkah kecil terdengar dari dalam.

“Kak Arda?”

Syakila muncul. Begitu melihat gue, matanya langsung membesar.

“Kak!”

Dia berlari lalu memeluk pinggang gue sekuat tenaga.

“Kakak ke mana sih?” suaranya parau.

Gue mengusap rambutnya pelan.

“Jangan pergi lagi.”

“Iya.”

Syakila masih memeluk beberapa detik sebelum Ibu membungkuk di sampingnya.

“Sayang, masuk kamar dulu ya. Kakak mau bicara sama Ayah dan Ibu.”

“Nggak mau.”

“Sebentar aja.”

Syakila menoleh ke gue, minta kepastian.

Gue tersenyum tipis.

“Kakak nggak ke mana-mana lagi?”

“Janji.”

Baru setelah itu dia melepas pelukannya.

Meski saat masuk ke kamarnya, beberapa kali dia masih menoleh ke belakang.

Begitu Syakila menghilang di balik kamarnya, ruang tengah kembali sunyi.

Tapi kali ini berbeda.

Tidak setajam dan sesesak sebelumnya.

Lebih seperti semua orang sedang menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu.

Ibu menutup pintu rumah.

Gue melepas jaket lalu berdiri di dekat sofa.

Ayah tetap di tempatnya.

“Kamu dari rumah Roni?”

“Iya.”

“Orang tuanya tahu?”

“Tahu. Aku makan di sana. Nginap juga.”

Ibu mengembuskan napas panjang. Seperti baru bisa sedikit tenang setelah mendengar jawaban itu.

Gue menatap Ayah.

“Aku minta maaf karena pergi.”

Ayah diam.

“Maaf bikin Ibu khawatir. Maaf bikin Syakila takut.”

Ibu langsung menunduk. Matanya kembali basah.

Gue menarik napas pelan.

Ayah menatap gue.

Kali ini, gue tidak menunduk.

“Aku masih marah, Yah. Aku masih kecewa.” Gue menarik napas pelan. “Tapi kemarin aku ketemu Selly.”

Wajah Ayah berubah sedikit.

Ibu yang sejak tadi diam langsung mengangkat kepala.

“Dia di rumah sakit?” tanya Ibu pelan.

Gue mengangguk.

“Aku ketemu dia di taman samping rumah sakit. Aku nggak masuk. Aku cuma minta dia ketemu sebentar.”

Ayah tidak bicara, tapi rahangnya bergerak pelan.

“Ayahnya Selly makin drop.”

Kalimat itu langsung membuat ruang tengah terasa lebih sunyi.

Ibu memejamkan mata.

Ayah tetap diam.

“Dokter sudah kasih tahu keluarganya.” Gue menelan ludah. “Sekarang tinggal menghitung waktu. Bisa beberapa hari. Bisa beberapa minggu kalau tubuhnya masih kuat.”

Ayah menunduk.

Untuk sesaat, beliau terlihat seperti sedang melihat sesuatu yang cuma bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

Yakni masa lalu yang selama ini terus dia hindari.

“Selly bilang...” suara gue sempat tertahan, “dia nggak butuh semuanya selesai sempurna.”

Ibu membuka mata pelan.

“Dia cuma pengin ayahnya masih sempat lihat dia di kelulusan SMA nanti.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Ayah perlahan duduk di sofa.

Gerakannya lambat.

Seperti tiba-tiba ada beban yang terlalu berat di pundaknya.

Gue tetap berdiri.

“Yah.”

Ayah tidak menjawab.

“Keluarga lain juga sudah bergantian datang.”

Kali ini beliau mengangkat sedikit wajahnya.

“Mungkin mereka sudah siap menghadapi kemungkinan paling buruk.”

Kedua tangan Ayah saling menggenggam.

“Ini mungkin kesempatan terakhir Ayah.”

Ibu menoleh ke arah gue.

Gue tetap menatap Ayah.

“Bukan kesempatan buat dibenarkan.”

Suara gue tidak keras.

Tapi cukup jelas.

“Tapi, kesempatan buat datang sebagai adik.”

Ayah memejamkan mata.

“Sebagai adik yang minta maaf ke kakaknya.”

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik berlalu sebelum Ayah akhirnya membuka mata.

“Ayah tahu.”

“Nggak, Yah.”

Jawaban gue keluar lebih cepat dari yang gue rencanakan.

Kalau beberapa hari lalu gue mungkin masih bimbang mendebat Ayah, tapi hari ini gue sudah terlalu lelah.

“Kalau Ayah benar-benar tahu, Ayah nggak akan nunggu sampai sekarang.”

Ibu terlihat ingin menyela.

Tapi urung.

Ayah menatap gue lagi.

Ada sedikit kemarahan yang muncul di matanya.

Refleks seorang ayah yang tidak suka dibantah.

Tapi kemarahan itu cepat hilang.

Digantikan sesuatu yang jauh lebih rapuh.

“Ayah takut.”

Gue terdiam.

Begitu juga Ibu.

Karena itu bukan kata yang biasa keluar dari mulut Ayah.

“Ayah takut mereka menolak Ayah lagi seperti kemarin.”

Suara beliau terdengar lebih pelan sekarang.

“Takut kakak Ayah meninggal tetap membenci Ayah.”

Ayah menunduk lagi.

Kalimat terakhir itu hampir terdengar seperti bisikan.

Gue mengepalkan tangan pelan.

“Yah.”

Ayah mengangkat wajahnya.

“Menurutku... Ayah memang terlambat.”

Beliau tidak membantah.

Suara gue mulai bergetar.

“Tapi itu tetap lebih baik daripada nggak datang sama sekali.”

Mata Ayah berkedip pelan.

Gue melanjutkan.

“Luka itu sudah terbuka.”

“Di rumah sakit.”

“Di depan ICU.”

“Di depan aku, Selly, Ibu.”

“Semua orang sudah melihatnya.”

Napas gue terasa berat.

“Dan luka itu nggak bakal hilang cuma karena Ayah memilih pergi lagi.”

Ayah kembali menunduk.

“Kalau Ayah tetap nggak datang...” suara gue mengecil, “yang tersisa nanti bukan cuma luka.”

Kali ini gue berhenti sebentar.

Karena kalimat berikutnya terasa terlalu dalam.

“Tapi penyesalan.”

Ibu akhirnya duduk di samping Ayah.

Tangannya menyentuh lengan Ayah perlahan.

“Mas,” kata Ibu lembut, “Arda benar.”

Ayah tidak menatap Ibu.

Tapi gue tahu beliau mendengar.

Gue menarik napas panjang. Ada bagian dari diri gue yang masih ingin bicara sebagai anak yang terluka. Anak yang masih sakit karena disebut durhaka. Anak yang masih marah karena Selly diseret-seret ke kegagalan beasiswa futsal.

Tapi malam itu, ada hal yang terasa jauh lebih penting.

“Aku nggak tahu nanti keluarga Selly bakal nerima Ayah atau nggak,” kata gue pelan.

“Aku juga nggak tahu Ibu Selly bakal marah lagi atau nggak. Mungkin Ayah tetap ditolak. Mungkin Ayah nggak diizinin masuk. Mungkin semuanya tetap sakit.”

Ayah perlahan mengangkat wajah.

“Tapi setidaknya Ayah datang.”

Ruangan kembali sunyi.

Jam dinding di ruang tengah terdengar berdetak pelan.

Gue menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Dan kalau setelah itu mereka minta aku nggak ketemu Selly lagi... kalau mereka minta aku menjauh dari Selly sampai kapan pun...”

Kalimat itu terasa berat bahkan sebelum selesai gue ucapkan.

Bayangan Selly kembali muncul di kepala gue.

Wajahnya yang pucat di taman rumah sakit.

Matanya yang lelah.

Dan suaranya saat bilang bahwa dia cuma ingin ayahnya masih sempat melihat dia wisuda.

“Aku bakal coba terima.”

Ibu langsung menatap gue.

Ayah juga.

Gue menunduk sebentar sebelum kembali mengangkat kepala.

“Karena aku lebih takut Ayah terlambat minta maaf.”

Kali ini tidak ada yang langsung bicara.

Ibu menyeka sudut matanya.

Sementara Ayah menatap gue lama.

Lama sekali.

Seolah baru malam itu beliau benar-benar melihat bahwa gue juga sedang berusaha menelan sesuatu yang sakit.

“Aku nggak takut kalau akhirnya harus jauh dari Selly,” lanjut gue pelan.

Bohong.

Dan mungkin ayah dan ibu tahu gue sedang berbohong.

Tapi gue tetap melanjutkannya.

“Aku cuma nggak mau Ayah hidup dengan penyesalan yang sama sampai bertahun-tahun lagi.”

Ayah mengembuskan napas panjang.

Lalu, ayah mulai bercerita.

“Dulu dia yang paling sering bela Ayah.”

Gue terdiam.

Ayah tidak melihat ke arah gue. Pandangannya tertuju ke meja ruang tengah, tapi jelas yang beliau lihat bukan meja itu.

“Waktu Ayah masih kecil, kakak-kakak yang lain sering nganggep Ayah bocah.”

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

“Hampir setiap kali Ayah mau ikut bicara, pasti ada yang nyuruh diam.”

Ayah berhenti sejenak.

“Tapi Bang Damar selalu beda.”

Nama itu terasa asing di telinga gue.

Mungkin karena selama ini tidak pernah ada yang menyebutnya di rumah.

“Dia yang sering bilang, ‘Biarkan saja. Anak kecil juga punya suara.’”

Suara Ayah makin pelan.

“Waktu Ayah pertama kali mau buka usaha juga begitu. Semua orang ragu. Semua bilang terlalu berisiko.”

Ayah tersenyum tipis.

Senyum yang justru terlihat menyakitkan.

“Tapi dia percaya.”

Tidak ada yang menyela.

“Dulu Ayah pikir dia percaya karena terlalu baik. Terlalu gampang percaya sama orang.”

Ayah mengusap wajahnya pelan.

“Ternyata yang bodoh Ayah.”

Ruangan kembali hening.

Ibu menggenggam lengan Ayah lebih erat.

Sementara gue hanya mendengarkan.

Karena rasanya baru sekarang gue benar-benar melihat bagian hidup Ayah yang selama ini tidak pernah dia tunjukkan.

“Ayah menunda terlalu lama,” katanya.

“Awalnya sehari.”

“Lalu seminggu.”

“Lalu sebulan, setahun.”

“Semakin lama ditunda, semakin susah rasanya pulang.”

Pulang.

Kata itu membuat dada gue ikut nyeri.

Beberapa jam lalu, gue juga merasa rumah ini bukan tempat yang ingin gue pulangi.

Bedanya, gue pergi beberapa malam.

Sementara Ayah sudah hidup dengan perasaan itu bertahun-tahun.

Dan setiap tahun membuat langkah pertama terasa makin berat.

Ayah menarik napas panjang.

Lalu perlahan berdiri dari sofa.

Gerakannya tidak terburu-buru.

Tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang.

Bukan seperti orang yang kalah.

Lebih seperti orang yang akhirnya berhenti mencari alasan untuk terus bersembunyi.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

Lihat selengkapnya