Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #14

Stasiun dan Kereta

Pintu ruang perawatan tertutup di depan kami.

Tidak ada yang bicara.

Ibu Selly beberapa kali melangkah maju, lalu berhenti ketika perawat menahannya dengan suara pelan.

Ayah berdiri beberapa meter dari sana. Wajahnya pucat. Pandangannya tidak pernah lepas dari pintu yang baru saja tertutup.

Ibu merangkul Syakila di samping gue.

Adik gue diam saja. Matanya berkaca-kaca, kebingungan melihat orang-orang dewasa yang biasanya terlihat kuat kini seperti kehilangan pegangan.

Selly masih berdiri.

Beberapa detik.

Lalu perlahan duduk di kursi tunggu.

Bukan karena sudah tenang.

Tubuhnya seperti tidak sanggup berdiri lebih lama.

Ibu Selly langsung memeluk pundaknya.

Dan saat itulah gue sadar betapa kecilnya Selly di tengah semua ini.

Selama ini gue selalu melihat dia sebagai orang yang kuat. Orang yang bisa tetap belajar di perpustakaan setelah semalaman menjaga ayahnya. Orang yang masih sempat memikirkan nilai ujian ketika hidupnya sedang berantakan.

Tapi malam itu, dia cuma seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.

Gue ingin mendekat.

Ingin mengatakan sesuatu.

Apa saja.

Tapi gue tidak bergerak.

Di samping Selly ada ibunya.

Dan ada kesedihan yang tidak bisa dimasuki begitu saja, bahkan oleh orang yang peduli.

Waktu berjalan lambat setelah itu.

Jam di lorong terus bergerak.

Orang-orang terus lewat.

Tapi rasanya tidak ada yang benar-benar berubah.

Sampai akhirnya pintu ruang perawatan kembali terbuka.

Dokter keluar.

Semua orang langsung berdiri.

Ibu Selly yang paling cepat menghampiri.

"Dok..."

Dokter melepas maskernya.

Wajahnya lelah.

Dan saat melihat ekspresi itu, dada gue langsung terasa kosong.

Ada kabar yang kadang sudah sampai lebih dulu sebelum kata-katanya keluar.

Ibu Selly menutup mulutnya.

Selly berdiri di belakang ibunya.

Diam.

Dokter berbicara pelan.

Pak Damar sudah tidak ada.

Setelah itu, dunia seperti berhenti beberapa saat.

Ibu Selly langsung menangis.

Tangis yang berat.

Seperti sesuatu yang selama berbulan-bulan ia tahan akhirnya runtuh sekaligus.

Selly tidak.

Dia hanya berdiri.

Menatap dokter.

Lalu menatap pintu ruang perawatan.

Seolah masih menunggu seseorang keluar dari sana dan mengatakan semuanya salah.

Baru ketika ibunya memeluknya, pertahanannya pecah.

Selly menundukkan wajah.

Air matanya jatuh tanpa henti.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangis yang keras.

Justru karena itulah rasanya semakin menyakitkan.

Gue memalingkan wajah sebentar, tidak kuat melihatnya serapuh itu.

Di samping gue, Ayah mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu terjatuh bersimpuh dengan kedua lututnya.

Malam itu Ayah tidak lagi berusaha terlihat tegar.

Kakaknya baru saja pergi.

Dan bersama kepergian itu, ada bertahun-tahun penyesalan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki sepenuhnya.

Maaf itu akhirnya terucap.

Pengampunan itu akhirnya datang.

Tapi waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun.

Suara tangis dari keluarga Ayah yang lainnya berangsur-angsur terdengar juga.

***

Rumah duka dini hari ini dipenuhi orang.

Wajah-wajah yang sebelumnya tidak pernah gue lihat berdatangan sejak pagi. Sebagian memeluk Ibu Selly. Sebagian duduk diam membaca doa. Sebagian lain hanya datang, menyalami keluarga, lalu ikut larut dalam suasana yang berat.

Kursi-kursi plastik memenuhi halaman.

Suara orang mengaji terdengar dari dalam rumah, bercampur dengan langkah tamu yang keluar masuk tanpa henti.

Gue duduk bersama keluarga gue di bagian belakang.

Ayah lebih banyak diam.

Ibu sesekali menyentuh lengannya pelan.

Syakila duduk di samping gue sambil menggenggam tangan gue sejak tadi. Dia tidak banyak bertanya. Sesekali matanya mencari Selly, lalu kembali menunduk.

Selly duduk di dekat ibunya.

Wajahnya pucat.

Matanya sembap.

Tapi punggungnya tetap tegak.

Orang-orang datang bergantian memeluknya.

Mengucapkan sabar, ikhlas, dan kalimat-kalimat yang mungkin memang tulus, tapi tidak bisa mengubah apa pun.

Beberapa kali mata gue mencarinya.

Beberapa kali juga gue mengurungkan niat untuk mendekat.

Selalu ada seseorang di sampingnya.

Keluarganya.

Kerabatnya.

Atau ibunya.

Dan ketika tidak ada siapa-siapa sekalipun, Selly terlihat berada sangat jauh.

Di sela doa malam itu, mata kami sempat bertemu.

Hanya beberapa detik.

Tidak ada senyum.

Tidak ada isyarat.

Selly hanya menatap gue sebentar sebelum kembali menunduk.

Ayahnya tidak akan pernah melihat hari kelulusannya.

Pikiran itu terus terulang di kepala gue sepanjang malam.

***

Pemakaman dilakukan keesokan paginya.

Langit mendung sejak subuh.

Tanah masih basah ketika rombongan keluarga tiba di pemakaman.

Orang-orang berdiri mengelilingi liang lahat.

Doa dibacakan.

Beberapa suara tangis terdengar di antara bacaan yang mengalun pelan.

Selly berdiri di samping ibunya.

Ibu Selly merangkul bahunya erat.

Seolah hanya itu yang membuat keduanya tetap berdiri.

Gue berada beberapa langkah di belakang Ayah.

Pandangan beliau tidak pernah lepas dari makam kakaknya.

Ketika tanah mulai menutup liang, kepala Selly perlahan tertunduk.

Tubuhnya goyah sedikit.

Refleks gue maju setengah langkah.

Tapi Ibu Selly lebih dulu menariknya ke dalam pelukan.

Dan gue berhenti.

Bukan karena tidak ingin mendekat.

Melainkan karena ada kehilangan yang tidak membutuhkan kehadiran gue saat itu.

Setelah pemakaman selesai, keluarga besar masih bertahan cukup lama.

Ada yang masih berbincang pelan.

Beberapa orang menghampiri Ayah.

Menyalami.

Menepuk bahunya.

Ayah menerima semuanya tanpa banyak bicara.

Tidak menjelaskan dan membela diri.

Hanya mendengarkan.

Saat rombongan mulai beranjak pulang, gue melihat Selly berjalan bersama ibunya.

Langkahnya lambat.

Tatapannya masih tertuju ke tanah.

"Selly."

Dia berhenti.

Ibu Selly ikut berhenti.

Selly menoleh.

Jarak kami hanya beberapa langkah.

Tapi terasa lebih jauh dari itu.

"Aku turut berduka."

Selly mengangguk kecil.

"Makasih, Arda."

Suaranya serak.

Lelah.

Dan terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu banyak menangis dalam dua hari terakhir.

Gue membuka mulut.

Ingin mengatakan sesuatu lagi.

Apa saja.

Tapi Ibu Selly lebih dulu bersuara.

"Selly, ayo."

Nada suaranya tidak tinggi.

Tidak marah.

Tapi cukup jelas.

Selly menatap gue sekali lagi.

Lalu mengangguk pelan.

Dan berjalan pergi bersama ibunya.

Gue tetap berdiri di tempat.

Melihat punggungnya semakin jauh.

Sampai akhirnya hilang di antara orang-orang yang mulai meninggalkan pemakaman.

***

Hari-hari setelah pemakaman berjalan pelan.

Di rumah, keadaan mulai berubah sedikit demi sedikit.

Ayah masih sering diam, tapi bukan diam yang sama seperti dulu. Beberapa kali telepon dari keluarga besarnya masuk. Kadang percakapan itu berjalan baik, kadang tidak. Ada malam-malam ketika Ayah duduk lama diam menyendiri, tidak melakukan apa-apa di ruang tengah setelah menutup telepon.

Ibu terlihat lebih tenang. Syakila mulai kembali cerewet saat makan malam. Sesekali ia masih bertanya tentang Pak Damar, lalu terdiam ketika melihat wajah Ayah.

Pelan-pelan, ketegangan yang sempat memenuhi rumah mulai menghilang.

Tidak sekaligus.

Tapi cukup untuk membuat kami bisa bernapas lebih lega.

Seharusnya itu kabar baik.

Dan memang begitu.

Hanya saja, pada saat yang sama, Selly semakin jauh dari jangkauan gue.

Seminggu setelah pemakaman, dia belum kembali ke sekolah.

Saat akhirnya Selly masuk kembali, semuanya terasa berbeda.

Kursi yang biasa ia tempati di perpustakaan tetap kosong.

Begitu bel pulang berbunyi, dia langsung pergi.

Kalau kami berpapasan di koridor, dia masih tersenyum.

Tapi senyum itu hanya singgah sebentar sebelum menghilang lagi.

Chat gue juga jarang dibalas cepat.

Kadang baru dibalas malam hari atau hanya dibaca.

Kalau pun menjawab, biasanya singkat.

Maaf, tadi bantu Ibu.

Maaf, ketiduran.

Maaf, belum sempat buka handphone.

Gue tidak pernah mempermasalahkannya.

Setelah semua yang terjadi, rasanya tidak adil meminta lebih.

Jadi gue memilih diam.

Memberi ruang.

Menunggu.

Meski ternyata menunggu tetap tidak terasa mudah.

Di sekolah, gue masih sering melihatnya.

Di lorong maupun di depan perpustakaan.

Dia masih membawa buku ke mana-mana. Masih merapikan rambutnya ke belakang telinga saat sedang berpikir.

Tapi ada bagian dari dirinya yang tidak kembali setelah malam di rumah sakit itu.

Dan gue tidak tahu apakah bagian itu akan kembali suatu hari nanti.

Sore itu, saat pulang sekolah, gue melihat Selly berdiri di dekat gerbang.

Ibunya datang menjemput.

Mereka berbicara sebentar sebelum berjalan keluar gerbang.

Di tengah langkahnya, Selly sempat menoleh.

Lihat selengkapnya