Begitulah kisah masa SMA gue.
Sebuah cerita yang dimulai dari ruang BK, melewati perpustakaan, lalu berhenti terlalu lama di sebuah stasiun.
Kalau dipikir sekarang, semuanya terasa seperti kehidupan orang lain.
Padahal setiap detailnya masih gue ingat.
Rumah eyang pagi ini masih ramai oleh keluarga yang datang silih berganti.
Suara obrolan memenuhi ruang tengah. Anak-anak berlarian dari satu sudut ke sudut lain. Di meja makan, piring-piring kotor mulai bertambah lebih cepat daripada jumlah orang yang mau membereskannya.
Lebaran selalu seperti itu.
Berisik.
Tapi menyenangkan.
Gue duduk di salah satu kursi ruang tengah sambil menikmati kekacauan yang sudah berlangsung sejak tadi.
Sampai perhatian gue tertuju pada seorang anak kecil berumur tiga tahun yang berlari sambil membawa bola.
Langkahnya pendek-pendek.
Cepat.
Tidak terarah.
Persis seperti anak-anak pada umumnya.
Seseorang mengejarnya dari belakang.
Selly dengan gamis hijaunya.
Anak kecil itu berbelok mengitari meja.
Selly mengikuti.
Beberapa kali hampir berhasil menangkap.
Beberapa kali sengaja membiarkannya lolos.
Tawa mereka terdengar bersamaan.
Membuat beberapa orang dewasa ikut tersenyum melihat tingkah keduanya.
Anak kecil itu akhirnya berhenti di tengah ruangan.
Napasnya tersengal.
Bola masih dipeluk erat di dadanya.
Selly ikut berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Lalu anak kecil itu menoleh.
Matanya langsung berbinar.
"Papa!"
Ia berlari ke arah gue tanpa ragu.
Beberapa orang yang mendengar hanya melanjutkan aktivitas masing-masing.
Anak kecil itu menyodorkan bola yang sedari tadi dibawanya.
"Papa ini bolanya!"
Gue menerima bola itu lagi.
Ia terlihat puas.
Sangat puas.
Seakan baru saja menyelesaikan tugas penting.
Tak lama kemudian, perhatiannya sudah berpindah ke hal lain.
Ia kembali berlari menuju halaman belakang.
Bola itu sekarang ada di tangan gue lagi.
Sementara Selly berdiri tidak jauh dari sana.
Pandangan kami sempat bertemu.
Lalu sama-sama tersenyum kecil melihat tingkah anak kecil tadi.
Sesederhana itu.
Di sekitar kami, rumah tetap ramai.
Suara tawa masih terdengar dari ruang makan.
Beberapa sepupu sedang sibuk berfoto.
Anak-anak terus berlarian keluar masuk rumah tanpa merasa lelah.
Sampai akhirnya pikiran gue terlempar kembali ke masa-masa setelah kejadian di stasiun, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Masa yang selama bertahun-tahun selalu gue hindari untuk diingat.
Saat itu minggu terakhir sekolah.
Tinggal menunggu pembagian rapor hari Jumat dan acara perpisahan untuk kelas dua belas.
Acara perpisahan yang harusnya dihadiri oleh Selly dan ayahnya.
Di suatu pagi saat ruang kelas setengah kosong, anak-anak lain masih disibukkan dengan sisa pertandingan class meeting yang selalu menjadi acara rutin menjelang libur sekolah.
Kelas-kelas saling diadu lewat berbagai cabang olahraga: futsal, basket, tarik tambang, dan macam-macam pertandingan lain.
Tim futsal kelas gue, yang diperkuat Roni sebagai striker andalan, berhasil masuk final. Sayangnya gue cuma bisa melihat dia berjuang di lapangan dari balik jendela kelas lantai dua.
Di bawah sana, tim kami sedang tertinggal dua gol tanpa balas dari anak kelas tiga.
Sedikit menyesal juga rasanya.
Karena dari awal sebenarnya Roni sudah mengajak gue untuk ikut.
Tapi gue cuma bilang,
"Kayaknya gue nggak mau ngapa-ngapain dulu, Ron."
Jadilah gue cuma berdiri di dekat jendela, sementara Roni mati-matian menghadapi anak-anak kelas tiga.
Lalu gue menyerah memperhatikan pertandingan.
Gue kembali ke meja, duduk, dan menjatuhkan badan begitu saja di atas permukaan kayu yang sudah penuh coretan angkatan-angkatan sebelumnya.
Mata gue terpejam.
Bukan karena benar-benar ngantuk.
Cuma ada rasa lelah yang sulit dijelaskan.
Seolah kepala gue terlalu penuh untuk terus diajak berpikir.
Kesadaran gue perlahan mengambang.
Mungkin juga karena posisi itu terasa terlalu akrab.
Dulu, sebelum mengenal Selly, gue sering tidur seperti ini di kelas.
Jadi begitu badan menyentuh meja, otak gue langsung menganggap sudah waktunya istirahat.
Di tengah setengah sadar itu, pikiran gue kembali menuju orang yang sama.
Selly.
Padahal dia cuma hadir beberapa bulan di hidup gue.
Tapi anehnya, bekas yang ditinggalkan terasa jauh lebih lama daripada itu.
Sebelum kenal dia, gue adalah tipe murid yang gampang tidur di kelas, malas belajar, dan sering menganggap guru cuma suara latar yang kebetulan berdiri di depan papan tulis.
Lalu Selly datang.
Dan tanpa gue sadari, banyak hal berubah.
Gue mulai memperhatikan pelajaran.
Mulai menghargai guru yang sedang mengajar.
Bahkan berhenti tidur saat jam kelas berlangsung.
Kalau dipikir sekarang, gue senang pernah menjadi versi diri yang seperti itu.
Karena setidaknya, untuk beberapa waktu, gue pernah berusaha menjadi lebih baik.
Masalahnya, setelah Selly pergi, semuanya seperti berjalan mundur.
Gue kembali tidur di kelas.
Kembali kehilangan semangat.
Kembali menjadi Arda yang dulu.
Seharusnya gue nggak boleh menjadi begini lagi.
Setidaknya dengan kehadiran Selly, meskipun sesaat, seharusnya membuat gue jadi lebih baik.
Tapi ingatan-ingatan itu memang tidak pernah benar-benar pergi.
Saat itu gue belajar menghayati perasaan yang ada dan menerimanya, meskipun terasa berat dan sedih.
Bahkan setelah bertahun-tahun, kadang-kadang muncul begitu saja. Datang tanpa permisi. Seperti sekarang ini.
Sampai akhirnya perhatian gue kembali ke ruang tengah rumah eyang.
Selly yang sekarang berdiri tidak jauh dari gue mendongak ke arah halaman belakang, memastikan anak kecil tadi tidak membuat masalah baru.
Rambut bergelombangnya yang jatuh di sisi wajah kembali turun menutupi pipinya.
Seperti biasa, ia menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang sudah sangat gue ingat betul.
Kemudian ia berjalan menuju halaman belakang.
Gue hanya memperhatikannya dari tempat duduk gue.
Dan tanpa sadar, ingatan gue kembali tertarik ke hari ketika gue tertidur di kelas.
Hari itu gue bermimpi bertemu Selly di sebuah pantai.
Gue masih mengingatnya dengan jelas.
Mimpi itu cukup membekas di ingatan gue setelah kejadian di stasiun.
Mungkin karena waktu itu gue masih terlalu larut memikirkan Selly. Jadi tanpa permisi, dia terus muncul di alam bawah sadar gue.
Yang gue ingat, di mimpi itu kami sepertinya sudah lulus SMA. Sedikit lebih dewasa. Mungkin sedang menjalani masa-masa awal kuliah.
Anehnya, alur dan latar tempatnya tersimpan sangat jelas di kepala gue.
Padahal biasanya mimpi cepat memudar begitu kita bangun. Kalau pun masih tersisa, bentuknya sudah berantakan. Tempatnya berubah-ubah, waktunya tidak masuk akal, dan kejadian di dalamnya sering kali saling bertabrakan.
Tapi tidak dengan mimpi itu.
Gue berada di sebuah pantai berpasir putih yang diapit hutan hijau dan laut biru jernih.
Di kejauhan tampak beberapa bukit kecil, berdiri di bawah langit sore yang perlahan berubah keemasan.
Matahari mulai turun di belakangnya, seolah sedang berjalan pelan menuju laut untuk tenggelam di ujung cakrawala.
Semua terasa begitu nyata.
Telapak kaki gue bisa merasakan butiran pasir yang halus.
Angin laut menyentuh kulit dengan lembut.
Sementara hangat matahari sore jatuh tepat di wajah gue.
Lalu dari arah yang tidak gue duga, Selly muncul.
Dia mengenakan dress hijau sage. Rambutnya masih pendek seperti terakhir kali gue melihatnya.
"Arda?"
Gue menoleh.
Kaget.
Dan anehnya, gue sama sekali tidak sadar sedang bermimpi.
Perasaan yang gue bawa dari dunia nyata masih ada di sana. Rasa kehilangan itu masih mengikuti gue sampai ke pantai tersebut.
"Selly?"
Gue menatapnya beberapa detik.
"Bukannya kamu..."
Kalimat gue terhenti.
Tadinya gue ingin bilang kalau dia sudah pergi ke Yogyakarta.
Tapi entah kenapa kata-kata itu tidak bisa keluar.
Seolah ada bagian ingatan yang hilang tepat saat gue hendak mengucapkannya.
Selly hanya menggeleng pelan.
Lalu meraih tangan kanan gue dengan tangan kirinya.
"Aku di sini kok."
Sederhana.
Tapi saat itu, kalimat tersebut terasa cukup untuk membuat semua kebingungan gue menghilang.
Tangannya terasa hangat.
Bahkan lebih hangat daripada sinar matahari sore yang menyentuh wajah gue.
Kami berjalan menyusuri pantai tanpa tujuan yang jelas.
Berdampingan.
Sesekali ombak datang menyapu pasir, membasahi kaki kami dengan air laut yang dingin.
Suara deburnya mengikuti langkah kami.
Kadang lembut.
Kadang pecah saat menghantam karang hitam yang berdiri di salah satu ujung pantai.
“Lucu ya kalau diingat-ingat lagi. Aku ketemu kamu baru beberapa bulan, tapi rasanya sudah jadi chapter paling berkesan dalam hidup aku,” jelas gue.
“Memang kenapa berkesan?” tanya Selly di dalam mimpi itu.
“Ya, yang tadinya aku suka tidur di kelas, jarang bangun pagi, atau malas belajar karena nganggep semuanya sepele. Kecuali futsal sih. Terus setelah kamu datang, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.”
Selly tersenyum tipis.
“Hmm, ya bagus deh kalau begitu. Tapi nanti pas aku pergi, kamu balik lagi dong? Jadi Arda yang sebelum ketemu aku?”
DEG!
Tubuh gue sempat bergetar meskipun sedang tertidur.
Sebagian diri gue seperti hampir terbangun dari mimpi itu. Tapi keberadaan Selly di depan gue membuat gue bertahan sebisa mungkin agar tidak kembali ke dunia nyata.
“Iya sih,” jawab gue pelan.
“Seharusnya kamu berubah untuk diri kamu sendiri,” katanya lembut. “Jangan cuma karena aku datang.”
Gue hanya mengangguk.
Pikiran gue kembali ke rumah eyang di hari Lebaran, tepatnya sudah di halaman belakang rumah eyang.
Selly masih sibuk mengurusi anak kecil yang sejak tadi berlarian tanpa kenal lelah.
Beberapa tante gue duduk tidak jauh dari sana sambil mengobrol dan sesekali tertawa bersama.
Gue mengambil segelas sirup jeruk dari meja, lalu memutuskan menghampiri mereka.
“Kamu dari tadi nggak ada habis-habisnya ya energinya,” kata gue membuka obrolan dengan anak kecil itu.
Selly hanya tersenyum mendengarnya.
“Iya, Papa!”
Salah satu tante yang sedang mengobrol di dekat kami langsung menoleh.
“Heh, Athar! Arda itu bukan papa kamu!” katanya sambil tertawa. “Maaf ya, Da. Namanya juga anak kecil, suka ngasal manggil orang.”
“Hahaha, iya nggak apa-apa, Tante,” jawab gue santai.
Memang gue bukan ayah dari anak itu, meskipun sejak tadi dia terus memanggil gue papa, gue membiarkannya saja.
Di umur yang sebentar lagi memasuki kepala tiga dan selalu disibukkan kerjaan kantor, gue juga belum menemukan orang yang tepat.
Setelah dulu sempat jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Selly yang sekarang berdiri di depan gue.
Selly menggendong anak itu menuju lapangan kecil di halaman belakang, kembali meninggalkan gue yang akhirnya cuma berdiri di teras sambil memegangi segelas sirup jeruk.
Mereka bermain di tengahnya.
Berlari beberapa langkah.
Berhenti.
Lalu tertawa lagi karena hal-hal sederhana yang mungkin cuma dimengerti oleh mereka berdua.
Sesekali suara percakapan mereka terbawa angin sampai ke tempat gue berdiri.
"Mama nanti mau beli mainan lagi!"
Suara anak lelaki itu terdengar cukup jelas.
Selly menjawabnya dengan suara lebih pelan. Gue tidak menangkap kata-katanya. Yang terlihat hanya kepalanya yang mengangguk beberapa kali.
Pemandangan itu membuat pikiran gue kembali melayang ke mimpi pantai yang sempat teringat tadi.
Setelah berjalan cukup lama, gue dan Selly berhenti.
Di depan kami, laut terbentang luas tanpa ujung yang terlihat.
Sekelompok burung camar bermain di atas permukaan air, bergerak ke sana kemari mengikuti arah angin. Sesekali mereka menukik rendah, nyaris menyentuh ombak sebelum kembali terbang tinggi.
Suara pekik mereka bercampur dengan debur laut yang terus bergerak menuju pantai.
Selly duduk lebih dulu di atas pasir.
Ia memeluk kedua lututnya sambil menatap garis cakrawala di kejauhan.
Gue mengambil tempat di sampingnya dengan posisi yang hampir sama.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Angin laut berembus pelan, memainkan ujung rambut pendek Selly. Sementara ombak terus datang silih berganti, pecah di bibir pantai, lalu kembali ditarik ke tengah laut.
Kami terdiam cukup lama.
Anehnya, tidak terasa canggung.
Lebih mirip dua orang yang sudah mengetahui isi hati masing-masing, tapi belum siap diucapkan dengan suara keras.
"Lucu ya."
"Apa?" tanyanya.
"Gue baru sadar beberapa bulan ternyata bisa terasa panjang banget."
Selly tidak langsung menjawab.
"Pas pertama kali ketemu lu di depan ruang BK, rasanya kayak baru kemarin." Gue tersenyum kecil. "Tapi kalau diingat-ingat lagi, banyak banget yang kejadian."
Ombak datang lalu pecah di depan kami.
"Gue gagal beasiswa."
"Hmm."
"Ayah dan keluarga lu."
Selly menunduk sebentar.
"Rumah sakit."
Kali ini dia tidak menjawab.
"Gue sempat mikir semua itu terjadi dalam waktu yang lama." Gue menggeleng pelan. "Padahal sebenarnya cuma beberapa bulan."
"Karena beberapa orang bikin waktu terasa berbeda," balas Selly.
Gue menoleh.
Selly masih memandang laut.
"Maksudnya?"
Dia tersenyum kecil.
"Ada orang yang ketemu bertahun-tahun tapi nggak meninggalkan apa-apa."
"Lalu?"
"Ada juga yang cuma sebentar, tapi diingat terus."
Angin kembali lewat di antara kami.
"Sekarang lucunya..." Gue tertawa kecil. "Rasanya kayak semuanya sudah selesai."
Selly mengangkat alis.
"Selesai?"
"Iya."
"Garis akhirnya sudah kelihatan."
Selly diam.
Gue memandang laut yang terus bergerak tanpa henti.
"Lihat laut itu."
"Hmm."
"Ombaknya datang terus."
"Iya."
"Padahal dia tahu nggak bakal pernah bisa melewati pantai."
Selly menoleh pelan ke arah gue.
"Mungkin memang bukan itu tujuannya."
Gue mengernyit.
"Loh?"
"Mungkin laut nggak datang buat melewati pantai."
"Lalu?"
Selly menatap garis tempat ombak pecah menjadi buih putih.
"Mungkin laut cuma datang karena itu satu-satunya cara dia bisa dekat dengan daratan."
Gue terdiam.
Untuk beberapa saat, yang terdengar hanya suara ombak yang bergulung ke pantai.
"Kalau dipikir-pikir..." Gue tersenyum tipis. "Kasihan juga ya laut."
"Kenapa?"
"Dia terus datang."
"Iya."
"Terus berusaha mendekat."
Selly menunggu gue melanjutkan.
"Tapi nggak pernah benar-benar sampai."
Selly tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Lebih seperti seseorang yang baru mendengar sesuatu yang sudah lama ia pahami.
"Menurut kamu pantai itu apa?"
Gue berpikir sebentar.
"Batas."
Selly menggeleng.
"Bukan."
"Lalu?"
"Kebanyakan orang melihat pantai sebagai pemisah."
Dia menunjuk garis tempat laut dan daratan bertemu.
"Padahal itu satu-satunya tempat mereka bisa saling menyentuh."
Gue mengikuti arah jarinya.
Ombak kembali menyapu pasir sebelum perlahan ditarik mundur.
Lalu datang lagi.
Tidak pernah menetap.
Tapi juga tidak pernah benar-benar pergi.
"Mungkin kita memang mirip laut dan daratan."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut gue.
Selly tidak membantah.
Tidak mengiyakan.
Dia hanya memandang cakrawala yang perlahan berubah jingga.
"Sayang ya."
"Apa?"