Hari Senin telah tiba, hari ketika setiap sekolah melaksanakan upacara bendera, termasuk SMA Adiwangsa Nusantara.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Seluruh murid berlari menuju lapangan untuk mengikuti upacara.
"Malas banget gue upacara," ujar Kenzo dengan nada malas.
"Malas mulu hidup lo!" sahut Rafa.
Zayn hanya diam, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lapangan. Melihat Zayn melangkahkan kakinya keluar kelas, Rafa dan Kenzo mengikutinya dari belakang.
"Eh, Zayn, tungguin kita!" seru Rafa dan Kenzo.
Seluruh siswa sudah berbaris rapi sesuai dengan kelasnya masing-masing.
Di barisan kelas IPA 1, ada seorang gadis bermata teduh dengan setengah wajahnya tertutup kain. Ia adalah Zaviera.
Mata Zaviera memandang lurus ke depan menghadap tiang bendera. Tak sengaja tangannya bergerak merogoh saku roknya.
Sebuah lap kecil.
"Eh, ini kan lap punya cowok itu," ucap Zaviera pelan sambil memegang lap kecil di dalam saku roknya.
"Untung sudah aku cuci. Nanti aku kembalikan, deh. Eh, tapi kan aku enggak tahu nama dia, kelas berapa juga aku enggak tahu," ujarnya masih dengan nada pelan.
"Jangan ada yang bicara!" tegur salah satu petugas PKS dari belakang barisan kelasnya.
Mendengar itu, Zaviera langsung mengambil posisi siap dengan mata kembali tertuju ke depan.
Sementara itu di barisan kelas lain, yaitu kelas IPA 2, seorang lelaki berpostur tubuh tinggi sekitar 175 cm dengan wajah bersih serta dagu terbelah juga menatap lurus ke arah tiang bendera.
Lain halnya dengan Kenzo, ia sibuk meminjam topi milik temannya karena lupa membawa topi.
"Akbar, gue pinjam topi lu, dong!" ucap Kenzo.
"Lah, terus gue pakai apaan?" sahut Akbar.
"Ya lo enggak usah pakai topi," ucap Kenzo dengan cengirannya.
"Yang atributnya tidak lengkap, harap maju ke tengah lapangan!" imbau petugas PKS.
Kenzo yang kebingungan pun dengan pasrah maju ke tengah lapangan, diikuti beberapa siswa lain yang atributnya juga tidak lengkap.
Zayn masih setia menatap tiang bendera di depan sana. Saat tak sengaja melirik ke kiri—ke barisan kelas IPA 1—ekor matanya menangkap sosok gadis bercadar.
Selama lima detik, pandangan itu beralih kembali menatap lurus ke depan. Gadis di samping Zayn menyadari arah pandangan Zayn yang ternyata tertuju ke arah Zaviera.
Jangan sampai Zayn suka sama tuh anak, ucap Selly dalam hati.
"Aduh, kepala gue pusing," ucap Selly sambil memegang kepalanya.
"Lo kenapa, Sel?" tanya Rara.
"Kepala gue pusing," ucap Selly sambil bermain mata kepada Rara.
Rara yang paham pun menyunggingkan senyumnya. "O... oh!"
"Aduh!" ringis Selly sambil menyandarkan badannya ke arah Zayn.
"Apaan, sih, lo?" ucap Zayn sedikit menggeser badannya agar tidak bersentuhan dengan Selly.
Semua mata siswa kelas IPA 2 tertuju ke arah Selly dan Zayn.
"Kepala gue pusing, Zayn. Tolong antar gue ke UKS, ya," pinta Selly dengan raut memelas.
"Dito, nih ada orang sakit," panggil Zayn kepada salah satu petugas PKS.
"Ih, kok manggil Dito, sih? Aku kan maunya sama kamu," ucap Selly genit.
Dito pun datang dan langsung membawa Selly ke UKS. Gagal sudah rencana Selly.
•••
Jam istirahat tiba, seluruh siswa berbondong-bondong menuju kantin.
Saat Zaviera hendak menuju perpustakaan, Selly datang bersama Rara.