"Makasih ya, lo udah mau nolongin gue," ucap Nadin.
"Iya, sama-sama," sahut pria itu.
Di sini, di sebuah apartemen yang berkesan mewah, pria itu membawa Nadin ke apartemennya.
"Kalau lo mau, lo bisa tinggal di sini," ucap pria itu kembali.
Mereka duduk berdampingan di sebuah sofa yang terdapat di dalam apartemen ini.
"Lo... beneran?" tanya Nadin sedikit gugup.
"Ya."
"Makasih banyak, ya."
"Btw, kalau gue tinggal di sini, lo di mana?" tanya Nadin.
"Ya gue tinggal di rumah gue, lah. Apartemen ini cuma sesekali gue tempatin."
"Oh, gitu, ya."
Keadaan kembali canggung. Pria itu kembali membuka ponselnya dan memainkan gim daring yang ada di dalamnya.
Gadis berkaos abu-abu dan bermodel celana kulot hitam itu hanya diam. Jarinya mengetuk-ngetuk paha, sementara matanya sesekali melirik ke arah pria itu. Tanpa disadarinya, senyum tipis terbit di bibirnya.
Ganteng, batin Nadin.
•••
"Eh, itu kan punya gue, dodol! Ngapa lo ambil, sih?" ucap Kenzo sedikit berteriak.
"Bagi dikit, kali. Pelit amat jadi orang!" sahut Rafa.
Mereka berada di rumah Zayn, lebih tepatnya di kamar Zayn. Mereka memang sering main ke rumah Zayn atau rumah salah satu di antara mereka.
Orang tua Zayn pun tidak keberatan dengan kehadiran dua teman anaknya.
"Beli sendiri kenapa, sih? Lo kan orang kaya!" ucap Kenzo.
"Berisik kalian!" sulut Zayn.
"Ini, nih, Rafa ngambil jajan gue!"
"Jajan lo peang! Ini dari Zayn, kali!" sewot Rafa.