Karpet lantai berwarna hijau zamrud, senada dengan kain laken pada meja billiar. Dindingnya menggunakan warna warna bumi, seperti krem atau abu-abu muda.
Disalah satu dinding utama terdapat aksen kayu dengan ukiran kaligrafi geometris, yang minimalis, memberikan kesan artistik tanpa terlihat seperti tempat ibadah formal.
Berbeda dengan tempat biliar yang biasanya remang-remang dan penuh asap, tempat ini menggunakan lampu gantung industri dengan cahaya kuning hangat yang terang namun lembut di mata.
Disini. Disebuah tempat billiar yang bernama 'Mizan Billiar'.
Zayn, dan kedua teman nya sedang menghabiskan waktu weekend nya disini.
Zayn sangat menyukai billiar. Hampir setiap weekend dirinya selalu mengunjungi tempat ini.
"Cape gue" keluh Kenzo sambil meregangkan otot-otot nya.
"Lo mah gak heran" sahut Rafa
Zayn masih fokus dengan stik billiar ditangannya.
"Zayn, udahan yok" ajak Kenzo
"Apaan sih lo, baru juga bentaran" sahut Rafa sambil mengambil kembali stik billiar nya.
"Apasih, gue gak ngomong sama Lo ya"
Rafa hanya diam sambil mengedikkan bahunya dan tak niat untuk menanggapi teman nya satu ini.
Merasa tak dihiraukan dengan kedua teman nya. Kenzo berjalan kesebuah meja yang terdapat empat kursi didekat meja billiar mereka.
Kenzo pun mendudukkan dirinya disitu, dan diam memperhatikan kedua teman nya yang masih asik dengan kegiatan nya.
Udara terasa segar karena adanya larangan merokok di dalam area utama. Aroma ruangan didominasi oleh wangi kayu gaharu atau kopi yang baru diseduh dari kafe kecil di sudut ruangan.
Para pemain saling menyapa dengan sopan. Tidak terdengar teriakan kasar atau taruhan uang yang mencolok. Suasana persaudaraan lebih terasa daripada persaingan yang panas.
Tidak ada musik yang menghentak. Suara yang terdengar adalah dentingan bola biliar yang beradu dan obrolan rendah para pemain. Saat waktu salat tiba, musik latar berhenti sepenuhnya dan suara azan terdengar jernih dari pengeras suara internal.
Tak terasa suara adzan ashar sudah terdengar. Membuat semua pemain disini menghentikan permainan mereka. Begitu pun dengan Rafa dan Zayn.
"Adzan, sholat dulu" ucap Zayn sambil meletakkan stik billiar ketempat nya.
"Iyah,yok" sahut Rafa
"Mau sholat" tanya Kenzo
"Yaiyahlah" sahut Rafa
"Biasa aja kali"
Mereka bertiga pun melangkahkan kaki nya kesebuah musholla yang ada ditempat billiar nya.
Musholla tidak diletakkan di pojok tersembunyi, melainkan memiliki akses yang mudah dan terlihat bersih dengan aroma minyak wangi yang khas, menjadi pengingat bagi pengunjung untuk tetap menjaga kewajiban di tengah hobi.
Semua pemain disini berbondong bondong memasuki tempat wudhu.
Setelah itu mereka melaksanakan sholat, dengan Zayn yang inisiatif untuk menjadi imam.
•••
"Laper banget gue" ucap Kenzo dengan wajah melasnya.
"Iyah, gue juga" sahut Rafa
"Makan dulu ayo Zayn" ajak Kenzo
"Hmm"
Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin dengan Kenzo yang sesekali menyapa pengunjung disini.
Kantin ini menyediakan camilan, aneka nasi, dan minuman seperti kurma shake, teh talua, atau kopi rempah, menggantikan imej minuman keras yang biasanya identik dengan arena biliar internasional.