Seorang pria berjalan dengan santainya di koridor sekolah, dengan kedua mata memandang lurus ke arah depan dan tas ransel hitam yang hanya disangkutkan di bahu kirinya. Dirinya berjalan menuju ruang guru.
Aryan Alarick, seorang siswa pindahan dari SMA Mutiara.
"Permisi," ucap Aryan setelah sampai di depan pintu ruang guru.
"Iya. Aryan, kan?" tanya Bu Ranti selaku guru BK.
"Iya," jawab Aryan seadanya.
"Ayo, saya antar kamu ke kelas."
Wanita tersebut mengajak Aryan menuju tempat yang sebentar lagi akan menjadi kelasnya. Aryan berjalan di samping wanita tersebut.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di depan kelas 12 IPA 1.
"Permisi, Bu," ucap Bu Ranti kepada guru yang ada di dalam kelas itu.
"Iya, Bu Ranti."
"Ini, Bu, murid baru yang saya ceritakan."
"Oh iya, silakan masuk," ucap Bu Nina mempersilakan Aryan masuk ke dalam kelas.
Aryan pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kelas yang berukuran lumayan besar ini.
"Kalau begitu saya pamit ya, Bu."
"Iya, Bu."
"Oh iya, silakan perkenalkan nama kamu," ucap Bu Nina mempersilakan Aryan memperkenalkan dirinya.
"Hai, kenalin nama gue Aryan Alarick. Gue pindahan dari SMA Mutiara. Kalian bisa panggil gue Aryan."
"Baik, Aryan. Kamu bisa duduk di belakang Zaviera."
Merasa bingung, Aryan mengerutkan alisnya dan melihat ke arah guru yang ada di sampingnya.
"Oh iya, maaf. Zaviera, tolong angkat tangan kamu."
Zaviera yang sedari tadi sibuk menulis, mendengar namanya dipanggil langsung mengalihkan pandangannya ke depan.
"Iya, Bu."
"Itu Zaviera, kamu bisa duduk di belakangnya."
Setelah mengetahui hal itu, Aryan langsung melangkahkan kakinya menuju bangku di belakang Zaviera.
"Buset, ganteng banget tuh orang!"
"Bisa kali..."
"Masih gantengan juga gue."
Kira-kira begitulah ucapan para siswa di dalam kelas ini.
Saat sudah dekat dengan bangku Zaviera, Aryan menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Zaviera. Zaviera yang merasa dirinya ditatap hanya menundukkan pandangannya tanpa berniat menatap Aryan kembali.