"Loh, lo baru pulang sekolah?" tanya Nadin.
"Iya," jawab pria itu sambil berjalan masuk menuju sofa.
"Lo jadi masuk sekolah yang lo bilang kemarin?"
"Jadi," jawab pria itu sambil membuka sepatu di kedua kaki jenjangnya. Setelah itu, ia menyandarkan kepalanya di bahu sofa sambil memijat pelipisnya.
"Kenapa? Kepala lo pusing?" tanya Nadin yang duduk di hadapan pria itu.
"Iya, pusing banget kepala gue," ujarnya sambil terus memegang pelipisnya.
"Ya udah, sebentar ya, gue ambilin minum sama obat dulu."
Nadin beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum serta obat untuk pria tersebut. Pria itu diam sambil memperhatikan Nadin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Selang waktu lima menit, Nadin kembali dengan tangan kanan memegang cangkir berisi air putih dan tangan kiri memegang satu tablet obat.
"Nih, diminum dulu," ucapnya sambil memberikan minum serta obatnya.
"Makasih."
Pria itu langsung mengambil keduanya dan menenggak obat tersebut.
"Lo kenapa enggak langsung pulang ke rumah aja?" tanya Nadin sedikit ingin tahu.
"Gak apa-apa, lagi pengin ke apartemen aja."
"Oh..."
Keadaan kembali senyap. Keduanya tidak saling bertukar pertanyaan. Pria itu masih setia dengan posisinya sambil terus memegang pelipisnya, sedangkan Nadin duduk di hadapan pria itu sambil terus menatapnya.
•••
Zaviera memasuki gang rumahnya. Dari arah ia berjalan, rumahnya sudah tampak sangat jelas, membuat Zaviera semakin tidak sabar untuk memasukinya.
"Assalamu'alaikum," salam Zaviera.
Tidak ada suara sahutan, dan tampaknya rumah juga sedang kosong.
"Kok sunyi banget ya? Pintu juga enggak dikunci."
Zaviera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan menutup kembali pintunya dengan rapat.
"Ibu... Ayah..." panggil Zaviera.
Beberapa kali Zaviera memanggil kedua orang tuanya, tetapi tetap tidak ada jawaban dari sang empu.
"Apa lagi keluar, kali ya? Ya udah deh, aku mau ke kamar aja dulu."
Zaviera melangkahkan kakinya ke dalam kamar, mengganti baju, serta mandi untuk melaksanakan salat Zuhur.
•••
Seorang pria berkaos koko bersandar di tempat tidurnya dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Zayn, pria itu baru saja melaksanakan salat Zuhur. Pikirannya terus tertuju kepada seorang pria yang ia lihat dari kejauhan.
Apa dia orang itu, ya? tanya Zayn kepada dirinya sendiri di dalam hati.
Buat apa dia kembali lagi?