Malam merayap perlahan, membawa serta selimut bertabur bintang yang membentang luas. Cahaya bulan keperakan tumpah menerangi jalanan sepi, memantulkan pendar lembut pada dedaunan yang basah oleh embun tipis.
Zaviera melangkahkan kakinya menuju warung terdekat untuk membeli sebungkus mi instan guna mengganjal perutnya malam ini.
Kebetulan di rumahnya sedang tidak ada makanan, jadi ia berinisiatif membeli mi ke warung.
Disaat Zaviera melangkahkan kakinya, datang dua orang pria berbadan cukup besar yang menghadang di depannya.
"Ets, mau ke mana, Cantik?" tanya pria itu.
"Siapa kalian?" tanya Zaviera penuh ketakutan.
Bagaimana dirinya tidak takut? Suasana cukup sepi, hanya ada dirinya dan dua preman yang ada di hadapannya ini.
"Jangan takut gitu, dong. Ikut kita, yuk!"
"Enggak! Sana!"
"Galak amat, Neng. Kayaknya kamu cantik ya, sampai wajah kamu aja kamu tutupin kayak gitu."
"Ayo ikut kita!" ucapnya sambil menarik tangan Zaviera.
Zaviera yang terkejut langsung berusaha melepaskan tangannya dari pria itu dan berteriak sekencang mungkin.
"Tolonggg!" teriak Zaviera cukup keras.
"Teriak aja sekencang mungkin, enggak bakalan ada juga yang dengar!"
Di saat kedua orang itu berusaha menarik Zaviera, seseorang datang menendang salah satu preman tersebut.
Bugh!
Suara tendangan mengenai punggung belakang pria berbadan besar itu.
"Sshh..." ringisnya.
"Siapa lo?" ucap pria yang satunya.
"Mau main-main kayaknya nih orang sama kita!"