Zayn bersama kedua temannya menuju ke ruang kelas mereka.
Dari kejauhan, Zayn melihat Aryan yang sudah berdiri sambil bersandar di dinding samping kelasnya dengan bersedekap dada dan mata memandang tajam ke arah dirinya.
Saat sudah di depan kelas, Zayn melangkahkan kaki untuk masuk. Namun, suara Aryan menghentikan langkah kaki Zayn dan kedua temannya.
"Heh, pembunuh!" ucap Aryan.
"Pembunuh?" gumam Rafa dan Kenzo yang tidak mengerti maksud ucapan Aryan.
"Maksud lo pembunuh apaan?" tanya Rafa dengan alis berkerut.
"Ck, ternyata kalian berdua belum tahu, ya?"
"Maksudnya?" tanya Kenzo.
"Kalian masuk duluan," perintah Zayn kepada kedua temannya.
Melihat raut wajah Zayn yang dingin serta nada bicara yang sudah tidak bersahabat, mereka memilih meninggalkan Zayn dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka.
Melihat hal itu, Aryan tersenyum miring dan tertawa sinis bak musuh terhadap lawannya.
"Mau sampai kapan lo melarikan diri dari masalah?" ucap Aryan.
"Saya tidak ada masalah. Yang membuat masalah itu kamu sendiri," jawab Zayn santai.
Mendengar jawaban Zayn, Aryan tidak terima dan langsung menarik kerah baju Zayn.
"Branding lo doang ngerti agama, tapi kelakuan lo sudah kayak iblis!"
Tak terima, Zayn langsung melepas paksa tangan Aryan dari kerah bajunya.
"Tidak usah membawa-bawa agama saya. Kamu tidak tahu kehidupan saya seperti apa."
"Cih, sok suci banget lo jadi orang!"
"Mau sampai kapan lo kabur-kaburan terus?" lanjut Aryan.
"Kabur? Saya tidak pernah kabur karena itu memang bukan kesalahan saya. Malam itu saya melihat dia ditabrak oleh seseorang. Saya ingin mengejarnya, tapi dia langsung kabur. Jadi, saya berinisiatif menolongnya saja," jelas Zayn.
"Banyak bacot lo! Lo kira gue bakal percaya sama omongan basi lo itu?"