Sepulang sekolah, Zayn mengajak kedua temannya untuk singgah sebentar di sebuah kafe. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada mereka mengenai Bimo dan adik-adik yang lain.
"Tumben amat lo, Zayn, ngajak kita ke kafe habis pulang sekolah gini," ujar Rafa sambil menarik sebuah kursi.
"Iya, nih. Ada apaan? Tumben-tumbenan," sahut Kenzo.
Zayn menatap kedua temannya bergantian, lalu menarik napas perlahan. "Gue mau mindahin anak-anak ke panti asuhan," ucap Zayn dengan tatapan meyakinkan.
Kenzo menatap Rafa sejenak sebelum berujar, "Kan kita udah pernah nyoba bujuk mereka buat tinggal di sana, tapi mereka selalu menolak."
"Iya. Lagian kenapa tiba-tiba lo mau mindahin anak-anak ke panti asuhan?" tanya Rafa.
Zayn hening sejenak, memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia meraih gelas minumannya, lalu meneguk isinya dalam satu tarikan napas.
"Gak apa-apa. Gue cuma ngerasa mereka bakal lebih aman di sana."
"Yaudah, kita mah ikut aja. Ya gak, Fa?" ucap Kenzo.
"Iya," angguk Rafa. "Rencananya kapan lo mau bawa mereka pindah?"
"Nanti sore. Gue mau siap-siap dulu. Gue balik sekarang ya, nanti gue hubungin kalian lagi."
Setelah mengatakan itu, Zayn beranjak meninggalkan kedua temannya dan bergegas keluar dari kafe.
Namun, saat hendak menaiki sepeda motornya, Zayn menangkap sosok seorang pria yang duduk di atas motor dari seberang jalan. Pria itu terus mengawasinya.
Zayn menatap tajam ke seberang jalan, dan pandangan mereka pun saling bertaut. Aryan?
Mau apa lagi dia? batin Zayn gusar.
Aryan yang sadar sedang ditatap hanya menyunggingkan senyum tipis, lalu segera memacu sepeda motornya pergi.
Tak ingin ambil pusing, Zayn bergegas mengendarai motornya menuju rumah.
"Halo, Adik-adik!" sapa Zaviera ramah kepada empat anak kecil di hadapannya—Bimo dan teman-temannya.
"Halo, Kakak Cantik!" sahut mereka serentak.
"Kalian apa kabar?" tanya Zaviera sambil membongkokkan badan, menyejajarkan tingginya dengan anak-anak itu.
"Kami baik, Kak. Kakak sendiri apa kabar? Kami kangen banget tahu!" ucap Lili dengan bibir mengerucut.
"Kakak juga baik, dan Kakak juga kangen banget sama kalian. Sini peluk Kakak," ujarnya hangat seraya merengkuh keempat anak itu. "Mulai sekarang, kayaknya Kakak bakal jarang banget ke sini."
"Kenapa gitu, Kak?"
"Kakak kan udah mau lulus sekolah, jadi harus fokus belajar. Terus, Kakak juga kerja. Tapi Kakak usahain bakal tetap nemuin kalian, kok."
"Yah... pasti kita bakal kangen banget."
"Iya, Kakak jangan lupain kita, ya."
"Kakak gak akan pernah lupain kalian. Kalian kan adik-adik Kakak," ucapnya lembut dengan sunggingan senyum di balik cadar. "Yaudah, Kakak pamit ya, sebentar lagi jam kerja Kakak mulai. Kalian hati-hati di jalan."
"Iya, Kak!"
Zaviera melangkah pergi meninggalkan Bimo dan yang lainnya, lalu berjalan menyusuri trotoar untuk mencari angkutan umum menuju tempat kerja.
Setibanya di tempat kerja, Zaviera mengamati toko grosir yang siang ini tampak relatif senggang. Ia melangkah masuk sambil membawa tas kecil berisi botol minuman.