"Gimana, Dok, keadaan adik saya?" tanya Zayn panik begitu seorang dokter keluar dari ruangan.
Dokter tersebut menghela napas sejenak, lalu menatap mereka iba. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah berkehendak lain," jawabnya lirih.
"Sus, tolong bantu urus jenazahnya, ya," perintah dokter itu kepada perawat di sampingnya sebelum berlalu pergi dari hadapan mereka.
Zayn dan yang lainnya bagai disambar petir mendengar penuturan tersebut.
"Gak... gak mungkin!" igau Zayn. Ia meluruh dan terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya frustrasi.
Kenzo dan Rafa sama terpukulnya. Bimo dan anak-anak lainnya sudah mereka anggap seperti adik kandung sendiri.
Tangis mereka pecah, bersahutan dengan isakan tiga anak kecil yang berdiri di sana.
"Gak! Bimo gak boleh meninggal! Bimo gak boleh ninggalin kita!" jerit Lisa di selang tangisnya.
Melihat raut kesedihan Lisa, Kenzo langsung merengkuh tubuh mungil itu. "Sabar ya, Dek. Kita juga sedih, kita juga kehilangan Bimo..."
"Lili, Satria, sini sama Bunda," panggil Clarissa lembut.
Lili dan Satria mendekat, lalu menghambur ke dalam pelukan Clarissa.
"Ini semua karena orang itu..." gumam Satria di dalam dekapan Clarissa.
"Orang itu? Maksud kamu?" tanya Clarissa bingung.
"Maksud kamu apa, Satria? Orang siapa?" cer cecar Zayn sambil menegakkan tubuhnya.
"Iya, Kak. Tadi kita lagi main sama Bimo, terus Bimo lari ke tengah jalan buat ngambil kayu. Padahal posisi jalanan lagi sepi, tapi tiba-tiba ada mobil ngebut banget terus nabrak Bimo!" jelas Lisa.
"Mobil?"
"Iya, Kak, mobilnya warna hitam."
Setelah proses pemulasaraan jenazah Bimo selesai di rumah sakit, mereka membawa Bimo ke rumah Zayn untuk disayamayamkan sebelum dimakamkan.
Zayn turun dari mobil, diikuti oleh yang lain. Rafa berjalan mendahului masuk ke rumah sambil membopong jenazah Bimo. Pihak rumah sakit sebenarnya menyarankan menggunakan ambulans, tetapi Zayn menolaknya.
Sekitar sepuluh meter dari kediaman Zayn, tampak sebuah mobil hitam terparkir. Di dalamnya, seorang remaja pria menyaksikan pemandangan itu dengan senyum lebar penuh kepuasan.
Saat Zayn hendak melangkah masuk ke halaman rumah, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk terpampang di layar.