Suasana duka masih menyelimuti Zayn dan keluarganya. Semenjak kejadian tragis itu, Zayn menjadi jauh lebih waspada terhadap keberadaan Aryan.
"Zayn, buruan sarapan, Nak," tutur ibunya menyela lamunan Zayn.
"Sebenarnya ada apa, Zayn? Apa yang kamu sembunyikan dari Ayah dan Bunda?" tanya sang ayah menatapnya lekat.
Zayn hening sejenak, lalu memandang kedua orang tuanya secara bergantian.
"Jadi begini, Bun, Yah..."
Flashback
Tiga tahun lalu, saat Zayn masih duduk di bangku kelas 9 SMP, sekolahnya mengadakan acara study tour bersama guru dan murid-murid lainnya.
Zayn mengendarai sepeda motor dari rumah menuju sekolah, sebelum nantinya berangkat bersama-sama menggunakan bus yang telah disiapkan.
Singkat cerita, dalam perjalanan pulang menuju rumah usai kegiatan tersebut, Zayn memilih berhenti sejenak karena lengannya terasa cukup pegal. Ia lalu duduk meluruskan kaki di sebuah bangku besi tepi jalan.
Langit sore kala itu perlahan beruba warna menjadi kelabu pekat, menandakan hujan deras akan segera turun.
Dari tempatnya duduk, Zayn mendapati seorang anak laki-laki berlari ke tengah jalan demi mengejar bola yang menggelinding.
Naas, saat anak kecil itu hendak meraih bolanya, sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan.
Zayn refleks berlari dari posisinya untuk menolong, tetapi usahanya terlambat. Anak itu keburu dihantam mobil yang melaju tanpa henti tersebut.