Garis Z

Nazwa Nadya
Chapter #21

20

Saat Zayn dan kedua temannya melangkahkan kaki menuju kantin, perhatian mereka teralih oleh keramaian di lapangan basket. Didorong rasa penasaran, mereka pun menghampiri kerumunan tersebut.

Sesampainya di sana, mereka mendapati seorang gadis bercadar terbaring tak sadarkan diri dengan kening yang mengucurkan darah.

"Zaviera..." gumam Zayn terkejut.

Zayn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aryan?

"Ini ulah kamu?" tanya Zayn menatap tajam.

"Iya, kenapa?" sahut Aryan santai tanpa rasa bersalah.

Mendengar jawaban tersebut, Zayn langsung memanggil beberapa siswi untuk membantu membopong Zaviera ke ruang UKS.

"Oh, ini orangnya yang suka nuduh orang pembunuh?" celetuk Rafa seraya menatap sinis ke arah Aryan.

Aryan yang mendengar sindiran itu memalingkan pandangannya ke arah Rafa. "Oh, jadi lo udah cerita ke temen-temen lo ini?" cibirnya.

"Saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah libatkan orang-orang di sekitar saya, termasuk Zaviera!" tegas Zayn dingin.

Setelah menegaskan hal itu, Zayn segera berbalik dan melangkah menuju ruang UKS.

"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Zayn kepada Zaviera yang terbaring di atas tempat tidur UKS.

"Udah gak apa-apa, kok. Makasih, ya," sahut Zaviera lirih.

"Hmm." Zayn mengangguk singkat. "Kalau ada apa-apa, bilang ke saya," lanjutnya dengan nada datar.

Zaviera yang bingung hanya bisa mengerutkan alisnya.

"Saya akan melindungi kamu. Tunggu saya di masa depan," ucap Zayn menatapnya lekat.

Tanpa menunggu balasan, Zayn langsung berbalik meninggalkan UKS menuju ruang kelasnya.

Zaviera terpaku di tempat tidur, berusaha mencerna deretan kata yang baru saja diucapkan cowok itu.

Saya akan menunggu kamu... batin Zaviera seraya mengukir senyum tipis di balik cadar putihnya.

Sementara itu, Aris—ayah Zaviera—sedang menyantap bekal sederhana dari rumah di atas becak dayungnya.

Saat tengah menikmati makan siangnya, pandangan Aris tertuju pada seorang gadis berpakaian cukup terbuka yang berjalan sambil dirangkul oleh seorang pria paruh baya.

"Nadin..." gumam Aris tertahan.

Lihat selengkapnya