Langit gelap bertabur bulan dan bintang seakan setia menemani Zaviera di hari yang amat menyedihkan ini.
Satu per satu pelayat telah berangsur pergi dari rumahnya usai memanjatkan doa untuk mendiang sang ayah.
Bahkan Kinasih—ibu Zaviera—pun ikut melangkah pergi meninggalkan rumah tersebut, tanpa memedulikan sedikit pun nasib putri kandungnya.
"Yah... Zaviera sendirian," bisik Zaviera dari teras rumah seraya menatap sebuah bintang yang berpijar paling terang di angkasa.
"Kenapa semua orang ninggalin Zaviera?"
"Ibu... Ibu juga tega ninggalin Zaviera sendiri, Yah."
"Zaviera lebih suka dengar bentakan Ibu atau nasihat Ayah, daripada Zaviera harus kesepian di sini..."
Zaviera mengukir senyum tipis ke arah bintang terang itu, seolah-olah menganggapnya sebagai perwujudan sang ayah yang sedang mengawasinya.
"Jagain Zaviera dari atas sana ya, Yah..."
Perlahan namun pasti, pendar cahaya bintang tersebut kian meredup hingga akhirnya hilang ditelan awan. Bening air mata Zaviera kembali menetes membasahi pipi.
Malam ini tak ada satu jua raga yang mendampinginya. Di saat dirinya teramat membutuhkan sandaran, semua orang justru bergeming dan berlalu pergi.
Malam berganti pagi yang cerah. Udara hangat nan segar menyapa bumi, tetapi Zaviera memutuskan untuk meminta izin tidak masuk sekolah hari ini.
Di lain tempat, Zayn tampak sibuk mencari keberadaan Zaviera di area sekolah untuk memastikan kondisi gadis itu usai insiden kemarin.
"Lo nyari siapa sih, Zayn?" tanya Rafa heran melihat temannya bolak-balik.
"Zaviera."