Jakarta, 4 Desember 2015
“Selamat datang di Jakarta. Singapore Airlines SA-xxx telah mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bagi penumpang yang melanjutkan penerbangan, silakan menuju ruang transit. Bagi penumpang dengan tujuan akhir Jakarta, kami ucapkan selamat datang di tanah air.
Terima kasih telah terbang bersama kami.”
Linsara menghela napas perlahan sebelum membuka penutup matanya. Suara pramugari yang mengalun lembut di speaker kabin terasa seperti gema asing di telinganya. Ia melepas airpods dari telinga, menurunkannya ke pangkuan, lalu menyelipkannya ke dalam totebag berwarna hitam di bawah kursi.
Ia meregangkan kedua tangannya, sendi-sendi kecil di bahunya berderak pelan setelah duduk terlalu lama. Perjalanan dua puluh dua jam membuat tubuhnya terasa seperti diperas waktu. Ia menarik sedikit bagian belakang blouse knit-nya yang terlipat, merapikan punggungnya, lalu menegakkan duduk.
Udara kabin yang mulai menghangat membuatnya sadar sepenuhnya bahwa ini bukan lagi udara asing. Untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, Linsara Sasmaya kembali menjejakkan kaki di tanah air.
Linsara bangkit perlahan dari tempat duduknya begitu pesawat benar-benar berhenti. Beberapa penumpang di sekitarnya sudah lebih dulu berdiri, membuka kompartemen, menurunkan koper, dan menunggu giliran keluar.
Ia meraih tasnya, menyampirkannya di bahu kanan, lalu melangkah pelan menyusuri lorong kabin.
Begitu tiba di pintu keluar, langkahnya sempat terhenti dan matanya menatap lurus ke arah lorong penghubung berwarna abu yang membentang di depan.
Lorong itu dingin, sunyi, tapi anehnya terasa seperti menyambut.
“Selamat datang kembali, tanah lara,” gumamnya dalam hati. Kemudian, ia kembali berjalan.
Linsara menghirup dalam-dalam udara Jakarta yang masih terasa asing, meski samar-samar familiar. Ada aroma lembab yang menempel di hidungnya, bercampur dengan sisa wangi bahan bakar dan pendingin udara bandara.