Gatra Smaralibrasi

Mungswara
Chapter #2

Laras ing Resonansi

“Hei, Lin.”

Suara perempuan terdengar dari samping, membuat Linsara menoleh perlahan.

Pandangan yang semula terhenti pada lukisan abstrak di depannya kini beralih ke sosok bersyal abu, berdiri dengan segelas iced americano di tangan.


Hm,” gumam Linsara pendek, bibirnya nyaris tak bergerak.

“Thanks, ya, udah mau repot dateng ke pameran gue yang ala kadarnya ini,”ucap perempuan itu, Giara sambil tersenyum malu-malu.


Linsara mengangguk tipis. “Nice kok. Super keren. Saking kerennya, gue nggak paham.”

Giara tertawa, suaranya renyah, tidak tersinggung sama sekali.

“Sialan lo.”


Linsara kembali menatap lukisan di depannya dengan sepermainan warna merah, biru, dan abu yang tampak seperti badai yang gagal selesai.

“Sampai kapan pamerannya?”tanyanya tanpa menoleh.

“Besok,”jawab Giara santai.

Linsara hanya mengangguk, diam lagi.


Hening sejenak sebelum Giara menambah, “Mau liat-liat yang lain dulu nggak? Atau ke ruangan belakang aja? Gue ijin ke tim bentar biar bisa cabut bareng lo.”

“Gue liat-liat aja di sini,”jawab Linsara pelan, matanya masih ke arah kanvas.

“Oke. Tunggu sebentar ya,”ucap Giara, lalu menepuk pelan bahu Linsara sebelum memeluk singkat. “Jangan kabur dulu.”


Linsara tersenyum samar, membalas pelukan itu dengan sekadar sentuhan tangan di punggung Giara.

“Hm.”

Giara berbalik, langkahnya menjauh, meninggalkan Linsara sendirian di antara dinding putih dan aroma cat minyak yang samar.


Linsara menatap lukisan di depannya dengan pandangan yang tak sepenuhnya fokus, hanya samar.

Tatapannya menerawang jauh, menembus warna-warna kabur di kanvas, menuju ingatan yang samar pada tangannya sendiri tengah menggenggam kuas di masa silam.

Ia menghela napas pelan. Cepat-cepat, ia mengalihkan pandangannya ke frame lain sebelum remuk yang sama menyeruak kembali di dadanya.

Lihat selengkapnya