“Sebagai wanita normal tentu saja rasa itu ada, tapi jika bersamanya lebih baik tidak melakukan sama sekali. Kebencian yang tumbuh di hati, lebih besar dari hasrat ingin bercinta.”
“Bi Lastri benar, jika di hati sudah mulai muncul sesuatu yang tak lagi harmonis rasanya dengan pasangan takan pernah lagi kita bisa merasakan nikmatnya percintaan,” ulas Bu Dola.
“Apakah Nyonya juga merasa tertekan oleh Tuan Deni? Maaf jika aku lancang bertanya begitu, Nyonya.”
“Sulit aku untuk menceritakan semuanya pada Bi Lastri, yang pasti semua itu muncul udah sejak lama sebelum aku mengenal Ryan. Awalnya aku juga tak percaya, karena Kak Deni begitu baik dan sosok suami yang bertanggung jawab namun mungkin belum saatnya aku ceritakan semuanya pada Bi Lastri. Biarlah untuk sementara aku terus memendam semua perasaan ini,” ujar Bu Dola yang tak ingin menceritakan hal yang selama ini menjadi rahasia antara ia dan suaminya.
“Sudah malam, Bi. Sebaiknya kita pergi tidur,” sambung Bu Dola yang berdiri dari posisi duduknya di sofa kemudian ia menuju ke arah kamar, Bi Lastri pun mematikan televisi kemudian melangkah ke kamarnya.
*****
Pagi-pagi sekali Ryan telah bangun dari tidurnya, seperti biasa setiap pagi minggu ia mencuci pakaian serta membersihkan ruangan kos-kosannya, serta memasak sambal untuk keperluannya selama 3 hari ke depan, ia juga telah berjanji untuk memenuhi ajakan Lani untuk nonton film di bioskop nanti jam 1 siang, hingga ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya sebelum jam 1 siang nanti.
“Om Ryan.”
“Eh, Arya. Mari masuk!”
“Om Ryan, lagi ngapain?”
“Nih, lagi masak sambal. Arya udah mandi?”
“Udah Om, tadi dimandiin sama Ibu.” jawab anak laki-laki berusia 4 tahun putranya Sugeng tetangga kos-kosan Ryan.