Gejolak Sepi

Tiwi Kasavela
Chapter #10

BERLABUH

Jakarta, 27 Desember 2017

Vinka tidak pernah punya alasan lain untuk pulang ke Indonesia, selain untuk berziarah ke makam Leven. Entahlah, meski hubungan mereka begitu singkat, namun ada begitu banyak kesan yang mendalam di benaknya. Apapun kelak yang akan terjadi atau bagaimanapun takdir hidup membawanya, ia rasa Leven akan selalu terkenang abadi di dalam jiwanya. 

Sore ini di antara rintik hujan, ia memasuki kompleks pemakaman tempat di mana Leven dikuburkan. Dari kejauhan ia melihat seseorang yang sedang berjongkok di depan pusara Leven. 

“Siapa itu?” tanya hati Vinka kemudian mendekatinya.

Dan saat ia berjalan, laki-laki itu berdiri dan menatap ke arahnya.

Potongan rambutnya, gaya pakaian dan wajahnya…

Leven… bisik hati Vinka, langkahnya seakan terhenti di antara rasa keterkejutannya. Ada hal yang membuncah di dadanya, ketika melihat sosok yang amat dia rindukan. 

“Hai Vinka, lu ke sini juga?” ucap laki-laki itu, membuyarkan seluruh lamunannya. Dia sadar, dihadapannya bukan Leven, melainkan Willem.

Tapi ah…. Sejak kapan Willem berpenampilan seperti Leven? 

Willem tidak pernah memotong pendek rambutnya, dia tidak suka menggunakan kemeja dan hal-hal yang membuatnya terlihat rapi. 

“Sejak kapan lu potong rambut, kenapa pake jas?” komentar Vinka sambil berusaha menenangkan diri.

“Oh ini, gue kangen aja sama Leven, makannya gue coba berpenampilan seperti dia dan berziarah…Ini baju dia, kemarin gue iseng ambil dari lemari punya dia,” sahutnya ringan. 

“Bukannya lu nggak suka banget sama dia?”

“Ya, tapi belakangan ini gue sadar, dia saudara yang sangat baik, dewasa, bijak, sederhana dan apa adanya… Gue juga sadar kenapa lu jatuh cintanya ke Leven bukan ke gue meskipun wajah kita sama. Tentu saja, karena Leven punya karakter yang nggak gue miliki, its okay..”

“Kaki lu udah baikan?” Vinka berusaha mengalihkan perbincangan. 

“Udah dari lama kali Vin, segitu ngambeknya ya… sampai nggak make sure gue udah pulih atau belum dari kecelakaan?”

“Maaf….” Hanya itu yang keluar dari mulut Vinka.

“Gue juga minta maaf, nggak bisa kontrol emosi pas terakhir kali kita ketemu, gue nggak ada maksud ngusir, gue cuman belum bisa menerima kenyataan, ditolak lagi, lagi dan lagi oleh orang yang sama.”

“Will?”

“Dua cewek yang waktu itu datang ke rumah, mereka temen nongkrong gue dan cuman sampai siang aja. Gue nggak bisa Vin, kalau nggak sama lu.”

“Lah? Terus lu gimana dong, kan masih belum bener-bener sembuh waktu itu?” 

“Gue berusaha mandiri, ya untungnya kondisi gue semakin membaik kan. Beberapa hari setelah itu, gue juga udah bisa jalan normal. Makasih ya udah merawat gue selama dua minggu, kerasa banget pas gue sendiri, jadi serba repot.”

“Ya.. it’s okay… Will.”

“BTW, Seminggu lagi gue bakal pindah ke Kanada…”

“Oh iya?”

“Kemungkinan besar gue nggak akan balik lagi ke sini, ya mungkin ke Indonesia sesekali untuk berziarah atau liburan ke Bali…sepertinya.”

“Kenapa?”

“Gue butuh hidup baru, dan mungkin kita nggak akan bisa ketemu tanpa sengaja lagi seperti ini.”

Vinka terdiam sejenak, entahlah, tapi hatinya tidak nyaman mendengar perkataan Willem. Dlihatnya Willem sekali lagi, dia persis seperti Leven dan hal itu membuat dadanya kembali bergetar. 

“Vinka…”

“Ya…”

“Mungkin ini namanya nggak tahu malu, atau nggak tahu diri, tapi gue masih mau tetep usaha. Vinka… seminggu sebelum gue berangkat ke Kanada, lu mau nggak nemenin gue?”

“Maksud lu?”

Lihat selengkapnya