Sore itu, langit kota tampak seperti kanvas luas yang diwarnai senja. Cahaya keemasan memantul di jendela-jendela kaca gedung tinggi, menciptakan bias lembut di antara hiruk pikuk lalu lintas. Suara klakson bersahutan, langkah kaki bergegas di trotoar, dan aroma kopi dari kedai pinggir jalan bercampur dengan udara lembab selepas hujan.
Di tengah semua itu, di sebuah taman kecil di sudut kota, seorang pria duduk diam di bangku tua berwarna hijau pudar. Catnya telah mengelupas, sebagian kayunya mulai lapuk. Namun, pria itu tampak tak peduli. Ia duduk tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak ada.
Rambutnya acak-acakan, wajahnya sedikit kotor, bajunya lusuh dan terlihat sudah lama tak diganti. Sekilas, ia tampak seperti gelandangan yang tersesat dalam hiruk pikuk kota. Tapi jika seseorang berani menatapnya lebih lama, mereka akan sadar — ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
Tatapan itu dalam. Tenang. Namun menyimpan badai.
Namanya Ardan Rayesa. Dulu, nama itu begitu berharga. Terpampang di sampul majalah bisnis, diberitakan dalam media internasional, disebut-sebut sebagai pewaris muda jenius yang akan melanjutkan kejayaan Rayesa Group, salah satu konglomerasi terbesar di Asia.
Tapi dua tahun lalu, Ardan menghilang. Begitu saja. Tanpa jejak, tanpa kabar, tanpa pesan.
Sebagian orang percaya ia tewas dalam kecelakaan misterius di luar negeri. Sebagian lain berbisik bahwa ia sengaja kabur setelah konflik keluarga. Namun, kebenarannya hanya diketahui oleh satu orang — dirinya sendiri.
Dan hari ini, pria yang dulu hidup di puncak kekuasaan itu, duduk diam di bangku taman dengan secangkir kopi murahan di tangan.
Ardan menatap gelas kertas itu dalam-dalam, mengamati uap tipis yang perlahan memudar. Ia tersenyum kecil, getir, seolah mengejek dirinya sendiri.
“Lucu,” gumamnya lirih. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk mendapatkan waktu. Sekarang aku punya terlalu banyak waktu… dan tak tahu harus kuhabiskan di mana.”
Ia menyeruput sedikit kopi itu. Rasanya pahit. Tapi entah kenapa, rasa pahit itulah yang membuatnya merasa hidup.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Ardan tidak menoleh, sudah terbiasa dengan orang-orang yang lalu-lalang tanpa peduli. Tapi langkah itu berhenti tepat di sampingnya.
“Permisi… boleh saya duduk di sini?”
Suara itu lembut, terdengar sopan tapi juga ragu. Ardan menoleh perlahan. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda, mungkin berusia akhir dua puluhan. Rambutnya hitam pekat, terurai rapi menutupi sebagian wajah. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam, penampilannya sederhana namun terawat.
Matanya jernih, memancarkan keingintahuan dan sedikit kelelahan — seperti seseorang yang hidup di tengah tuntutan kota besar.
Ardan hanya mengangguk. “Silakan.”
Wanita itu duduk di ujung bangku, menjaga jarak sopan. Ia menatap taman yang mulai redup, menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya ada tempat kosong juga. Biasanya penuh begini sore-sore.”
Ardan hanya menatap lurus ke depan. Biasanya, orang yang duduk di sebelahnya tak pernah bicara. Tapi wanita ini berbeda. Ia tampak benar-benar ingin berbagi suasana, bukan sekadar lewat.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya suara angin yang berhembus dan daun-daun kering yang berjatuhan. Sampai akhirnya, wanita itu menoleh.
“Kamu sering duduk di sini?” tanyanya ramah.
Ardan memiringkan kepala, sedikit heran dengan keberanian wanita itu membuka obrolan. “Kenapa kamu pikir begitu?”