Malam menyelimuti kota dengan kilau lampu yang memantul di jalan basah. Dari bangku taman yang mulai kosong, Ardan menatap langit hitam tanpa bintang. Suara tawa sekelompok anak muda yang melintas membuatnya menunduk — bukan karena takut, tapi karena hatinya terasa semakin jauh dari kebahagiaan semacam itu.
Sudah lama ia tak tertawa lepas. Sejak hari di mana dunia yang ia bangun dengan seluruh keyakinan, runtuh di hadapan matanya sendiri.
Ia menghela napas panjang. Angin malam berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kenangan pahit bersamanya.
Dua tahun. Itu waktu yang cukup untuk membuat seseorang melupakan siapa dirinya. Tapi tidak untuk Ardan. Setiap langkah yang ia ambil di trotoar, setiap tatapan asing yang lewat, selalu mengingatkannya pada satu hal — ia bukan siapa-siapa sekarang.
Ardan melangkah menyusuri jalan sempit di belakang taman. Lampu jalan remang, beberapa bahkan mati. Namun ia berjalan dengan tenang, seolah telah hafal setiap retakan di aspal itu. Di ujung jalan, berdiri sebuah bangunan tua: bekas gudang yang kini dijadikan tempat singgah oleh para gelandangan.
Begitu ia masuk, suara batuk dan obrolan lirih terdengar. Beberapa pria tua duduk melingkar, menghangatkan tangan di atas kaleng bekas yang diisi bara api. Ardan mengangguk kecil pada mereka sebelum menuju sudut ruangan, tempat ia biasa beristirahat.
Ia menggulung jaket tuanya, menjadikannya bantal. Namun malam ini, matanya tak bisa terpejam. Pikirannya masih melayang pada percakapan sore tadi.
Alya. Nama itu terngiang jelas di benaknya. Cara bicaranya, senyumnya, bahkan tatapan matanya yang seolah menembus lapisan perisai yang telah lama ia bangun.
“Kenapa dia tertarik padaku?” gumam Ardan pelan. “Dia seharusnya takut, bukan penasaran.”
Ia terdiam lama. Lalu, tanpa sadar, bibirnya melengkung tipis. Sudah lama ia tak merasakan percakapan yang hangat. Seseorang yang mendengar bukan untuk menilai, tapi untuk memahami.
Namun senyum itu cepat memudar ketika bayangan masa lalu kembali menghampiri.
Dua tahun lalu — di ruang rapat tertinggi Rayesa Group, Ardan berdiri di hadapan puluhan eksekutif dengan raut wajah tegas. Di hadapannya terpampang grafik pertumbuhan perusahaan. Semua mata menatapnya penuh hormat. Ia baru berusia tiga puluh satu tahun, tapi sudah menjadi CEO termuda dalam sejarah grup bisnis itu.
“Aku tidak ingin hanya menjadi pewaris,” ucapnya waktu itu. “Aku ingin membawa Rayesa Group pada arah baru. Lebih transparan, lebih manusiawi.”
Kata-katanya menggema di ruangan kaca yang luas. Tapi tak semua setuju. Di antara tepuk tangan yang terdengar, beberapa wajah menahan ketidakpuasan. Salah satunya — Dion, pamannya sendiri, pria yang selama ini mengelola bisnis keluarga sebelum Ardan naik ke puncak.
“Kamu terlalu idealis, Ardan,” ujar Dion dengan senyum dingin. “Dunia bisnis tidak bisa dijalankan dengan hati. Kadang kamu harus menutup mata untuk bertahan.”
Ardan menatap pamannya tajam. “Menutup mata pada kecurangan bukan cara untuk bertahan. Itu cara untuk hancur perlahan.”