Pagi menyapa kota dengan embun tipis yang menempel di dedaunan taman. Burung-burung berterbangan di antara dahan, sementara cahaya matahari yang lembut mulai menembus sela-sela pepohonan.
Ardan sudah duduk di bangku taman sejak fajar. Jaket tuanya menahan dingin, tapi tidak sepenuhnya. Ia menatap sekeliling, memperhatikan orang-orang yang melintas — pegawai kantoran, pedagang kecil, dan anak-anak sekolah yang tertawa lepas.
Semua tampak sibuk dengan hidupnya masing-masing. Dan di tengah keramaian itu, Ardan merasa menjadi bagian dari dunia… tanpa benar-benar menjadi siapa pun di dalamnya.
Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Entah mengapa, ia menunggu.
Bukan menunggu sesuatu — tapi seseorang.
Dan benar saja, tak lama kemudian, langkah cepat terdengar dari arah belakang. Ardan tak perlu menoleh. Ia sudah mengenali langkah itu.
“Aku tahu kamu di sini,” suara lembut itu memecah udara pagi.
Ardan menoleh perlahan. Di sana, Alya berdiri dengan rambut terurai, mengenakan kemeja biru muda dan celana jeans sederhana. Ia membawa dua gelas kopi di tangannya.
“Aku pikir kamu nggak akan balik ke sini,” ujar Ardan datar, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang hangat menyelinap.
Alya tersenyum kecil. “Kamu kira aku tipe orang yang cepat lupa?”
“Dunia ini penuh orang yang mudah lupa,” balas Ardan pelan.
Alya menyerahkan satu gelas kopi padanya. “Kalau gitu, anggap saja aku pengecualian.”
Ardan menerima kopi itu tanpa banyak bicara. Ia menatap uap panas yang mengepul, lalu menyesap sedikit. Rasanya pahit, tapi lebih lembut dari kopi murahan yang biasa ia beli.
“Ini enak,” ucapnya pelan.
“Ya, aku tahu. Aku pilih yang paling hangat di kedai dekat sini. Kamu kelihatan suka kopi.”
Ardan tersenyum samar. “Kamu memperhatikan banyak hal, ya.”
“Itu pekerjaanku,” balas Alya. “Jurnalis memang harus peka.”
Ardan menoleh, sedikit menajamkan pandangannya. “Jurnalis?”
Alya mengangguk santai. “Iya. Tapi tenang, aku nggak akan menulis tentang kamu kok.”
Ardan tertawa kecil, suara yang jarang keluar darinya. “Aku bahkan nggak punya cerita untuk ditulis.”
Alya menatapnya dalam. “Semua orang punya cerita, Ardan. Bahkan orang yang berpikir hidupnya sudah berakhir.”
Ardan terdiam. Ia belum pernah menyebutkan namanya padanya.
Seketika, udara di antara mereka berubah. Alya menyadari itu. Ia menggigit bibir, lalu berkata pelan, “Maaf… aku nggak bermaksud—”
“Dari mana kamu tahu namaku?” potong Ardan tenang, tapi matanya menyimpan kewaspadaan.