Gelandangan elit

kekkei genkai
Chapter #4

Bayangan dari masa lalu

Hujan turun perlahan sore itu, membasahi jalanan kota dan menyapu debu yang menempel di trotoar. Ardan berdiri di bawah atap sebuah toko tua, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang dengan payung berwarna-warni. Di matanya, setiap orang tampak bergegas menuju tujuan masing-masing—dan di antara mereka, ia hanya bayangan tanpa arah.

Hidup sebagai gelandangan bukan hal yang mudah, tapi anehnya, Ardan justru merasa lebih hidup dari sebelumnya. Tak ada sorotan kamera, tak ada senyum palsu rekan bisnis, dan tak ada tekanan untuk menjadi sempurna. Hanya dirinya, hujan, dan waktu yang berjalan lambat.

Namun di balik ketenangan itu, ada suara dari masa lalu yang terus memanggilnya.

Suara itu menggema di benaknya—suara Rafael Dirgantara, sahabat lamanya yang kini menjadi musuh paling berbahaya. Mereka tumbuh bersama, membangun mimpi bersama. Namun ambisi telah mengubah segalanya.

Ardan memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. Setiap kali ia mengingat Rafael, ada perasaan getir dan penyesalan yang menekan dadanya.

Rafael bukan sekadar pengkhianat. Ia adalah seseorang yang dulu Ardan percayai sepenuhnya—seseorang yang pernah ia anggap saudara.

Sementara itu, di tempat lain, Alya duduk di meja redaksi, menatap layar laptop dengan dahi berkerut. Artikel yang baru ia tulis tentang “gelandangan misterius” yang ditemuinya beberapa waktu lalu kini menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.

Komentar demi komentar bermunculan, sebagian menganggap kisah itu menyentuh, sebagian lagi menyebutnya karangan belaka. Tapi satu hal membuat Alya tidak tenang—banyak yang mengatakan bahwa deskripsi pria dalam artikelnya mirip dengan seseorang yang dulu terkenal di dunia bisnis: Ardan Rayesa.

Namun rasa penasarannya semakin membesar. Alya bukan tipe jurnalis yang puas hanya dengan satu jawaban. Ia ingin tahu siapa pria itu sebenarnya. Apakah benar ia hanya gelandangan bijak seperti dugaannya, atau ada sesuatu yang lebih besar di baliknya?

Malam itu, Alya memutuskan kembali ke taman tempat mereka pertama kali bertemu. Ia membawa kamera kecil dan recorder, berharap bisa menemukan pria itu lagi.

Ardan yang saat itu masih berdiri di bawah hujan, tiba-tiba mendengar langkah kaki mendekat. Ia menoleh, dan matanya langsung menangkap sosok Alya yang kini berdiri tak jauh darinya, basah kuyup tanpa payung.

“Kenapa kamu di sini?” tanya Ardan dengan nada datar, meski di matanya ada sedikit kekhawatiran.

Lihat selengkapnya