Malam menurunkan embun tipis di atas trotoar basah. Lampu jalan berpendar lembut, memantulkan cahaya ke genangan air hujan yang masih tersisa. Suasana kota terasa sunyi, namun di balik kesunyian itu, ada mata-mata yang sedang mengawasi.
Ardan duduk di bangku taman yang mulai dingin, menatap langit gelap tanpa bintang. Sejak Alya memperlihatkan foto itu, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Setiap langkahnya kini terasa berat, seolah masa lalu yang ia kubur perlahan menggali dirinya keluar dari dalam tanah.
Ia tahu, cepat atau lambat, dunia akan tahu bahwa Ardan Rayesa masih hidup. Dan saat itu tiba, kedamaian yang ia nikmati selama ini akan berakhir.
Namun di sisi lain, hatinya menolak. Hidup sebagai orang biasa, meski sulit, justru membuatnya merasa bebas. Ia tidak lagi dikelilingi penjilat, tidak lagi harus berpura-pura kuat di hadapan dunia.
Hanya saja, kehadiran Alya telah mengubah segalanya.
Di apartemennya yang sederhana, Alya duduk termenung di depan meja kerja. Di depannya, tumpukan kertas, catatan wawancara, dan foto-foto lama berserakan. Ia mencoba menyusun potongan-potongan fakta tentang pria misterius itu.
“Kalau benar dia Ardan Rayesa... kenapa dia memilih hidup seperti ini?” bisiknya.
Tangannya memegang foto Ardan dan Rafael yang dulu diambil saat konferensi bisnis besar. Dua pria muda dengan senyum percaya diri—yang satu memancarkan ketulusan, yang satu lagi memendam ambisi.
Alya menarik napas panjang. Ia tahu, kisah ini jauh lebih besar dari sekadar berita. Ini bukan lagi tentang popularitas, tapi tentang menemukan kebenaran yang bisa mengubah hidup seseorang.
Namun ia juga sadar, semakin dalam ia menggali, semakin besar risiko yang harus ia tanggung.
Keesokan paginya, Ardan berjalan menuju pasar tua tempat para gelandangan biasa mencari makanan sisa. Langkahnya pelan, pikirannya melayang jauh.
Namun sesuatu membuatnya berhenti mendadak. Di salah satu papan pengumuman, ia melihat selebaran lama yang sudah pudar warnanya. Di sana tertulis: