Malam selalu datang lebih cepat di Kampung Cibangkong.
Bukan karena matahari tenggelam lebih awal, melainkan karena gelap di kampung itu selalu terasa lebih pekat daripada tempat lain. Saat itu belum ada listrik. Hanya remang obor dan petromaks yang menggantung di teras rumah sebagai pencahayaan, selebihnya malam menjadi milik bayangan.
Begitu matahari sudah tenggelam, pintu-pintu mulai ditutup.
Anak-anak dipanggil pulang.
Orang tua mengunci jendela.
Dan sebelum tidur, mereka selalu mengucapkan kalimat yang sama.
“Kalau malam, jangan lewat jalan pohon kelapa.”
Tak ada penjelasan.
Tak ada cerita.
Hanya larangan.
Yang tua tak pernah mau menjawab.
Yang muda tak pernah mau percaya.
Karta termasuk yang kedua.
Malam itu ia pulang dari hajatan di kampung sebelah. Sebuah petromaks kecil bergantung di tangan kirinya. Nyalanya bergoyang mengikuti langkah.
Jalan setapak itu lengang.
Di kanan terbentang sawah.
Di kiri berdiri pohon-pohon kelapa yang menjulang, hitam, seolah menelan cahaya.
Karta tersenyum kecil.
“Kalau benar angker, harusnya dari dulu sudah habis orang kampung.”
Ia terus berjalan.
Sampailah ia di pohon kelapa paling tua.
Konon, tak seorang pun tahu siapa yang menanamnya.
Konon.
Begitu kata orang-orang.
Karta melewatinya begitu saja.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tak terjadi apa-apa.
Ia terkekeh pelan.
“Ternyata benar cuma...”
Gebuk.
Suara benda berat menghantam tanah.
Tepat di belakangnya.
Langkah Karta terhenti.
Ia tidak langsung menoleh.
Entah kenapa.
Dadanya mendadak sesak.