Mobil kampus berhenti tepat di depan gapura tua yang cat putihnya mulai mengelupas.
Di atasnya masih terbaca tulisan yang mulai pudar.
“Selamat Datang di Desa Cibangkong.”
Alya menjadi orang terakhir yang turun.
Begitu kedua kakinya menginjak tanah desa itu, entah mengapa dadanya terasa sesak.
Ia menarik napas panjang. Perasaannya tidak enak. Seolah... ia pernah berdiri di tempat itu. Padahal ini adalah kali pertama ia datang ke Cibangkong.
“Alya?”
Suara Raka membuyarkan lamunannya.
“Kamu kenapa?” sambungnya.
Alya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa.”
Mungkin hanya lelah setelah perjalanan panjang. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Di belakang mereka, Nisa sibuk memotret gapura.
“Bagus juga ya desanya.”
“Semoga sinyal masih ada.”
Bima tertawa.
“Kamu itu ke mana-mana mikirin sinyal.”
Suasana kembali cair.
Tak ada yang menyadari bahwa Alya diam-diam masih memandangi pohon-pohon kelapa di kejauhan.
Entah mengapa... ia merasa... semua pohon kelapa itu seperti menghadap ke arahnya.
Angin berembus pelan, daun-daun kelapa bergesekan menimbulkan suara lirih yang sulit dijelaskan. Alya mengerjapkan mata. Perasaan itu menghilang secepat datangnya...
“Permisi...”
Sebuah suara laki-laki tua membuyarkan lamunannya.
Alya menoleh.
Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berjalan menghampiri mereka. Tubuhnya kurus, mengenakan pangsi hitam dan ikat kepala sederhana. Senyum ramah tersungging di wajahnya, tetapi tatapannya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
“Selamat datang di Cibangkong.”
Lelaki tua itu tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan.
“Perjalanan dari kota pasti melelahkan.”
Raka membalas jabatan tangannya.
“Bapak Pak Lurah?”
Lelaki itu mengangguk pelan.
“Surya. Orang-orang di sini memanggil saya Pak Lurah,” katanya.
Saat berjabat tangan dengan Alya.
Pak Lurah tiba-tiba terdiam.
Tatapannya berubah.
Lalu berkata sangat pelan.
“Namamu siapa?”
“Alya.”
Beliau memegang tangan Alya sedikit lebih lama.
Wajahnya memucat.
Namun beberapa detik kemudian...
beliau tersenyum lagi.
“Mari... saya akan antar kalian ke rumah yang sudah disiapkan.”
Pak Lurah berjalan lebih dulu menyusuri jalan tanah yang membelah desa.
Keenam mahasiswa itu mengikuti dari belakang sambil sesekali menoleh ke kanan dan kiri.
Rumah-rumah berjajar rapi. Beberapa warga yang sedang duduk di beranda menghentikan obrolan mereka sejenak. Tatapan mereka mengikuti rombongan itu hingga menghilang di tikungan.
Alya sempat membalas senyum seorang ibu tua.
Namun anehnya... senyum itu perlahan memudar begitu mata mereka bertemu.
Entah mengapa, Alya merasa kedatangannya bukan disambut... melainkan diamati.