Blurb
Hari pertama Gema Mahendra di SMA Bina Cendekia sudah terasa aneh. Di tengah kegiatan belajar, seluruh siswa tiba-tiba membaca buku dalam suasana yang begitu tertib. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani melakukan hal lain. Semuanya mengikuti jadwal membaca yang telah ditentukan sekolah, termasuk buku yang wajib mereka baca.
Gema penasaran. Mengapa sekolah begitu memaksa siswanya membaca? Dan mengapa semua siswa tampak begitu menurut?
Jawabannya membuat Gema semakin tidak nyaman. Di SMA Bina Cendekia beredar sebuah rumor: siswa yang melanggar aturan, berkata buruk, bahkan berpikir negatif tentang sekolah bisa mendapatkan hukuman paling mengerikan, disedot ke dalam buku.
Rumor itu bukan sekadar cerita. Di perpustakaan terdapat banyak buku yang berisi kisah siswa yang disebut telah menghilang karena melakukan berbagai pelanggaran. Ketakutan terhadap hukuman itu membuat siswa patuh. Mereka tidak hanya takut melanggar aturan, tetapi juga takut mempertanyakan sistem yang sudah dibuat sekolah.
Gema tidak percaya.
Rasa ingin tahunya membawa ia bertemu Kinan, seorang siswi yang juga mempertanyakan kebenaran rumor tersebut. Bersama Raka dan Faldes, teman sekamarnya, Gema dan Kinan mulai menyelidiki berbagai kejanggalan di SMA Bina Cendekia.
Penyelidikan mereka menemukan pola yang mengganggu. Siswa yang kemudian dinyatakan hilang ternyata sebelumnya selalu dibawa ke klinik sekolah.
Ketika ada seorang siswa yang sudah tidak tahan dengan kehidupan di SMA Bina Cendekia berteriak, menangis, dan mengatakan ingin berhenti sekolah, Gema diam-diam mengikuti saat siswa itu dibawa ke klinik. Di sana ia melihat sesuatu yang membuat kecurigaannya semakin kuat, siswa tersebut disuntik dengan cairan berwarna ungu dari sebuah tabung bertuliskan BC-17.
Tidak lama kemudian, siswa itu dinyatakan telah disedot ke dalam buku karena dianggap berpikiran negatif dan tidak lagi ingin mengikuti kehidupan sekolah.
Gema yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Bersama Raka, Faldes, dan Kinan, ia menemukan sebuah ruangan tersembunyi di perpustakaan. Mereka menyelinap masuk dan mendapati bahwa ruangan tersebut merupakan ruang editor sekaligus ruang percetakan. Di sanalah buku-buku tentang siswa yang dinyatakan telah disedot ke dalam buku dibuat dan dicetak.
Mereka kemudian menemukan dokumen tentang Faris, teman sekamar Gema yang lebih dulu dinyatakan hilang, dan Kanaya, siswa yang pernah dilihat Gema dibawa ke klinik. Isi dokumen itu mengungkap kenyataan yang jauh lebih mengerikan: Faris dan Kanaya ternyata tidak pernah masuk ke dalam buku. Mereka dipindahkan ke tempat rehabilitasi kejiwaan setelah mengalami stres berat.
Buku-buku itu hanyalah cerita yang sengaja dibuat sekolah.
Cairan BC-17 digunakan sebelum para siswa tersebut dipindahkan, untuk memberikan efek tertentu pada pikiran mereka. Sekolah kemudian membangun cerita bahwa mereka telah disedot ke dalam buku agar siswa lain takut mengalami nasib yang sama.
Namun, bagi pihak sekolah, semua itu bukan kejahatan.
Mereka percaya rasa takut akan membuat siswa disiplin. Disiplin akan membuat mereka belajar. Dan siswa yang belajar serta mematuhi aturan akan tumbuh menjadi manusia yang berkarakter unggul.
Bagi Gema, tidak ada hasil baik yang bisa membenarkan cara seperti itu.
Ketika Gema dan teman-temannya berusaha mengungkap kebenaran, mereka harus berhadapan dengan sistem sekolah yang tidak hanya mengatur apa yang boleh mereka lakukan, tetapi juga mengontrol apa-apa yang boleh mereka pikirkan.
Dan semakin dekat Gema dengan kebenaran, semakin besar pula kemungkinan bahwa ia sendiri akan menjadi bagian dari cerita berikutnya. Seorang siswa yang dihilangkan, lalu dinyatakan telah disedot ke dalam buku.