HAL PERTAMA yang membuatku tidak nyaman di sekolah itu bukan gedungnya yang besar menyerupai kastil Eropa abad pertengahan, yang tampak asing di antara bangunan-bangunan rumah penduduk di sekitarnya. Bukan pula satpamnya yang gundul, berkumis baplang nan garang dengan tampang seperti digalak-galakkan. Tapi seorang siswa perempuan yang sedang membaca buku di bawah pohon. Rambut panjangnya jatuh tergerai ke depan, menutupi sisi kanan wajahnya. Aku hanya bisa melihat mata kirinya saja. Mata itu menatap lurus ke arahku, dingin. Aku sempat mengalihkan pandangan, tetapi beberapa detik kemudian mataku kembali kepadanya.
Jika dilihat dari luar, sekolah itu nyaris tidak punya alasan untuk membuat siapa pun merasa tidak nyaman. Gedung utamanya bergaya Eropa klasik dengan sentuhan arsitektur Andalusia. Dinding bata merah ekspos yang menjulang, berpadu dengan pilar-pilar berwarna terakota serta deretan pintu dan jendela berbentuk lengkung tinggi. Mengingatkanku pada bangunan-bangunan tua di selatan Spanyol yang pernah kulihat ketika berlibur ke sana bersama Ayah dan Bunda beberapa tahun lalu.
Warna keemasan sinar matahari sore jatuh lembut di hampir seluruh permukaannya, menonjolkan warna merah bata dan lengkungan-lengkungan pada fasadnya. Di balik gedung, perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang, membuat sekolah itu menjadi aksen yang mencolok di antara pepohonan.
Aneh juga. Sekolah semegah ini justru berdiri jauh dari keramaian.
Kalau bukan karena tulisan berwarna silver, SMA BINA CENDEKIA, di atas gerbang depan, aku mungkin mengira Ayah sedang membawaku ke sebuah sekolah di Eropa.
“Bagus, ya?” kata Bunda.
Aku tidak menjawab.
Ayah yang duduk di balik kemudi mengangguk. Bibirnya tersenyum kecil, senyuman khasnya yang sering kali diprotes Bunda karena dianggap terlalu minimalis.
Di dalam kabin mobil yang senyap, aku kembali menyalakan ponsel. Ibu jariku bergerak lambat mengusap layar, membuka fotoku bersama dua sahabatku, Dito dan Arga, yang diambil beberapa minggu lalu di Jakarta.
Saat itu kami bertiga sedang duduk di sebuah coffee shop dekat sekolah lamaku. Dito memasang wajah bodoh, Arga tertawa lebar sambil memegang gelas berisi latte yang tinggal setengah lagi, dan aku mengangkat dua jari di belakang kepala mereka.
Sebuah foto yang dulu biasa saja, tapi entah mengapa hari ini terasa begitu berbeda. Baru aku sadar, bahwa jarak ternyata tidak hanya memisahkan, tetapi juga bisa mengubah cara kita memaknai sesuatu.
Dua minggu sudah sejak Ayah dan Bunda memberitahuku bahwa aku akan pindah sekolah. Dua minggu yang kuhabiskan dengan protes, membujuk, membuat janji, bahkan bersumpah bahwa aku akan berubah.
Dan semua tidak berhasil.
Alasannya selalu saja sama. Aku terlalu banyak bermain game. Terlalu sering menggunakan ponsel. Waktu waktu screen time-ku terlampau tinggi, nilai-nilaiku turun, dan beberapa kali membuat masalah di sekolah.
Menurut Ayah, aku membutuhkan lingkungan baru. Lingkungan yang tidak memberiku terlalu banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Termasuk bermain game sampai lupa waktu.
“Masih bisa berubah pikiran, Yah,” bujukku.
“Tidak.”
Aku menatap Ayah melalui kaca spion. Tak ada senyum. Tatapannya tetap lurus ke depan. Kusandarkan kepala ke jok, kembali melayangkan pandangan ke luar.
“Kenapa harus sekolah ini sih, Yah?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Mobil mulai memperlambat laju ketika mendekati gerbang.
“Karena sekolah ini bagus,” katanya.
“Itu kata brosur,” sanggahku.
“Karena kamu butuh sekolah yang lebih disiplin.”
“Itu menurut Bunda.”
Ayah melirikku melalui kaca spion.
“Beruntung Ayah punya kenalan di sekolah ini. Kalau enggak, kamu belum tentu bisa masuk di pertengahan tahun seperti ini.”
Aku mendengus.
Mobil berhenti sebentar di depan gerbang. Satpam gundul berkumis baplang itu berdiri. Matanya tajam mengamati mobil kami.
“Mau antar siswa baru, Pak,” kata Ayah setelah menurunkan kaca.
Satpam itu mengangguk, lalu gerbang perlahan terbuka.
“Silakan, Pak. Nanti ada guru yang menunggu di ruang lobi. Lurus saja ke gedung utama,” ucapnya.
Mobil kami masuk. Bergerak pelan melewati jalan yang diapit pepohonan di kanan kirinya. Dan, saat itulah aku melihat anak itu. Siswa perempuan. Sendirian. Dia duduk di bawah pohon ketapang kencana yang besar di sisi jalan. Sebuah buku terbuka di pangkuannya. Rambut panjangnya terjuntai ke depan, menutupi sebagian wajahnya. Kacamata berbingkai hitam yang dikenakannya membuat wajahnya terlihat lebih serius daripada seharusnya.
Mungkin aku tidak akan terlalu memperhatikannya, kalau saja dia benar-benar sedang membaca bukunya. Tapi ini tidak. Alih-alih membaca buku, dia malah menatap ke arahku. Tatapannya lekat, mengikuti gerak mobil yang melaju perlahan.
Aku spontan menoleh ke belakang. Dia masih menatap. Seketika aku kembali menghadap ke depan, saat pandangan kami bertemu.
“Kenapa?” tanya Bunda.
“Enggak.”
“Kamu lihat apa?”
“Anak.”
“Anak mana?”
Aku menunjuk ke belakang.
Bunda menoleh.
“Yang mana?”
Aku kembali melihat anak itu melalui kaca belakang. Dia sudah menunduk. Kembali membaca buku.
Aku mengernyit.
Mobil terus bergerak lambat memasuki halaman sekolah.
Baru beberapa detik kemudian aku sadar ada sesuatu yang jauh lebih aneh daripada anak itu. Aku melihat siswa-siswa lain di sepanjang jalan. Mereka berpakaian santai, tengah bercengkerama di area taman sekolah. Eh, tidak. Mereka tidak sedang bercengkerama. Mereka sedang membaca buku. Bukan satu dua orang, tapi puluhan.
Ada yang duduk sendirian di bangku taman, ada yang berkelompok di atas lapangan rumput. Beberapa lainnya berdiri sambil bersandar pada dinding atau tiang lampu taman. Semuanya memegang buku. Mereka tampak begitu asyik dengan bukunya masing-masing, sampai nyaris tidak memedulikan kedatangan kami. Beberapa siswa melirik sekilas ketika mobil lewat, kemudian kembali menundukkan kepala.
Aku memandang ke luar jendela.
Tidak ada satu pun yang bermain ponsel. Tidak ada yang mengobrol. Tidak ada yang berlarian. Tidak ada yang bercanda sambil terbahak. Semuanya membaca. Aku mencari sampai menemukan, setidaknya satu orang yang melakukan sesuatu yang lain selain membaca. Tapi tidak ada.
“Keren, kan?” kata Bunda sambil tersenyum.
“Pantes saja lulusannya pada sukses. Lihat tuh, sore-sore gini, anak-anaknya pada asyik baca buku,” lanjutnya. Bunda bahkan masih tersenyum ketika tatapannya sudha kembali lurus ke depan.
“Bunda nggak merasa aneh?”
“Aneh gimana?”
Aku menunjuk ke luar.
“Itu, mereka semua baca buku.”
“Namanya juga sekolah.”
“Enggak semua anak sekolah begitu.”
“Mulai sekarang kamu harus begitu.”
Aku menatap Bunda. Dia tertawa. Aku tidak.
Ada aroma tidak nyaman yang dihembuskan halaman sekolah ini. Bukan karena mereka membaca. Tapi, justru karena mereka semua membaca, di waktu yang bersamaan.
Kami berhenti di depan gedung utama. Seorang pria berpakaian kemeja biru dipadu celana kain berwarna krem dan sepatu kets putih, berdiri di dekat pintu. Kutebak usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Tapi karena penampilannya yang kasual, membuatnya tampak lima tahun lebih mudah.