SAMBIL REBAHAN kuraih ponsel di saku celana. Kucoba membuka media sosial, tapi loading, lama. Kuperiksa jaringan ternyata tipis. Hanya satu baris, kadang turun tidak ada sama sekali, lalu naik jadi dua baris, turun lagi satu baris, lalu hilang lagi. Sudah menjadi rahasia umum di daerah perbukitan seperti ini memang selalu susah sinyal. Kuletakkan ponsel di sampingku. Kini yang bisa kulakukan hanyalah menatap kosong ke langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Beberapa saat kemudian mataku menjadi berat. Otakku sedang dalam peralihan dari mode alfa ke teta, menggantung di batas antara sadar dan terlelap, saat kudengar pintu dibuka dari luar dan tiga orang siswa masuk bersamaan. Seketika aku bangkit duduk.
Langkah tiga orang itu terhenti begitu mendapatiku di dalam kamar.
“Hai, gua Gema. Murid baru,” kataku.
“Oh. Saya Raka Pradipta. Panggil aja Raka.”
Anak yang berkacamata, berkulit putih, dengan rambut model belah samping, mengulurkan tangan. Ada yang unik dan aku suka dari nada bicaranya. Nada bicara khas orang sunda.
Kusambut uluran tangannya.
“Aku Faris,” ujar yang paling tinggi, kurus. Kulitnya tidak seputih Raka, tapi juga tidak bisa dibilang hitam. Model rambutnya, sepertinya under cut. Hanya saja karena terlalu pendek jadi lebih mirip gaya rambut tentara.
Seperti Raka, nada bicara Faris juga cukup unik. Nada bicara khas orang Indonesia Timur. Belakangan aku baru tahu, ternyata ia berasal dari Sulawesi, tepatnya Kota Palu. Gak timur-timur banget sebenarnya.
“Gua Naufal Desta. Panggil aja Faldes.” Giliran yang berambut keriting dan berkulit gelap mengulurkan tangan.
“Bagus nama lo,” pujiku. Benar-benar memuji, bukan sekadar basa-basi.
Entahlah, aku memang selalu suka nama orang yang bisa disingkat-singkat begitu. Naufal Desta dipanggil Faldes. Bagus. Di sekolah lamaku, ada Iwan Gunawan, yang dipanggil Igun. Unik. Teman di rumahku, Denny Sumantri, dipanggil Densu. Suka. Atau kakak kelasku waktu SMP, Dewi Sinta, yang dipanggil Desi. Kalau yang ini, aku suka banget. Bukan cuma namanya, tapi juga orangnya. Hehehe…
“Baju lo keren juga,” kataku melirik ke jersey klub bola Liverpool lengan panjang yang dipakainya. Padahal udara di sini lumayan hangat, tapi dia seperti betah saja dengan baju lengan panjang itu.
“Ah, biasa aja. Cuma KW,” jawabnya.
“Bisa aja lo,” kataku berseloroh.
“Suka Liverpool?” tanyaku.
“Nggak juga. Cuma suka warnanya aja. Hehehe.”
Aku balas nyengir tipis.
“Oh ya, tempat tidur gua yang mana?”
“Yang ujung itu tempat tidur saya,” ujar Raka, menunjuk ranjang paling ujung yang menempel ke dinding.
“Di samping saya, tempat tidur Faris. Yang paling ujung ini punya Faldes.”
Ia lalu menunjuk salah satu ranjang. “Nah, kamu yang itu tuh.”
Aku mengikuti arah telunjuknya. Ranjangku berada di urutan ketiga dari kiri, di antara ranjang Faris dan Faldes. Kuperhatikan ukuran semua ranjang itu sama. Sebuah nakas kayu cokelat berdiri di sisi setiap tempat tidur. Bagian atasnya cukup lebar untuk meletakkan beberapa barang kecil, sedangkan di bawahnya terdapat dua buah laci besar. Seprai putih sudah terpasang rapi, lengkap dengan bantal dan selimut.
“Ini punya gua?”
“Iya,” jawab Raka, sambil berjalan menuju tempat tidurnya, lalu langsung merebahkan tubuhnya di situ. Disusul Faris dan Faldes yang juga langsung melompat, rebah di tempat tidurnya.
Aku lalu duduk di tepi ranjang, mencoba kasurnya dengan menekan-nekan telapak tangan dan pantatku ke kasur.
Lumayan empuk.
“Itu lemari kamu juga,” kata Raka sambil menunjuk deretan lemari di sisi kamar yang lain.
“Pintu yang paling kanan.”
Aku berdiri dan mendekatinya. Sebuah lemari besar dengan empat buah pintu, berdiri di sana. Masing-masing dari kami mendapat satu pintu untuk menyimpan pakaian.
Kubuka lemari punyaku. Seketika bau lemari yang lama tidak dipakai menyeruak. Kumasukkan koperku, tanpa mengeluarkan isinya terlebih dahulu. Nanti saja kurapikan, pikirku.
“Kalau meja belajar?” tanyaku sambil kembali ke tempat tidur.
“Ada dua meja belajar itu. Gantian makenya,” jawab Faris, tanpa melihat ke arahku, karena kedua matanya terpejam, sementara lengannya dijadikan tumpuan kepala.
Aku menoleh ke arah meja-meja yang berjajar di sisi lain kamar. Cukup lumayan, meski tidak ada meja khusus untuk masing-masing penghuni.
Aku lalu kembali merebahkan tubuhku, memandangi langit-langit kamar. Untuk Beberapa detik kami hanya diam.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Kalian tadi habis baca buku juga?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melirik ke Faldes di sebelah kananku, lalu ke Faris di sebelah kiriku. Mata kedua anak itu terpejam, tapi kutahu mereka tidak tidur.
Aku mengernyit.
“Ka. Raka?”
Yang dipanggil hanya mengeluarkan suara, “Hmmm.”
“Emang di sini wajib harus baca buku, ya?”
Kucoba mencari jawaban dari Raka, karena sejak tadi, si bocah sunda itu yang kulihat paling banyak bicara di antara mereka bertiga.
“Iya,” jawabnya. Tatapannya kosong ke langit-langit kamar.
“Tiap hari?”
“Iya. Ada jadwal khusus tiap hari.”
“Jadwal khusus? Jam berapa?” tanyaku cepat.
“Istirahat pertama. Istirahat kedua setelah makan siang. Sore, jam setengah lima sampai setengah enam. Terus ntar, jam delapan sampe jam Sembilan.”
“Hah, malem juga?”
Aku langsung bangkit dan duduk.
“Buset.”
Raka diam.
“Namanya juga sekolah. Tar lama-lama lo juga terbiasa,” giliran Faldes yang bersuara, sambil terus menutup matanya.
“Lama-lama bosan,” timpal Faris.
“Sekarang aja, aku uda ngerasa bosan banget. Pengen kabur rasanya dari sini,” sambungnya.
“Huss, gak boleh ngomong gitu, ah. Bahaya tau,” Raka tiba-tiba menyela.
“Emang bahaya kenapa?” tanyaku.
“Parno, mereka. Otaknya udah mulai dimasuki pemikiran gak masuk akal. Padahal…,”
Faris belum juga menyelesaikan kata-katanya, Raka sudah menghambur ke arahnya, lalu membekap mulutnya.
“Udah. Bisa diem gak!”
Faris berontak melepaskan bekapan Raka. Makin aneh aku melihat kelakuan teman baruku itu. Sampai akhirnya Raka melepaskan bekapannya, Faris terlihat menggerutu tidak jelas.
“Bukunya dari mana?” tannyaku kemudian, setelah kami hanya diam beberapa saat.
“Dari perpustakaan,” jawab Raka.