AKU terbangun ketika cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai jendela, jatuh tepat di mataku. Sayup-sayup kudengar suara musik dari pengeras suara. Untuk beberapa saat aku masih terdiam di atas kasur, coba mengembalikan ingatan di mana aku berada. Butuh beberapa detik hingga semuanya kembali utuh.
Bina Cendekia.
Asrama.
Sekolah baru.
Aku mengusap wajah, kemudian menoleh ke tempat tidur yang lain. Raka, Faris dan Faldes sudah tidak ada. Tempat tidur mereka sudah rapi. Selimut terlipat, seprai tertata, dan bantal sudah di posisinya. Sangat rapi. Presisi. Tidak miring, dan tepat di tengah-tengah. Tidak terlalu kanan, tidak terlalu kiri.
Aku melirik jam di dinding. 05.50.
“Buset.”
Aku langsung bangkit.
Ternyata mereka sudah bangun sejak tadi. Entah mereka yang tidak membangunkanku, atau aku yang terlalu kebluk.
Kuambil handuk dan perlengkapan mandi, lalu keluar kamar. Aku bergegas ke kamar mandi yang terletak di belakang deretan kamar asrama, melalui sisi tangga yang berada di tengah-tengah asrama.
Sialnya, kamarku berada di ujung, membuat kamar dan kamar mandi lumayan berjarak. Aku harus melewati tujuh kamar untuk mencapai area tangga, lalu melipir ke belakang, ke kamar mandi. Untungnya, setiap lantai terdapat toilet dan kamar mandinya masing-masing, jadi aku tidak perlu turun ke lantai bawah untuk mandi atau pup.
“Pasti sudah antri banget,” gumamku.
Sesampainya di kamar mandi, prasangkaku itu menguap begitu saja. Suasana di kamar mandi ternyata sangat lengang. Kosong.
Penasaran, aku berlari menuruni tangga menuju lantai dasar. Di ujung tangga, kulongokkan kepala, kulihat semua siswa sudah berada di ruang makan. Semua sedang sarapan. Aku kembali berlari ke lantai tiga. Secepat kilat kuguyurkan air ke tubuhku.
Aku memang sering kali terlambat bangun, tapi tidak pernah aku mandi seperti ini. Macam orang kesurupan.
Selesai mandi, aku bergegas menuju kamarku. Kupakai kaos dan celana boxer. Baru saja hendak keluar kamar, kusadari satu hal. Ini asrama. Sepertinya tidak pantas memakai celana pendek seperti ini, bahkan sekedar untuk sarapan. Aku kembali, kuambil celana training hitam yang masih di dalam koper, lalu kupakai. Buru-buru aku melesat menuju ruang makan di lantai satu.
Sesampainya di ruang makan, kuperhatikan semua tengah menikmati sarapannya. Dan, semua dalam keadaan berseragam rapi.
Segera kuambil sarapanku di meja panjang, menyerupai meja prasmanan. Beberapa petugas berdiri, melayani, memperhatikanku. Setelah itu, kusapu seisi ruangan, mencari kursi yang masih kosong.
Ada satu, persis di sisi Faris. Aku bergegas, lalu duduk di kursi itu, di tengah tatapan tajam para siswa lain. Ada yang memandangku datar, ada pula beberapa yang tersenyum melihatku grasak-grusuk.
“Cepat, waktu sarapan tinggal lima menit lagi,” ucap Faris setengah berbisik.
Tadinya aku ingin bertanya kenapa dia tidak membangunkanku, tapi urung. Segera kusendok sarapanku.
“Satu menit lagi. Tidak boleh ada sisa,” Faris kembali berbisik.
Tak kupahami itu. Tapi tetap saja kulahap makanan di piringku.
Kulihat semua siswa tampak santai, sambil mengobrol. Sarapan mereka sudah habis tak bersisa. Hanya aku yang masih makan dengan tergesa-gesa seperti seekor babi.
Jujur, apa yang kulihat di ruang makan saat ini sedikit di luar prediksiku. Tadinya aku mengira bahwa suasana makan di sekolah ini akan serupa suasana makan di pelatihan militer. Kaku. Tidak boleh ada yang bersuara. Tapi ternyata tidak. Suasana makan terlihat sangat santai, sambil diiringi alunan musik dari pengeras suara di sudut ruangan.
Hingga akhirnya, suara musik berhenti, bersamaan dengan itu seluruh siswa berdiri dari kursinya.
“Habiskan!” Faris kembali berbisik dengan wajah serius, dan mata sedikit melotot.
Tanpa pikir panjang, kulahap suapan nasi dan telur terakhir di piringku.
Kulihat Faris mengangguk. Aku langsung berdiri, mengikuti siswa lain, mengambil piring bekas makanku, dan gelas. Saat itu aku baru sadar, bahkan aku belum minum seteguk pun.
Kulihat Faris mengangguk lagi. Sekesiap kuhabiskan semua air di gelasku, sambil bergerak menuju tempat penyimpanan piring dan gelas kotor.
***
“Hahaha…,” tawa Faris, Faldes dan Raka pecah saat kami sudah berada di dalam kamar.
“Semua ada waktunya,” ucap Raka.
“Waktu makan akan habis, bersamaan dengan berhentinya musik yang diputar untuk mengiringi kita makan,” sambungnya.
“Kalian mandi kapan?” tanyaku.
“Jam lima. Bila perlu jam empat. Biar bisa bersiap-siap, lalu sarapan dengan tenang. Nggak grasak-grusuk kayak lo tadi,” jawab Faldes.
“Kenapa gak pada ngebangunin gua?”
“Yeee, kata siapa? Kamu nya weh yang kebluk. Saya udah bangunin berkali-kali. Tapi gak bangun-bangun,” ujar Raka.
“Iya, betul. Lo tidur, atau latihan mati? Hahaha…,” timpal Faldes, disambut tawa semuanya.
“Ari kamu udah ngambil seragam?” tanya Raka, lagi-lagi dengan nada khas sundanya.
“Belum.”
“Cepetan atuh ambil dulu. Di bagian sarana.”
“Di gedung depan?”
“Iya.”
“Ya udah, gua ambil seragam dulu ya.”
Aku bergegas.
“Gak ada yang niat nganter, gitu?”
Aku membalik badan di ambang pintu.
“Males. Mendingan siap-siap. Beberapa menit lagi kita harus ke kelas,” kata Faldes, diamini oleh Raka.
“Ah payah,” aku menyeringai.
“Ya udah, ayo gua anter,” Faris yang sejak tadi cuma diam, tiba-tiba nyahut.
“Nah gitu dong.”
Kami lalu bergegas menuju ruang kesiswaan di gedung utama. Aku berjalan di samping Faris, yang entah kenapa jalannya lambat banget.
Aku melirik ke arahnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gua capek, Gem.”
“Capek kenapa?”
Dia hanya menggerakkan bahunya naik turun. Tidak menjawab.
“Gua udah males banget di sekolah ini,” sambung Faris, sementara pandangannya lurus ke depan.
Aku bingung harus menanggapinya bagaimana. Mau memberinya nasihat pun susah, karena aku sendiri masih baru di sini. Akhirnya, aku hanya diam saja mendengar Faris berkata seperti itu.
Setibanya di ruang bagian sarana, seorang staf yang masih mudah menyambutku.
“Selamat pagi, pak. Saya Gema, murid baru. Mau ambil seragam?” ucapku.
“Oh, iya. Ini seragam kamu, sudah disiapkan. Lengkap dengan baju olahraga dan jas almamater.”
Dia menyerahkan satu plastik putih besar.
“Segera ganti baju. Sebentar lagi kelas akan dimulai.”
“Baik, Pak. terima kasih.”
Aku bergegas kembali ke kamar, untuk berganti pakaian.