Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #1

Aroma Kayu dan Duka yang Membeku

Kunci itu terasa dingin, seolah-olah logamnya baru saja dikeluarkan dari lemari es. Saat Maya memutarnya, suara klik yang dihasilkan terdengar begitu nyaring di tengah telinga yang berdenging oleh sisa-sisa isak tangis di pemakaman tadi. Pintu kayu jati itu terbuka perlahan, mengeluarkan derit panjang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah diperbaiki.

Aroma itu langsung menyergapnya. Bau kayu gergajian, pernis yang mengering, dan debu tipis yang menari di bawah sela-sela cahaya sore. Aroma Baskara.

"Maya? Kamu sudah di dalam?"

Maya tersentak. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Pak Hadi, tetangga sekaligus sahabat lama ayahnya, berdiri di ambang pagar dengan wajah yang masih menyisakan duka.

"Iya, Pak. Baru saja sampai," jawab Maya pelan. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh desir angin yang membawa aroma krisan dari karangan bunga di depan.

"Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau butuh apa-apa, ketuk saja pintu rumah Bapak. Istri Bapak sedang membuat kolak, nanti Bapak antar ke sini."

Maya memaksakan sebuah senyum kecil yang terasa kaku di pipinya. "Terima kasih, Pak Hadi. Saya hanya ingin... membereskan beberapa hal dulu."

"Rumah ini terlalu luas untuk ditinggali sendirian, apalagi dalam keadaan seperti ini," Pak Hadi melangkah selangkah lebih dekat, matanya menatap ke dalam ruang tamu yang gelap. "Ayahmu itu orang yang sulit, Maya. Tapi dia mencintaimu dengan caranya sendiri. Kau tahu itu, kan?"

Maya terdiam sejenak. Tangannya masih memegang gagang pintu, meremasnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Caranya sendiri itu yang tidak pernah saya mengerti, Pak. Keheningan ini... saya sudah kenyang merasakannya selama dua puluh delapan tahun."

Pak Hadi menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan rahasia yang tak terucap. "Mungkin sekarang, saat dia sudah tidak ada, rumah ini akan bicara padamu. Istirahatlah, Nak."

Setelah Pak Hadi pergi, Maya melangkah masuk dan menutup pintu. Keheningan di dalam rumah ini memiliki massa; ia terasa berat, menekan pundaknya hingga ia merasa sesak. Ia berjalan menuju ruang tamu, jemarinya menyentuh permukaan meja kayu yang halus. Ayahnya yang mengerjakan meja ini. Ayahnya yang menghaluskan setiap sudutnya hingga tak ada satu pun serat kayu yang melukai tangan Maya kecil. Namun, pria itu tak pernah sekali pun duduk di sana untuk sekadar bertanya bagaimana harinya di sekolah.

Ponsel di tasnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar. Maya menarik napas panjang sebelum menggeser ikon hijau.

"Halo, Adrian."

"Maya? Kamu sudah sampai di rumah Ayahmu?" suara Adrian terdengar praktis, seolah-olah dia sedang menanyakan status proyek bangunan yang sedang mereka kerjakan.

"Sudah. Sekitar satu jam yang lalu."

"Bagus. Bagaimana kondisinya? Apa ada yang perlu diperbaiki segera? Aku bisa menelepon kontraktor besok untuk memeriksa atap atau kelistrikannya."

Maya memejamkan mata. Adrian selalu punya solusi teknis untuk setiap masalah emosional. "Rumahnya baik-baik saja, Adrian. Hanya kotor sedikit."

Lihat selengkapnya