Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #2

Warisan yang Terabaikan

Kegelapan menelan Maya. Aroma kayu yang sebelumnya menenangkan kini terasa menekan, seolah dinding-dinding itu menyempit, menjebaknya dalam ruang hampa. Jurnal itu masih tergenggam erat di tangannya, halaman terakhirnya terbuka, menampilkan tulisan kaku itu: Tanggal besok.

Tanggal besok apa? Maya berbisik pada keheningan yang memekakkan. Apa yang akan terjadi besok, Yah? Atau apa yang Ayah rencanakan untuk besok?

Detak jantungnya berpacu tak karuan, mengisi kekosongan suara di sekitarnya. Otaknya berputar cepat, mencoba menemukan korelasi. Apakah ini tanggal perbaikan terakhir? Sebuah petunjuk? Atau hanya catatan kosong yang kebetulan belum terisi?

Ia meraba-raba dinding, mencari saklar lampu yang kini tak berguna. Jemarinya menyentuh permukaan dingin, lalu beralih ke jendela. Dari sana, ia bisa melihat kerlip lampu tetangga. Dunia di luar kamar ini masih berjalan, masih terang. Hanya kamarnya yang kini diselimuti misteri pekat. 

Tidak mungkin ini hanya kebetulan. Suara hatinya berseru. Tidak setelah semua yang kutemukan di jurnal ini. 

Maya menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia merasakan dinginnya lantai merambat naik ke tulang. Ia tidak bisa membaca lebih jauh dalam kegelapan ini. Ia harus menunggu. Menunggu pagi. Menunggu cahaya yang akan mengungkap rahasia yang mungkin sengaja ayahnya tinggalkan untuknya. Malam itu, tidur tak datang. Matanya terpejam, namun benaknya terus bekerja, menyusun ulang kepingan-kepingan masa lalu yang kini terasa begitu asing dan baru.

 Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah gorden, melukis garis-garis emas di lantai kayu. Maya terbangun dengan kepala berat, namun matanya dipenuhi tekad yang membara. Jurnal itu masih tergeletak di sampingnya, terbuka pada halaman terakhir yang kini terlihat lebih jelas.

 17 September 2023. Perbaikan...

 Tulisannya terpotong. Hanya tiga kata itu yang terlihat, disusul coretan tak beraturan yang menuruni halaman. Jurnal itu seolah-olah ditutup tiba-tiba, ditinggalkan sebelum sempat diselesaikan. Ayah meninggal dua hari yang lalu, pikir Maya, sebuah realitas pahit yang kembali menusuk. Berarti ini catatan dua hari sebelum kematiannya.

 Apa yang ingin Ayah perbaiki? Apa yang belum sempat Ayah tulis?

Lihat selengkapnya