Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #3

Meja Makan yang Membeku

Rasa penasaran itu bagai api yang menyala di rongga dadanya, memanaskan kepingan-kepingan luka lama menjadi bara. Kotak cendana di tangannya—perhiasan ibu yang Baskara simpan di antara perkakas—adalah sebuah wahyu. Jika Ayah menyembunyikan cintanya dalam perbaikan engsel, dalam genting yang kokoh, bahkan dalam perhiasan Ibu yang disimpannya dengan rapi, lalu mengapa ia begitu dingin kepadaku? Pertanyaan itu berulang, mengikis benteng amarahnya perlahan, menyisakan kerentanan yang mendalam.

Siang merambat menjadi sore, dan perutnya mulai keroncongan, menariknya keluar dari kamar Baskara. Dapur di rumah itu terasa seperti gua yang dingin, terlampau besar untuk dihuni satu jiwa. Lampu neon yang berkedip di atas kepala menyorot kesunyian, menyoroti setiap noda dan retakan di ubin yang entah mengapa kini terasa seperti luka lama yang baru disadari. Maya melangkah ke kulkas, isinya hampir kosong, hanya beberapa sayuran layu dan sebotol air mineral. Ayahnya memang tidak pernah peduli banyak soal makanan, apalagi setelah ibunya tiada.

Ia memutuskan untuk memasak sesuatu yang sederhana, mungkin telur dadar dan nasi. Suara wajan yang berdesir saat minyak menyentuh permukaannya terasa begitu asing, terlalu bising untuk telinga yang terbiasa dengan keheningan mematung. Aroma bawang putih dan telur yang digoreng menyebar ke seluruh ruangan, sebuah aroma domestik yang entah mengapa justru memicu kesepian yang lebih dalam. Mengapa aroma makanan tidak pernah memenuhi rumah ini dengan kehangatan? tanyanya pada diri sendiri.

Makan malam siap, terhidang di atas piring di meja makan kayu jati yang panjang. Meja itu, mahakarya tangan Baskara, kini terlihat seperti sebuah panggung teater yang kosong. Sebuah panggung yang selama puluhan tahun menyaksikan drama keheningan. Maya duduk di salah satu kursi, sendirian. Suara dentingan sendoknya memecah kesunyian, lalu tenggelam kembali dalam hampa.

Ia menatap piring di depannya, nasi putih mengepul. Tiba-tiba, sebuah memori menyeruak, begitu jelas seolah baru terjadi kemarin. Maya kecil, berusia delapan tahun, duduk di kursi yang sama. Kakinya belum menyentuh lantai, bergoyang-goyang di udara. Di seberangnya, Baskara. Seperti biasa, ayahnya hanya makan, matanya terpaku pada piringnya, sendoknya bergerak tanpa suara. Ibunya duduk di sampingnya, sesekali mencoba mengisi kekosongan dengan obrolan ringan, namun sering kali gagal.

"Ayah," panggil Maya kecil, suaranya ceria, penuh harapan. "Tadi di sekolah, Bu Guru bilang kita harus buat kerajinan tangan dari barang bekas. Aku mau bikin rumah-rumahan dari stik es krim! Ayah bisa bantu aku potong stiknya, kan?"

Baskara mengangkat kepalanya, matanya yang kelabu menatap sekilas. "Kalau Ayah tidak sibuk." Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang ide rumah-rumahan Maya, tidak ada janji, hanya sebuah kemungkinan yang terasa begitu jauh.

Maya kecil merasa jantungnya mencelos. Ia menatap ibunya yang tersenyum meminta maaf. Ibunya mengusap rambutnya. "Ayahmu sedang banyak pekerjaan, Sayang. Nanti Ibu bantu, ya?"

Tapi Maya tidak ingin dibantu Ibu. Ia ingin Ayah yang memotong stik es krim itu. Ia ingin Ayah bertanya, rumah-rumahan seperti apa yang ingin kau buat, Nak? Ia ingin mendengar suaranya, tertarik pada dunia kecilnya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah bisikan angin, dan kepala ayahnya yang kembali menunduk, fokus pada makanannya.

Lihat selengkapnya