Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #4

Gudang Rahasia dan Kotak Tua

Maya terbangun dengan sensasi baru yang aneh. Bukan lagi duka yang menindih, bukan pula amarah yang membara, melainkan sebuah kekosongan yang menuntut untuk diisi, sebuah keheningan yang ia bersumpah untuk pahami. Setelah meninggalkan piring makan yang tak tersentuh semalam, ia tidur di kamarnya sendiri, terhuyung antara bayang-bayang masa lalu dan janji yang baru saja ia buat untuk dirinya. Ia tidak akan membiarkan kebisuan menelannya hidup-hidup. Ia harus memulai, menemukan titik awal dari bahasa yang tak terucapkan itu.

Pikirannya melayang pada gudang di belakang rumah. Sebuah tempat yang selalu ia hindari, sarang debu dan laba-laba, simbol segala sesuatu yang Baskara simpan namun tak pernah ia sentuh secara emosional. Mungkin di sana, di antara barang-barang yang Ayah anggap "penting" untuk disimpan, ada sesuatu yang bisa kubaca. Keraguan merayap. Apa jika ia hanya akan menemukan lebih banyak perkakas? Lebih banyak bukti bahwa ayahnya hanya peduli pada fungsi dan materi, bukan pada hati? Namun, rasa ingin tahu yang membuncah semalam lebih kuat. Ia butuh jawaban. 

Sore itu, setelah memaksakan diri menelan beberapa suap makanan ringan, Maya berjalan ke halaman belakang. Matahari sudah condong ke barat, memanjangkan bayangan pohon mangga hingga menyentuh dinding gudang. Udara terasa lembap, membawa aroma tanah basah bercampur dedaunan kering. Gudang itu berdiri seperti kotak kayu raksasa yang sudah tua, catnya mengelupas, dan jendelanya buram oleh kotoran yang menumpuk. 

Engsel pintunya berdecit tajam saat Maya menariknya terbuka. Aroma apak, kayu lapuk, dan karat menyeruak, menyengat hidungnya. Cahaya sore hanya mampu menembus sedikit, melukis siluet benda-benda aneh yang bertumpuk di dalamnya. Rak-rak kayu yang miring menahan kaleng-kaleng cat tua, karung-karung berisi pasir, dan tumpukan kayu bekas. Sebuah sepeda roda tiga miliknya waktu kecil tergeletak miring, rodanya berkarat, warnanya pudar. Maya menyentuh joknya yang robek. Ayah tidak pernah membuang apa pun.

Ia melangkah masuk, hati-hati menghindari tumpukan barang. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Debu beterbangan setiap kali ia menggeser sesuatu, menciptakan kabut halus yang menyesakkan dada. Ia menemukan tongkat baseball ayahnya yang sudah retak, sebuah topi nelayan yang lusuh, dan beberapa pot bunga tanah liat yang retak. Masing-masing adalah fragmen dari kehidupan yang ia kira kenal, namun kini terasa begitu jauh.

"Ayah, apa yang kau sembunyikan di sini?" bisik Maya, suaranya terdengar hampa di tengah keheningan. Ia mulai menggeser tumpukan kayu gelondongan di sudut paling gelap. Tangannya gemetar, bukan hanya karena beratnya kayu, tetapi juga karena ketakutan yang menanti di balik setiap benda. Bagaimana jika tidak ada apa-apa? Bagaimana jika aku hanya menemukan kekosongan lain?

Rasa kecewa adalah beban yang sudah terlampau sering ia pikul. Ia tidak ingin merasakannya lagi. Namun, janji yang ia buat untuk dirinya sendiri terasa seperti dorongan dari belakang, sebuah bisikan yang memintanya untuk terus mencari. Ayahmu itu orang yang sulit, Maya. Tapi dia mencintaimu dengan caranya sendiri. Kata-kata Pak Hadi kembali terngiang. Caranya sendiri.

Sebuah bangku kerja yang kusam tersembunyi di balik tumpukan papan. Bangku itu kokoh, terbuat dari kayu jati tua yang kuat. Maya teringat bangku yang sama di bengkel ayahnya di rumah utama, tempat ia biasa mengukir dan memperbaiki barang. Ia menyentuh permukaan bangku itu. Dingin dan keras, seperti tangan ayahnya.

Di bawah bangku, kakinya menyentuh sesuatu yang lebih padat dari debu. Ia membungkuk, menyingkirkan jaring laba-laba tebal dan tumpukan koran lusuh. Di sana, terselip rapat di antara kaki bangku dan dinding gudang, adalah sebuah kotak kayu. Tidak seperti kotak-kotak lain yang tampak asal-asalan, kotak ini terlihat terawat. Permukaannya mulus, warnanya cokelat tua, mengkilap samar meski diselimuti debu.

Lihat selengkapnya