Maya menatap lubang kunci kecil di bagian bawah kotak kayu jati itu, seolah lubang itu adalah mata yang memandangnya balik, menantang. Kunci? Di mana kau menyembunyikan kunci ini, Yah? Pikirannya berputar, memindai setiap sudut rumah, setiap bayangan yang mungkin menyimpan rahasia lain. Gudang itu terlalu berantakan untuk kunci sekecil ini. Kamar ayahnya sudah ia geledah semalam.
Ia kembali menatap meja tamu yang kokoh. Jati tua yang sama dengan kotak di tangannya. Ayahnya yang membuat meja ini, dengan setiap detail yang presisi. Ayah selalu menyukai kesederhanaan, efisiensi. Sebuah kunci tidak akan disimpan di tempat yang sembarangan. Mata Maya menyusuri bagian bawah meja, mencari ukiran aneh, sambungan yang longgar, apa pun yang mengkhianati rahasia.
Jemari rampingnya meraba sisi dalam meja, di bawah permukaan yang halus. Ia menyentuh serat kayu, merasakan sedikit tonjolan. Ini bukan ukiran. Lebih seperti... sebuah tombol kecil yang tersembunyi. Dengan napas tertahan, ia menekannya. Klik. Sebuah suara samar terdengar dari sisi meja yang lain.
Maya menarik tangannya, jantungnya berdebar kencang. Ia menggeser kotak itu sedikit, lalu menyentuh sisi meja yang berlawanan. Di sana, di bawah lis ukiran yang rumit, sebuah laci mini terbuka, nyaris tak terlihat. Ukurannya hanya beberapa sentimeter, cukup untuk menyimpan satu benda kecil.
Di dalamnya, tergeletak sebuah kunci tembaga kuno, warnanya kusam dan sedikit berkarat, namun bentuknya begitu ramping dan elegan. Ia mengambilnya, merasakan beratnya yang dingin. Kunci itu berukir inisial 'B' di bagian gagangnya, sebuah cap tangan ayahnya yang tak terhapuskan.
Ayah selalu menyembunyikan hal-hal penting di tempat yang paling tidak terlihat, namun paling dekat dengan kesehariannya.
Tangan Maya gemetar saat ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang di kotak jati. Pas. Ia memutarnya perlahan. Klik. Sebuah bunyi ringan, seperti desahan lega. Ia meletakkan kunci itu di samping kotak, lalu menahan napas. Jemarinya meraba celah yang kini terbuka di sepanjang salah satu sisi kotak. Dengan dorongan lembut, tutup kotak itu terangkat.
Bukan perhiasan. Bukan surat. Bukan pula perkakas. Di dalamnya, terbaring sebuah buku bersampul kulit hitam yang tebal, berukuran sama dengan jurnal teknis yang ia temukan di nakas ayahnya. Di atas sampulnya, dengan tulisan tangan kaku yang sama, tertera: Buku Catatan Perbaikan Rumah II.
Maya mengerutkan kening. Buku Catatan Perbaikan Rumah? Lagi? Rasa kecewa tipis menyelinap masuk. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih personal, lebih mengharukan, setelah semua misteri ini. Apakah ini hanya duplikasi, atau kelanjutan dari jurnal yang sama?
Dengan hati-hati, ia mengangkat buku itu. Kulitnya terasa dingin, berat, sarat akan rahasia yang belum terucap. Aroma kertas tua dan sedikit minyak kayu menguar. Ia membukanya di halaman pertama. Tulisan tangan ayahnya, rapi dan sistematis, memenuhi setiap baris.
17 September 1999. Perbaikan engsel pintu dapur. Maya jatuh dari sepeda di depan rumah, lututnya terluka. Perlu memastikan pintu tidak berderit lagi saat ia tidur.