Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #6

Pola dalam Kerusakan

Maya meraih pensil dan kertas kosong, siap untuk mulai mencatat. Ia tidak akan tidur malam ini. Ada sebuah bahasa yang harus ia pelajari, dan setiap detik terasa sangat berharga. Malam beranjak larut, namun keheningan rumah ini tidak lagi terasa mencekam. Kini, ia dipenuhi gema bisikan masa lalu, setiap derit lantai, setiap napas angin yang menembus celah jendela, seolah berbicara.

Di atas meja tamu, dua jurnal hitam itu tergeletak, bersebelahan. Satu, yang ia temukan di nakas, lebih tebal dan usang. Satu lagi, yang ia temukan di balik kotak jati, tampak lebih baru, mencatat tahun-tahun terakhir hidup ayahnya. Sebuah jembatan waktu, terbentang di antara tangannya.

Aku butuh buku harianku. Bisikan itu mendorongnya. Ia bangkit dari kursi, melangkah pelan menuju kamarnya sendiri. Kamar itu, yang selama ini menjadi saksi bisu setiap tawa dan tangisnya, kini terasa seperti perpustakaan pribadi, menyimpan arsip emosi yang selama ini terkunci.

Rak buku di sudut kamar masih berdiri tegak, penuh dengan novel lama dan buku-buku pelajaran yang sudah jarang ia sentuh. Di bagian bawah, di antara tumpukan komik dan majalah mode yang sudah kuning, ia menemukan kotak kardus bertuliskan "MASA LALU". Di dalamnya, tergeletak tumpukan buku harian bersampul bunga dan kertas-kertas bergaris, penuh dengan tulisan tangan remajanya yang canggung dan penuh drama.

Ia menarik keluar sebuah buku bersampul pink pudar, dengan gembok kecil yang sudah berkarat. Ini adalah buku harian yang paling sering ia tulis, dari usia delapan hingga lima belas tahun. Sumber semua kekecewaanku. Pikirnya getir, namun dengan nada yang berbeda kini. Ada harapan di balik kegelapan memori itu.

Maya kembali ke meja tamu, menempatkan buku harian itu di antara dua jurnal ayahnya. Sebuah trilogi bisu yang akan ia bedah. Jemarinya membuka halaman acak.

10 Mei 2003. Aku gagal ujian IPA! Nilai Kimia-ku anjlok, padahal aku sudah belajar keras. Ayah pasti kecewa berat. Aku tidak berani bilang padanya. Sekarang aku merasa sangat bodoh.

Napas Maya tertahan. Tanggal itu. Ia ingat dengan jelas perasaan malu dan takut yang membebani dadanya. Ia bahkan pura-pura sakit agar tidak bertemu ayahnya sepulang sekolah. Ia mengira ayahnya tidak tahu, atau jika tahu pun, tidak peduli.

Ia membuka jurnal Baskara, membalik halaman cepat, mencari tanggal yang sama atau yang berdekatan. 10 Mei 2003... 11 Mei... 12 Mei... Jantungnya berdebar kencang saat matanya menemukan sebuah entri.

11 Mei 2003. Penguatan rangka atap bagian barat. Ditemukan beberapa genteng yang bergeser. Musim hujan sebentar lagi, tidak boleh ada kebocoran.

Penguatan rangka atap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingat betul bagaimana setelah ujian itu, ia menghabiskan banyak waktu di kamarnya, merasa terperangkap dalam pikirannya sendiri, khawatir ayahnya akan marah. Ia tidur gelisah setiap malam, takut pada guntur, takut pada masa depan.

 Ayahnya tidak memeluknya. Ayahnya tidak memberinya kata-kata semangat. Tapi ayahnya menguatkan atap rumah mereka. Agar aku merasa terlindungi? Agar aku merasa aman?

Guncangan emosional menerpa Maya. Selama ini, ia merasa tidak layak mendapatkan perhatian ayahnya, ia merasa tidak cukup. Namun, ayahnya, dengan caranya yang sunyi, justru sedang membangun fondasi keamanan di sekelilingnya, melindungi atap tempat ia bernaung, seolah-olah melindungi hatinya yang rapuh.

Ia terus membalik halaman buku harian pink itu. Mencari luka, mencari kepedihan.

 23 Oktober 2005. Kevin bilang dia suka sama Sarah. Bukan aku. Hatiku sakit sekali. Aku tidak mau ke sekolah besok. Rasanya aku ingin menghilang saja.

Lihat selengkapnya