Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #7

Panggilan yang Terputus

 

Cahaya fajar memang telah merayap masuk, membasahi jurnal-jurnal di meja tamu dengan warna keperakan, tapi di dalam diri Maya, malam masih berkuasa. Sebuah badai emosi mengamuk di balik kelopak matanya yang perih, antara euforia penemuan dan sesak penyesalan. Ayah tidak pernah tidak peduli. Kalimat itu bergema, sebuah mantra yang membebaskan sekaligus menyiksa. Ia telah menghabiskan semalam suntuk menelusuri korelasi, menemukan gema cinta dalam setiap retakan yang diperbaiki, setiap sudut yang dikuatkan. Setiap entri adalah sebuah deklarasi bisu, sebuah pelukan yang tak terucap.

Tangannya gemetar saat ia menyentuh ponselnya. Adrian. Ia harus menceritakan ini pada Adrian. Orang pertama yang harus tahu. Seseorang yang—ia harap—bisa berbagi beban dan keajaiban penemuan ini dengannya. Dengan napas tertahan, ia menekan nomor Adrian.

Beberapa dering panjang sebelum suara Adrian yang agak mengantuk menyambutnya. "Halo, Sayang? Tumben pagi-pagi telepon. Ada apa? Kamu baik-baik saja?"

Suara itu, walau mengantuk, terasa seperti jangkar. Maya menarik napas dalam, mencoba merangkai kata-kata yang terasa terlalu besar untuk diucapkan. "Adrian, aku... aku menemukan sesuatu. Sesuatu yang luar biasa. Semalam aku tidak tidur sama sekali." 

"Apa itu? Kamu menemukan dokumen penting? Atau surat wasiat lain? Jangan-jangan Ayahmu punya harta tersembunyi?" Suara Adrian terdengar mulai terjaga, namun nada praktisnya tetap mendominasi. Ada sentuhan semangat, tapi bukan semangat yang Maya harapkan.

"Bukan. Bukan itu," Maya mencoba menahan diri agar tidak terdengar terlalu frustrasi. "Ini lebih dari itu. Ini... Adrian, aku salah tentang Ayah selama ini. Semua yang selama ini kukira ketidakpeduliannya, keheningannya... itu ternyata adalah caranya mencintaiku."

 Ia bisa mendengar Adrian menghela napas di seberang sana. "Maya, Sayang, aku tahu kamu berduka. Wajar kalau kamu mulai... mereka-reka. Mengingat hal-hal baik tentang Ayahmu. Tapi jangan sampai kamu terlalu larut, ya."

"Bukan mereka-reka! Aku menemukan jurnalnya! Dua jurnal penuh dengan catatan perbaikan rumah yang selalu bertepatan dengan momen-momen sulit dalam hidupku. Engsel pintu depan yang diperbaiki saat aku demam. Atap yang dikuatkan saat aku gagal ujian. Jendela yang dikencangkan saat aku patah hati." Maya berbicara cepat, nadanya penuh desakan, seolah jika ia berhenti, semua keajaiban ini akan lenyap. "Dia tidak pernah bicara, tapi tangannya... tangannya selalu bekerja untuk melindungiku, untuk menjaga perasaanku. Dia membangun perlindungan di sekitarku, Adrian!"

Hening sesaat yang terasa panjang. Maya bisa membayangkan Adrian mengernyitkan keningnya, mungkin menggaruk kepala, mencoba mencerna rentetan emosi yang baru saja ia tumpahkan.

"Oke... itu... cukup unik, Maya," kata Adrian akhirnya, suaranya berusaha terdengar pengertian, namun lebih terasa seperti meremehkan. "Mungkin saja Ayahmu memang suka mencatat, kan? Kan dia tukang kayu, teknisi. Wajar kalau dia detail soal perbaikan. Kebetulan saja ada momennya pas."

"Bukan kebetulan!" Maya meninggikan suaranya, rasa frustrasi mulai merayap naik, panas di dadanya. Kenapa dia tidak mengerti? "Ini bukan kebetulan, Adrian! Ini polanya. Aku membandingkannya dengan buku harian remajaku, dengan ingatanku! Semuanya pas. Ini caranya bicara. Ini bahasanya."

Lihat selengkapnya