Ponsel di tangannya terasa berat, seperti batu dingin yang baru saja ia lempar ke dasar sumur. Adrian sudah pergi, setidaknya dari percakapan itu, membawa serta sisa-sisa harapan Maya untuk berbagi beban penemuan ini. Perjalanan ini harus kulalui sendirian. Kalimat yang ia ucapkan pada dirinya sendiri itu kini terasa seperti sebuah sumpah, sebuah ikrar di tengah rumah yang membisu. Matahari sudah tinggi, sinarnya menerobos jendela ruang tamu, menyinari tumpukan jurnal Ayah dan buku harian remajanya, seolah menunjuk arah.
Jika Ayah menyembunyikan cintanya dalam perbaikan atap, dalam engsel pintu, bahkan dalam kotak perhiasan Ibu, maka pasti ada lebih banyak lagi. Bukan hanya "perbaikan" fisik, tetapi sesuatu yang lebih dalam, lebih personal. Pikirannya melayang pada satu tempat yang paling erat hubungannya dengan Baskara: bengkel kayu di halaman belakang. Gudang itu sudah ia sentuh, tetapi bengkel utama... itu adalah jantung dunia Ayah.
Sebuah keraguan merayap. Apa yang akan kutemukan di sana? Lebih banyak perkakas? Lebih banyak bukti bahwa ia hanya peduli pada fungsi? Hatinya bergetar. Ia baru saja menemukan kedamaian rapuh dengan pemahaman baru ini, dan ia tidak ingin kebenaran yang lebih pahit merobeknya lagi. Namun, rasa penasaran itu jauh lebih kuat daripada ketakutannya. Jika ia benar-benar ingin belajar bahasa Baskara, ia harus menyelami setiap aspek dari hidupnya, bahkan yang paling sunyi sekalipun.
Maya menarik napas dalam, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia meninggalkan jurnal-jurnal di meja, berjalan menuju pintu belakang yang menuju ke halaman. Langkahnya terasa berat, setiap jejak kakinya di lantai kayu seolah menggemakan keheningan yang ia coba pahami.
Halaman belakang terasa lebih hangat, dipeluk oleh cahaya matahari siang. Pohon mangga tua bergoyang pelan, daunnya bergesekan, menciptakan melodi yang samar. Bengkel itu berdiri di ujung halaman, bangunan kayu yang lebih kecil dari rumah utama, namun tampak lebih kokoh, lebih hidup. Catnya mengelupas di beberapa bagian, namun strukturnya tetap tegak, menentang waktu.
Maya mengulurkan tangan, menyentuh gagang pintu bengkel yang terbuat dari besi tua. Dingin dan kasar. Ia mendorongnya pelan. Derit engsel yang kali ini tidak ia dengar di jurnal, justru terdengar merdu di telinganya. Aroma itu langsung menyergap, sebuah perpaduan kuat antara minyak pernis, serutan kayu pinus, dan sedikit bau tembakau yang sering menempel di baju ayahnya. Itu adalah aroma Baskara, begitu pekat hingga terasa seperti pelukan hantu.
Cahaya siang yang lembut membanjiri ruangan, menyoroti debu yang menari di udara. Perkakas tergantung rapi di dinding: gergaji dengan gigi tajam, palu yang gagangnya licin oleh sentuhan berulang, pahat-pahat dengan berbagai ukuran yang tersusun di rak. Meja kerja utama, mahakarya lain tangan Ayah, terhampar luas di tengah ruangan. Permukaannya licin, namun dihiasi bekas sayatan dan guratan yang tak terhitung jumlahnya. Setiap bekas adalah cerita, setiap goresan adalah jejak kerja keras.
Maya melangkah masuk, jemarinya menyentuh setiap objek yang ia lewati. Sebuah kotak kayu berisi paku-paku yang tersortir rapi. Botol-botol pernis dan lem yang tutupnya rapat. Semuanya teratur, bersih, terawat. Sebuah refleksi dari jiwa Baskara yang rapi dan presisi, bahkan dalam keheningannya.
Ia teringat Ayah selalu menyuruhnya menjauh dari bengkel. "Ini tempat kerja. Bukan tempat bermain," kata Baskara datar suatu sore, saat Maya kecil ingin membantunya mengampelas kayu. Ibunya selalu menemaninya di sana, duduk di sudut sambil menjahit, sesekali bertukar pandang dengan Ayah, sebuah komunikasi bisu yang selalu membuat Maya merasa terasing.