Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #9

Saksi Bisu: Pak Hadi

Jemari Maya masih menggantung di atas laci usang di sudut meja kerja bengkel. Laci itu tampak lebih gelap, lebih tertutup, seolah menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam dari sekadar perkakas. Apa lagi yang Ayah sembunyikan di sini? tanyanya pada keheningan bengkel. Ukiran hati dengan inisial "B + M" masih tergeletak di meja, sebuah bukti yang menyakitkan sekaligus membebaskan. Namun, gema kebenaran itu terasa berat untuk ia pikul sendiri. Ia membutuhkan sebuah suara, sebuah validasi dari seseorang yang mengenal Baskara lebih dari siapa pun, selain ibunya yang telah tiada.

 Hanya ada satu orang. Pak Hadi.

 Maya menarik napas panjang, menarik kembali tangannya dari laci yang misterius itu. Bukan sekarang. Ia membutuhkan konteks yang lebih luas, sebuah narasi yang hanya bisa diberikan oleh saksi mata. Ia berbalik, melangkah keluar dari bengkel, menutup pintu perlahan. Aroma kayu tetap menempel di kulitnya, seolah kenangan Ayah mengikutinya.

 Di dalam rumah, cahaya sore sudah mulai meredup, menyisakan nuansa keemasan yang melankolis. Maya berjalan ke ruang tengah, matanya mencari buku telepon lama yang selalu tersimpan di laci meja telepon kayu jati. Benda antik yang sudah jarang digunakan di era digital ini, namun ia tahu Ayahnya selalu menyimpannya. Jati. Selalu jati.

 Ia menemukan buku telepon itu, sampulnya lusuh, halaman-halamannya menguning. Jemarinya membalik lembar demi lembar, mencari nama "Hadi". Baris-baris nama tetangga yang tak asing, nomor-nomor lama yang sebagian besar sudah tidak aktif. Akhirnya, di halaman paling belakang, dengan tulisan tangan Baskara yang kaku dan rapi, tertera: "Hadi – 0812xxxxxxxx".

 Jantung Maya berdesir. Nomor itu. Masih ada. Sebuah jembatan menuju masa lalu. Keraguan menyergap. Apa yang harus kukatakan pada Pak Hadi? Apakah ia akan percaya? Apakah ia akan memahami? Ia teringat kata-kata Pak Hadi saat pemakaman, "Ayahmu itu orang yang sulit, Maya. Tapi dia mencintaimu dengan caranya sendiri. Kau tahu itu, kan?" Pertanyaan itu, yang dulu terasa seperti tuduhan, kini terasa seperti janji.

 Dengan tangan gemetar, Maya meraih ponselnya. Menekan angka-angka itu perlahan, seolah setiap tombol adalah sakelar ke sebuah rahasia yang ia tak yakin ingin dengar.

"Halo, assalamualaikum," suara berat namun ramah Pak Hadi menyahut di seberang sana.

 "Waalaikumsalam, Pak Hadi. Ini Maya."

"Oh, Nak Maya. Bagaimana kabarmu? Masih di rumah, Nak? Bapak baru mau mengantar kolak, ini masih hangat." Suaranya dipenuhi kebaikan.

"Baik, Pak. Terima kasih. Begini, Pak, saya... saya ingin bertemu Bapak, jika Bapak ada waktu. Ada yang ingin saya tanyakan tentang Ayah." Maya mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang, namun ada getaran samar yang tak bisa ia sembunyikan.

Hening sejenak. "Tentang Baskara? Tentu, Nak. Kapan saja. Bagaimana kalau sore ini? Di kedai kopi dekat perempatan? Sekalian Bapak keluar mencari angin."

"Bisa, Pak. Sore ini saya ke sana."

Kedai kopi sederhana di perempatan jalan itu beraroma kopi kental dan singkong goreng. Cahaya sore yang temaram menyelinap masuk melalui jendela kaca, melukis bayangan-bayangan panjang di dinding. Pak Hadi sudah duduk di salah satu meja, memegang secangkir kopi hitam mengepul. Rambutnya sudah memutih, namun matanya yang ramah masih memancarkan kebijaksanaan.

"Nak Maya," sapanya hangat saat Maya mendekat. "Silakan duduk."

Lihat selengkapnya