Bau kopi dan singkong goreng masih tercium samar di ujung hidungnya, namun di benak Maya, kini hanya gema kata-kata Pak Hadi yang berkelebat: "Lidahnya terikat... sejak kejadian itu... merasa gagal sebagai pelindung." Ia melangkah memasuki ruang tamu yang remang-remang, malam mulai merayap di luar jendela, memeluk rumah dalam keheningan yang berbeda. Keheningan yang kini tidak lagi terasa hampa, melainkan penuh dengan bisikan rahasia yang menunggu untuk diungkap.
Jurnal Baskara masih tergeletak di atas meja, di samping buku harian remajanya. Maya menyentuh sampul hitam itu, merasakan tekstur kulitnya yang usang. Kitab suci Baskara, Injil Baskara. Ibu pernah menyebutnya begitu, kata Pak Hadi. Sebuah nama yang penuh ironi, mengingat betapa Ayah adalah sosok yang jauh dari sifat religius yang vokal. Tapi, jika cinta adalah agamanya, maka jurnal ini memang adalah kitab sucinya.
Namun, di balik ayat-ayat cinta yang ia temukan, ada bab yang hilang. Bab tentang trauma yang mengikat lidah Baskara. Apa itu? Sejauh ini, ia hanya menemukan korelasi antara perbaikan rumah dan lukanya. Ia belum menemukan korelasi antara kebisuan ayahnya dan luka ayahnya.
Maya duduk di sofa tua, matanya menyapu sekeliling ruangan. Setiap benda, setiap sudut, kini terasa seperti potongan puzzle yang memiliki kisahnya sendiri. Bingkai foto pernikahan orang tuanya di dinding. Wajah ibunya yang cerah, kontras dengan ekspresi Baskara yang kaku. Dia ingin kau melihatnya kuat, meskipun di dalam hatinya... ada luka yang dalam.
Ia memejamkan mata, mencoba menggali memori. Mencari jejak trauma itu di masa kecilnya sendiri. Kapan Ayah menjadi begitu diam? Atau apakah ia memang selalu begitu? Ia ingat betapa ia selalu berusaha berbicara, berusaha menarik perhatian Ayah, namun selalu gagal.
Aku adalah Ayah yang sama yang tidak akan pernah menanyakan hal personal padamu, Maya. Sebuah bisikan menusuk.
Kilasan memori menyeruak. Maya kecil, mungkin berumur tujuh atau delapan tahun. Ia baru saja belajar di sekolah tentang silsilah keluarga, dan ia begitu antusias ingin tahu lebih banyak tentang ayahnya.
"Ayah," panggil Maya riang, saat Baskara sedang memperbaiki dudukan kursi makan yang agak longgar. "Kata Bu Guru, kita harus tanya sama orang tua, di mana mereka lahir, punya berapa saudara. Ayah lahir di mana? Punya saudara nggak?"
Baskara menoleh sekilas, obeng di tangannya berhenti bergerak. Matanya yang kelabu menatap lurus ke arah Maya, tanpa ekspresi. "Ayah lahir di desa. Punya satu adik." Suaranya datar, tanpa intonasi. Ia kembali fokus pada kursi di depannya.
"Desa apa, Yah? Jauh nggak? Kita pernah ke sana? Kalau adik Ayah, dia tinggal di mana sekarang? Dia cowok apa cewek?" Maya kecil tidak menyerah, penuh rasa ingin tahu.
Ayahnya hanya menghela napas, sebuah desahan pendek yang sudah akrab di telinga Maya. "Desanya jauh. Sudah lama tidak Ayah kunjungi. Sekarang Ayah sedang sibuk memperbaiki kursi ini. Nanti kalau sudah selesai, baru bisa bicara lagi."
Dan "nanti" itu tidak pernah datang. Atau jika pun datang, percakapan itu akan dialihkan ke hal lain, sesuatu yang praktis, yang tidak menyentuh kedalaman emosi.
Memori lain. Maya remaja, usianya belasan tahun, mungkin tiga belas. Ia sedang membaca buku sejarah tentang masa perjuangan, dan teringat cerita ibunya tentang masa muda Ayah yang katanya juga ikut serta dalam kegiatan kepemudaan.