Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #11

Bekal Makan Siang yang Sunyi

 

Peta usang terhampar di atas meja tamu, garis-garis gunung dan hutan yang lebat seolah menelan desa kecil yang Maya yakini adalah awal mula kebisuan Ayahnya. Trauma yang mengikat lidah. Frasa itu, yang diucapkan Pak Hadi, bagaikan racun yang perlahan menggerogoti, namun sekaligus penawar bagi kemarahannya yang beku. Matahari pagi merayap masuk, melukis bayangan-bayangan panjang di dinding, mengubah gelap malam menjadi janji penyingkapan.

 Maya menarik napas dalam. Tekad untuk pergi ke desa itu sudah bulat, namun sebelum melangkah lebih jauh ke masa lalu Ayah, ada gema lain yang memanggilnya di rumah ini. Gema dari rutinitas yang ia kira sepele, namun kini terasa begitu monumental. Perutnya bergemuruh, mengingatkan bahwa ia belum makan sejak kemarin sore. Dapur. Sebuah tempat yang sering ia kaitkan dengan kehadiran Ibunya, namun jarang sekali dengan Ayahnya.

Ia melangkah menuju dapur, sebuah ruangan yang terasa semakin hidup kini, tidak lagi dingin dan hampa. Jurnal-jurnal Baskara dan buku harian remajanya ia tinggalkan tergeletak di meja tamu, menanti tafsiran selanjutnya. Di dapur, aroma kopi Ayah yang dulu selalu ia abaikan seolah masih tertinggal samar. Ia membuka laci-laci kayu satu per satu, mencari kantung kopi atau teh.

 Di laci paling bawah, tempat perkakas makan yang jarang digunakan, jemarinya menyentuh sesuatu yang lembut namun kaku. Sebuah album foto usang, sampulnya dari beludru merah tua yang sudah pudar dan sedikit berjamur di bagian tepinya. Album foto Ibu, bisik Maya dalam hati. Ia ingat Ibu sering melihat album ini di kala senggang, tersenyum sendiri mengingat masa lalu.

 Maya menarik album itu keluar, debu halus mengepul. Ia membawanya ke meja makan, tempat yang semalam menjadi panggung keheningan dan penyesalannya. Cahaya pagi yang lembut membasahi halaman-halaman yang menguning saat ia membukanya. Foto-foto pernikahan. Foto-foto dirinya bayi. Senyum Ibu, wajah kaku Ayah. Semua terasa familiar, namun kini ia melihatnya dengan mata yang berbeda.

 Ia membalik halaman perlahan, menelusuri setiap momen yang terbingkai. Tawa kecil Maya saat melihat dirinya digendong Ayah. Senyum samar yang berhasil Ayah berikan saat Maya kecil meniup lilin ulang tahun. Di antara potret-potret itu, terselip sebuah foto tunggal, bukan di album ini, melainkan di antara halaman-halamannya yang lengket. Sebuah foto berukuran kecil, warnanya sudah sedikit memudar, namun fokusnya jelas.

 Foto itu. Dirinya, berusia sekitar delapan tahun, tersenyum lebar ke arah kamera, seragam sekolahnya rapi, rambutnya dikepang dua. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak bekal berwarna merah muda, dengan motif bunga-bunga kecil. Di belakangnya, samar-samar terlihat Ayah, Baskara, berdiri di ambang pintu dapur, tangannya memegang sapu tangan yang kotor oleh serutan kayu. Wajahnya datar seperti biasa, namun matanya menatap lurus ke arah Maya kecil. Tatapan itu... kini terasa begitu mendalam, begitu sarat makna.

 Bekal makan siang. Sebuah ingatan menyerbu, begitu kuat hingga ia bisa merasakan dinginnya kotak bekal di tangan Maya kecil. Setiap pagi, tanpa terkecuali, Ayah yang menyiapkan bekal makan siangnya. Bukan Ibu. Ibu selalu sibuk mengurus rumah atau menjahit. Ayah. Baskara yang pendiam itu.

Dia selalu melakukannya. Bisikan itu bagai pukulan di ulu hati.

Maya ingat. Setiap pagi, ia akan bangun, menemukan kotak bekalnya sudah ada di meja makan, lengkap dengan sandwich, buah, atau nasi goreng. Terkadang ada pula catatan kecil dari Ibunya, tapi bekalnya... selalu Ayah yang membuatnya. Dengan telaten. Rapi. Tidak pernah kurang.

"Ayah, apa aku harus makan semuanya?" tanya Maya kecil suatu pagi, menatap isian bekal yang terlihat banyak.

Baskara, yang sedang merapikan alat-alatnya di dapur, hanya menoleh. "Habiskan. Agar kau punya tenaga untuk belajar."

Tidak ada pujian akan masakannya. Tidak ada pertanyaan apakah Maya menyukai isian bekalnya. Hanya instruksi. Dan Maya, yang saat itu haus akan kata-kata, merasa kecewa. Ia menganggapnya hanya tugas. Rutinitas tanpa jiwa. Sebuah kewajiban praktis yang Ayah lakukan karena Ibu tidak sempat.

Lihat selengkapnya