Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #12

Percakapan yang Tak Pernah Terjadi

Maya tidak bisa lagi berbicara. Suaranya tercekat. Ia hanya bisa menatap foto di tangannya, membiarkan air mata membasahi kenangan yang begitu berharga, namun terlambat ia pahami. Ia tahu, Ayah tidak akan pernah mendengar ucapan terima kasihnya.

Di seberang telepon, Adrian menghela napas, suaranya kini dipenuhi kejengkelan yang kentara. "Maya, kamu hanya diam lagi? Ini percakapan serius, bukan drama. Kita sudah membicarakan ini. Kapan kamu akan kembali ke sini? Jadwal pertemuan dengan vendor katering sore ini sudah tidak bisa ditunda lagi."

 Dinding keheningan itu kembali menabraknya, bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Maya mencengkeram ponselnya erat, jemarinya memutih. Aku sudah berusaha bicara. Namun, mengapa kata-katanya, yang terasa begitu penting dan sarat emosi di kepalanya, selalu terdengar hampa di telinga Adrian?

 "Aku... aku tidak bisa datang, Adrian," bisik Maya, suaranya nyaris tak terdengar. Fotonya yang kecil, bekal makan siang di tangannya, kini terasa seperti beban yang teramat berat. Ia merasa tak mampu melepaskannya. "Ada hal yang lebih penting di sini. Aku harus... aku harus memahami Ayah. Untuk diriku sendiri."

 "Memahami Ayahmu?" Adrian tertawa getir, seperti pecahan kaca yang berderik. "Maya, kamu tidak pernah sedekat itu dengan Ayahmu. Dia sudah meninggal. Apa gunanya semua ini? Ini hanya akan menyiksamu. Kamu harus move on."

Kata-kata itu menghantamnya, menusuk tepat di ulu hati. Move on. Sebuah perintah yang terasa begitu asing di tengah lautan emosi yang baru ia selami. Bagaimana ia bisa move on jika fondasi dirinya sendiri masih retak, penuh lubang kesalahpahaman?

"Aku tidak sedekat itu dengannya, Adrian, karena aku tidak pernah mencoba memahami dia," Maya membantah, suaranya kini mulai meninggi, dipenuhi keputusasaan. "Aku terlalu sibuk marah, aku terlalu sibuk menuntut agar dia bicara. Padahal dia sudah bicara. Dengan caranya sendiri. Dengan tindakan."

"Dan kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan sekarang berbeda?" Adrian membalas, suaranya tajam, memotong udara. "Kamu juga menuntutku untuk memahami apa yang kamu rasa. Kamu menghilang begitu saja, membatalkan semua rencana kita, hanya untuk... untuk menggali kenangan masa lalu yang sebetulnya tidak bisa mengubah apa-apa. Apa bedanya dengan Ayahmu yang kaku itu, Maya? Kalian sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau kompromi."

Kata-kata itu bagai bilah pisau. Kalian sama-sama keras kepala. Sebuah kebenaran yang kejam, namun menusuk. Maya terdiam, lidahnya kelu. Ia melihat bayangan Baskara dalam dirinya. Ayahnya yang memilih diam, dan dirinya yang kini, di ambang pencerahan, justru membalas Adrian dengan keheningan yang sama. Keheningan yang tercipta dari rasa tidak dimengerti, dari frustrasi yang menumpuk, dari ketidakmampuan untuk menjelaskan kedalaman jiwanya.

"Adrian, kamu tidak mengerti," bisik Maya, suaranya pecah. "Ini bukan sekadar masa lalu. Ini... ini adalah bagaimana aku akan menjadi diriku sendiri. Bagaimana aku akan belajar mencintai dan dicintai, agar kita tidak berakhir seperti orang tuaku."

 Adrian menghela napas keras di seberang sana. "Oh, jadi sekarang ini tentang kita? Tentang pernikahan kita? Kamu berpikir Ayahmu adalah contoh buruk, dan kamu sedang memperbaikinya? Maya, kita bukan mereka. Kita adalah kita. Kita sudah punya rencana. Kamu hanya harus... fokus ke depan."

Lihat selengkapnya