Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #13

Perbaikan di Kamar Maya

Ponselnya tergeletak dingin di atas meja tamu, layarnya memantulkan wajah Maya yang sembab, matanya merah karena air mata dan kurang tidur. Adrian sudah pergi, setidaknya dari percakapan itu, membawa serta sisa-sisa harapan Maya untuk berbagi beban penemuan ini. Perjalanan ini harus kulalui sendirian. Kalimat itu kini terasa seperti sebuah sumpah, sebuah ikrar di tengah rumah yang membisu. Ia telah kehilangan Adrian, setidaknya untuk sementara, demi menemukan Ayahnya. Sebuah pengorbanan yang terasa mahal, namun tak terhindarkan.

Sore hari telah merangkak naik, menyelimuti rumah dengan cahaya keemasan yang sendu. Di luar, suara-suara kehidupan kota terdengar samar, namun di dalam dinding-dinding ini, keheninganlah yang berkuasa. Keheningan yang kini tidak lagi ia benci, melainkan ia coba pahami, selami setiap lapisannya.

Maya bangkit dari sofa, langkahnya ringan namun hati-hati. Ia merasa seolah sedang berjalan di atas pecahan kaca, setiap langkah berpotensi melukai, namun juga mengungkapkan kebenaran. Pikirannya melayang pada kamarnya sendiri. Ruang pribadinya. Tempat di mana sebagian besar luka dan kebahagiaan masa kecil serta remajanya terbentuk. Jika Ayah mencintai melalui perbaikan rumah, lantas apa yang Ayah perbaiki di sana? Di tempat paling pribadinya?

 Ia berjalan menyusuri koridor, lantai kayu jati yang berderit samar di bawah kakinya terasa seperti bisikan dari masa lalu. Pintu kamarnya, yang dulu selalu ia kunci rapat saat remaja, kini terbuka sedikit, seolah mengundangnya masuk. Aroma lavender dan buku-buku lama menyambutnya. Itu adalah aromanya sendiri, tercampur samar dengan aroma kayu dan minyak Ayah yang entah mengapa kini terasa menenangkan.

 Maya berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling. Kamar itu, dengan dinding berwarna krem yang kini sedikit pudar, lemari pakaian kayu jati yang besar, dan meja belajar yang penuh goresan pena, adalah kapsul waktu. Setiap benda menyimpan memori, setiap sudut adalah saksi bisu dari setiap tawa dan tangisnya.

 Ia melangkah masuk, menyentuh lemari pakaiannya yang kokoh. Jemarinya meraba tekstur kayu yang halus, merasakan kehangatan yang tertinggal. Lemari ini dibuat oleh Ayah saat ia masuk SMP, sebuah hadiah yang saat itu ia terima dengan datar, tanpa antusiasme. Ayah selalu membuat barang fungsional. Ia ingat berpikir begitu. Kini, ia bertanya, Apakah ada cinta yang terselip di dalam setiap serat kayunya?

Ia menyentuh meja belajarnya, tempat ia dulu menghabiskan jam-jam panjang mengerjakan PR, membaca novel remaja, atau diam-diam menulis buku harian. Meja itu penuh dengan goresan, bekas-bekas pena yang terlalu dalam, noda tinta yang tak bisa hilang. Setiap goresan adalah jejak perjuangannya, keputusasaannya, dan harapan samar masa remaja.

Matanya beralih ke dinding kamar. Dinding tempat ia menggantung poster-poster band idolanya, lukisan-lukisan abstrak yang ia buat sendiri, dan foto-foto teman-temannya yang kini terasa begitu jauh. Dinding itu adalah kanvas emosinya.

Di balik poster lama yang masih menempel, di sudut yang agak tersembunyi, dekat dengan kepala tempat tidurnya, matanya terpaku pada sesuatu. Sebuah retakan. Bukan retakan yang besar, hanya goresan tipis yang memanjang sekitar sepuluh sentimeter, nyaris tak terlihat. Namun, yang menarik perhatiannya adalah bagaimana retakan itu ditambal. Bukan dengan cat, melainkan dengan semacam dempul kayu yang kemudian dicat ulang persis dengan warna dinding, nyaris sempurna. Sebuah perbaikan yang teliti, hati-hati, dan hampir tak terlihat.

Jantung Maya berdesir kencang. Retakan itu. Seketika, memori masa remajanya menyeruak, begitu jelas seolah baru terjadi kemarin. Ia berusia lima belas tahun. Masa di mana segala hal terasa salah, segala hal terasa berat. Ia sedang bertengkar hebat dengan Ayahnya. Bukan pertengkaran verbal yang meledak-ledak, melainkan pertengkaran sunyi yang jauh lebih menyakitkan.

 Ayahnya baru saja menolak permintaannya untuk ikut field trip ke luar kota. "Tidak perlu. Buang-buang uang saja. Lebih baik uangnya untuk hal yang lebih penting," kata Baskara datar, matanya terpaku pada surat tagihan listrik.

Lihat selengkapnya