Maya masih menyandarkan kepalanya di dinding yang bertambal, merasakan dinginnya plester dan cat. Di luar jendela, senja telah sepenuhnya meredup, melukis siluet pepohonan yang menari ditiup angin. Hatinya baru saja menemukan kedamaian rapuh, sebuah rekonsiliasi yang terasa pahit sekaligus manis. Ayah, kau selalu ada di sini. Menjaga dan melindungiku. Bisikan itu belum usai ketika, tanpa peringatan, petir menyambar di kejauhan.
Suara gemuruh itu.
Sebuah dentuman yang dalam, bergetar, menembus dinding dan merayapi saraf Maya. Seketika, tubuhnya menegang. Keningnya berkerut, matanya memejam. Aroma tanah basah dan ozon yang terbawa angin masuk melalui celah kecil jendela, menusuk indra penciumannya. Seluruh atmosfer rumah berubah, kembali ke masa lalu yang jauh, sebuah malam yang dingin dan penuh ketakutan.
Malam badai itu.
Maya kecil, mungkin berusia enam atau tujuh tahun, meringkuk di bawah selimut tebal. Di luar, langit seolah terbelah. Kilat menyambar tak henti, menerangi kamar dengan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan. Setiap sambaran diikuti oleh guntur yang menggelegar, membuat seluruh rumah bergetar. Hujan menderu, menghantam genteng dengan suara yang seperti ribuan drum dipukul bersamaan. Ia menangis, terisak-isak pelan, menenggelamkan wajahnya ke bantal, berharap semua itu cepat berakhir.
"Ibu... Ayah..." bisiknya, suaranya kecil dan ketakutan. Ia berharap ada seseorang yang datang, memeluknya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pintu kamarnya sedikit terbuka, ia bisa melihat secercah cahaya dari koridor. Jantungnya berdebar kencang, antara takut dan harap. Tapi tidak ada yang datang. Ia menunggu. Menunggu dan terus menangis dalam diam, di bawah gempuran badai yang tak berkesudahan. Ia merasa sangat sendirian. Sangat kecil. Sangat tidak terlindungi.
Ayahnya, Baskara, saat itu sedang apa? Maya kecil ingat Ayahnya biasanya hanya membaca koran di ruang tamu, atau sibuk di bengkel. Malam itu, ia pasti sedang membaca atau... tidur. Ayah tidak peduli. Perasaan itu sudah terbentuk bahkan di usia sekecil itu. Perasaan bahwa Ayah adalah sosok yang tidak bisa ia andalkan untuk hal-hal emosional. Ia hanya tahu cara memperbaiki benda.
Hujan masih belum reda. Dingin menusuk tulang. Ia tidak berani beranjak dari tempat tidur, takut pada bayangan-bayangan yang menari di dinding setiap kali kilat menyambar. Ia takut rumah ini akan runtuh. Takut atapnya akan jebol. Takut ia akan tersapu badai. Itu adalah ketakutan seorang anak, murni dan polos, yang merasa ditinggalkan di tengah ancaman alam.
Pada akhirnya, ia tertidur, lelah oleh tangisan dan ketakutannya, dengan keyakinan bahwa ia telah melalui badai itu sendirian.
Suara petir di masa kini kembali menyadarkan Maya. Kilas balik itu begitu nyata, begitu menusuk. Ia merasakan lagi dinginnya ketakutan di dadanya. Betapa aku benci malam badai. Betapa aku benci merasa sendirian. Ia bangkit dari sandarannya di dinding, berjalan cepat menuju ruang tamu, tempat jurnal-jurnal Baskara tergeletak. Ada dorongan yang kuat, sebuah intuisi, bahwa Ayah pasti mencatat sesuatu tentang malam itu.
Jurnal-jurnal itu, dengan sampul kulit hitamnya yang berat, terasa seperti beban kebenaran yang baru. Ia membuka jurnal yang lebih tua, yang mencakup tahun-tahun awal masa kecilnya. Jemarinya membalik halaman dengan terburu-buru, mencari tanggal yang mendekati malam badai itu. Tanggal yang samar, namun perasaan takutnya begitu jelas.
Bagaimana jika tidak ada apa-apa? Ketakutan tipis merayap. Bagaimana jika kali ini, persepsinya benar? Bahwa Ayah memang tidak peduli, tidak melihat, tidak melakukan apa-apa?