Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #15

Kamus Cinta yang Sunyi

Gema petir telah lama reda, menyisakan ketenangan aneh di dalam diri Maya. Dinding kamar yang bertambal, atap yang kokoh, bahkan bekal makan siang dalam foto usang, kini berbicara bahasa yang sama: perlindungan. Rasa aman itu meresap, menghapus sedikit demi sedikit dinginnya penolakan yang selama ini ia rasakan. Adrian mungkin tidak mengerti, tapi ia tidak lagi sendirian. Ia punya Ayah, dalam setiap gema sunyi yang kini ia dengar.

Beberapa hari telah berlalu sejak badai emosi terakhir. Hari-hari itu Maya habiskan di antara tumpukan jurnal Ayah dan buku hariannya. Aroma kayu dan kertas tua menjadi teman setia. Rumah ini, yang dulunya terasa seperti museum duka, kini menjelma perpustakaan pribadi, menyimpan kebenaran yang membebaskan.

Pagi itu, Maya duduk di meja tamu. Di hadapannya, terhampar dua jurnal hitam milik Baskara, buku harian remajanya yang lusuh, dan yang terpenting, sebuah buku catatan baru. Sampulnya polos, berwarna krem, dengan lembaran kertas putih bersih yang menanti untuk diisi. Sebuah simbol dari awal yang baru. Sebuah kanvas untuk kamus cinta yang tak terucap.

Jemarinya yang ramping meraih pena, merasakan dinginnya logam. Ini bukan sekadar mencatat, ini adalah proses penyembuhan, sebuah ritual penerjemahan. Ia mengambil napas dalam, merasakan gema ketenangan yang Ayah berikan. Perlahan, ia membuka buku catatan barunya.

Di halaman pertama, dengan tulisan tangannya sendiri yang rapi, Maya menuliskan sebuah judul: KAMUS CINTA BASKARA: GEMA DALAM HENING.

Di bawahnya, ia mulai menuliskan entri pertama, mengambil dari jurnal Baskara yang paling awal ia temukan.

ENTRI 1:

Jurnal Baskara: "17 September 1999. Perbaikan engsel pintu dapur. Maya jatuh dari sepeda di depan rumah, lututnya terluka. Perlu memastikan pintu tidak berderit lagi saat ia tidur."

Terjemahan: "Engsel pintu yang tak lagi berderit = Aku ingin kau merasa aman. Aku ada di sini, Ayah selalu menjagamu dalam diam, bahkan ketika kau merasa sendirian."

Jantungnya berdesir lembut saat menyelesaikan kalimat itu. Setiap kata adalah jembatan, menghubungkan dua dunia yang terpisah oleh keheningan. Ia merasa Ayah di sampingnya, mengangguk setuju, tersenyum kecil. Ayah, betapa bodohnya aku. Rasa bersalah itu masih ada, namun kini ia ditemani oleh kehangatan pemahaman.

Ia membalik halaman jurnal Baskara, mencari entri-entri lain yang telah ia temukan. Lalu menuliskannya ke dalam kamus barunya.

ENTRI 2:

Jurnal Baskara: "11 Mei 2003. Penguatan rangka atap bagian barat. Ditemukan beberapa genteng yang bergeser. Musim hujan sebentar lagi, tidak boleh ada kebocoran."

Terjemahan: "Atap yang dikuatkan = Aku tak ingin kau merasakan kekecewaan atau kegagalan. Aku adalah pelindungmu, benteng yang kokoh, bahkan ketika kau merasa rapuh dan tak berdaya."

Lihat selengkapnya