Maya menatap peta usang yang terhampar di meja tamu. Matanya terpaku pada titik kecil di tengah deretan gunung. Sebuah nama desa yang tertera samar, menanti untuk dikunjungi. Apakah di sana, di desa itu, aku akan menemukan awal dari keheninganmu, Ayah? Dorongan itu kini tak terbantahkan, memaksanya untuk bangkit dari meja yang penuh jurnal dan buku harian. Kamus cintanya memang sudah terisi, tetapi belum lengkap tanpa bab yang menjelaskan mengapa cinta itu harus bersembunyi.
Siang hari telah menyelimuti rumah dengan kehangatan, namun di dalam diri Maya, ada dingin yang masih mengikat, sebuah misteri yang harus ia pecahkan. Pikirannya kembali melayang pada bengkel kayu di halaman belakang. Tempat itu selalu menjadi labirin pribadi Ayah, penuh dengan rahasia yang tersembunyi di balik bau pernis dan serutan kayu. Ia harus kembali ke sana.
Dengan langkah mantap, ia berjalan melintasi halaman belakang yang disinari mentari, menuju bangunan kayu yang kokoh itu. Aroma khas bengkel kembali menyambutnya, perpaduan minyak, serutan kayu, dan sedikit bau tembakau yang selalu menempel pada Ayahnya. Kali ini, ia tidak lagi mencari ukiran hati yang belum selesai; ia mencari petunjuk, jejak-jejak yang mungkin terlewat di antara perkakas yang tertata rapi.
Meja kerja utama, yang menjadi saksi bisu pekerjaan Baskara, terhampar luas. Maya mulai membersihkannya, bukan dengan gegabah, melainkan dengan sentuhan hormat. Setiap perkakas ia ambil, ia usap, lalu ia letakkan kembali di tempatnya. Gergaji dengan gigi tajam, palu yang licin, pahat-pahat yang tertata rapi. Setiap sentuhan terasa seperti menyentuh bagian dari jiwa Ayahnya.
Debu-debu halus menari di udara saat ia mengusap permukaan meja dengan kain lap. Di bawah tumpukan serutan kayu yang mengering, di celah kecil antara balok meja dan papan kerja, jemarinya menyentuh sesuatu yang tipis dan kaku. Apa ini? tanyanya dalam hati. Ia menariknya perlahan.
Sebuah foto. Warnanya sudah memudar di bagian tepi, namun gambar di dalamnya masih jelas. Foto berukuran paspor yang sudah menguning, menunjukkan seorang pria muda. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak sederhana, rambutnya hitam legam disisir rapi ke samping, dan di bibirnya... sebuah senyum. Senyum yang lebar, tulus, dan penuh kehidupan.
Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Ini adalah Ayahnya. Baskara. Baskara muda. Jauh lebih muda dari yang pernah ia lihat di foto pernikahan, di mana ekspresinya sudah mulai kaku. Di belakang Baskara, samar-samar terlihat sebuah bangunan kayu yang familiar, namun dalam versi yang lebih tua. Sebuah bengkel. Ada papan nama di atasnya, meski tulisannya buram, Maya bisa mengeja beberapa huruf: "BENGKEL KAYU..." dan di bawahnya, ada tulisan nama yang agak panjang.
Mata Maya terpaku pada senyum itu. Senyum yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya pada wajah Ayah. Ayahnya selalu kaku, ekspresinya datar, bahkan pada momen-momen bahagia sekalipun. Senyum ini... ini adalah senyum seorang pria yang bebas, yang bahagia, yang belum terbebani oleh dunia. Apa yang terjadi padamu, Ayah? Apa yang membunuh senyum ini? Pertanyaan itu bergemuruh di benaknya, sebuah badai emosi yang jauh lebih dahsyat dari badai apa pun yang pernah ia alami.