Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #17

Persiapan Perjalanan

 

Maya menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya lelah, namun matanya memancarkan cahaya baru, cahaya tekad yang membara. Ini bukan pelarian, Adrian. Ini adalah pencarian. Pencarian akan akar diam, akan senyum yang hilang, akan kebenaran yang akan mengubah segalanya. Ia tidak akan menunggu. Ia akan berangkat esok pagi. Sebuah janji yang ia ukir di dalam hatinya, sekuat ukiran kayu jati Ayah.

 Ruangan kamarnya, yang dulu menjadi saksi bisu amarah dan kebingungannya, kini terasa seperti sarang persembunyian yang aman. Aroma lavender yang samar berpadu dengan debu kayu, sebuah paradoks yang anehnya menenangkan. Maya meraih ransel kanvas lamanya dari lemari, membukanya di atas kasur. Ia memasukkan beberapa helai pakaian sederhana, peta usang yang kini terasa seperti harta karun, dua jurnal hitam Ayah, dan buku catatan barunya—kamus cintanya yang sebagian sudah terisi. Foto Baskara muda dengan senyumnya yang asing ia selipkan di antara halaman kamus itu, sebagai pengingat akan misteri yang harus ia pecahkan.

 Peta Desa Mekar Jaya, yang baru saja ia lipat dengan hati-hati, kini terhampar di meja belajarnya. Garis-garis tipis jalan setapak, deretan gunung yang menjulang, dan titik kecil desa yang nyaris terhapus oleh waktu. Ia menelusurinya dengan jari, merasakan sensasi petualangan yang bergelora, bercampur dengan kecemasan yang samar. Apakah aku akan menemukan Ayah di sana? Atau hanya bayangan hantu dari masa lalunya?

Suara deru mesin mobil yang familiar memecah keheningan sore. Jantung Maya berdesir. Adrian. Ia tidak menduga Adrian akan datang. Setelah perdebatan telepon mereka beberapa hari lalu, ia mengira Adrian akan memilih untuk menjaga jarak, memberikan "ruang" yang ia minta. Namun, suara ketukan keras di pintu depan memecah ilusi itu. Adrian tidak akan membiarkan Maya menghilang begitu saja.

Maya menarik napas dalam, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berjalan ke ruang tamu, di mana jurnal-jurnal dan peta masih terbuka. Ia tidak punya waktu untuk menyembunyikannya. Pintu terbuka, Adrian berdiri di ambang pintu, rahangnya mengeras, matanya memancarkan campuran amarah dan kekhawatiran.

"Maya. Aku telepon kamu tidak diangkat. Pesanku tidak dibalas. Kamu pikir apa yang kamu lakukan?" Adrian melangkah masuk, suaranya rendah namun penuh tekanan. Ia melihat peta dan jurnal di meja, pandangannya menajam. "Jadi ini yang kamu lakukan. Sibuk menggali kuburan masa lalu."

 "Adrian, ini bukan kuburan," Maya membalas, berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun dadanya bergemuruh. "Ini adalah peta. Peta menuju kebenaran tentang Ayah. Tentang diriku."

 Adrian menghela napas kasar, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Kebenaran apa lagi, Maya? Kamu sudah menghabiskan berminggu-minggu di rumah tua ini. Kita punya kehidupan, Maya! Kita punya rencana pernikahan. Gedung sudah booking, katering sudah final. Kamu tidak bisa begitu saja... menunda segalanya karena sebuah 'peta kebenaran'."

"Ini bukan penundaan, Adrian. Ini adalah fondasi," Maya menunjuk ke jurnal-jurnal di meja. "Aku tidak bisa membangun masa depan yang kokoh denganmu jika fondasiku sendiri rapuh, jika aku tidak memahami siapa diriku dan dari mana aku berasal."

"Kamu itu Maya, Maya Anindita," Adrian mendekat, suaranya sedikit melunak, mencoba meraih tangannya. "Arsitek hebat. Calon istriku. Kita punya mimpi yang sama. Kamu bukan... Ayahmu."

Lihat selengkapnya