Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #18

Jejak di Buku Harian Ibu

Klik.

Suara putusnya sambungan telepon itu mengiris udara, meninggalkan Maya dalam kehampaan yang terasa lebih pekat dari malam yang merayap. Adrian sudah pergi, suaranya, kehadirannya, bahkan sisa-sisa amarahnya, lenyap dari rumah ini. Hanya keheningan yang tersisa, keheningan yang kini tidak lagi ia benci, melainkan ia sadari sebagai medan perang bagi Ayahnya, dan kini, medan perangnya sendiri. Rasa sakit dari kehilangan Adrian memang perih, namun di baliknya, ada nyala api baru yang membakar. Sendirian. Sebuah kata yang dulu terasa menakutkan, kini terdengar seperti panggilan kebebasan.

Malam itu, dinginnya udara merayapi kulit Maya, namun ia tidak merasakan. Pikirannya dipenuhi gambaran peta usang di meja tamu, titik kecil bernama Desa Mekar Jaya yang menanti untuk dipecahkan. Ia telah memilih jalan ini, jalan yang mungkin akan membawanya kehilangan segalanya, demi menemukan kebenaran yang lebih besar.

Ia menarik napas dalam, aroma kayu dan debu menguar, bercampur dengan aroma lavender yang samar dari kamar ibunya. Lavender. Aroma itu selalu menenangkan, seperti pelukan Ibunya yang hangat. Setelah perdebatan dengan Adrian, setelah semua penemuan tentang Ayahnya, ia merasa ada kerinduan yang mendalam pada sosok yang selalu menjadi jembatan antara dirinya dan Ayah. Ibu. Ibu yang selalu tersenyum, yang hatinya selalu lapang.

Maya bangkit dari sofa, langkahnya tanpa arah pasti, namun kakinya seolah dituntun menuju kamar orang tuanya. Kamar itu rapi, bersih, tak tersentuh sejak kepergian Ibunya bertahun-tahun lalu. Ia masuk, cahaya bulan menembus jendela, melukis siluet remang-remang di lantai. Aroma lavender dari lemari pakaian Ibu terasa lebih kuat di sini, seolah Ibu masih ada, membisikkan sesuatu.

Ia membuka lemari pakaian Ibu, tangannya gemetar. Setiap helai kain yang tertata rapi, setiap selendang batik, terasa menyimpan jejak tangan Ibu. Di laci paling bawah, di antara tumpukan pakaian yang dilipat sempurna, jemarinya menyentuh sesuatu yang kecil, persegi panjang, dan keras. Sebuah kotak kain beludru, bukan, itu adalah sampul buku yang terbuat dari kain beludru berwarna biru tua, dengan pengait kecil dari kuningan yang sudah usang.

Buku harian Ibu. Jantung Maya berdesir. Ia ingat pernah melihat Ibu menulis di buku ini, tersenyum sendiri di sudut ruangan. Ia tidak pernah berani bertanya isinya. Itu adalah ruang pribadi Ibu, yang Maya hormati bahkan di usia yang sangat muda. Kini, di malam yang sunyi ini, buku itu terasa seperti panggilan.

 Maya membawa buku itu ke tempat tidur, duduk di tepi kasur. Cahaya bulan yang masuk ke kamar tak cukup terang, jadi ia menyalakan lampu tidur kecil di nakas. Cahaya kuning yang hangat membasahi halaman-halaman yang menguning saat ia perlahan membuka pengait kuningan itu. Aroma kertas tua dan sedikit wangi melati yang telah kering menguar.

Jemari Maya membalik halaman pertama. Tulisan tangan Ibu, rapi dan mengalir indah, jauh berbeda dari tulisan kaku Ayah. Ia membaca tanggal-tanggal awal, catatan-catatan tentang kegiatan rumah tangga, resep masakan, dan sesekali, rindu pada keluarganya yang jauh. Kemudian, ia menemukan nama Ayah. Baskara.

 20 Mei 1985.

Baskara pulang larut malam lagi. Tangan dan bajunya kotor oleh serutan kayu. Ia tampak lelah, namun matanya memancarkan ketenangan aneh. Aku tahu ia baru saja selesai memperbaiki atap rumah tetangga yang bocor. Tanpa diminta. Tanpa bayaran. Ia tidak pernah bicara banyak, tapi tangannya selalu bekerja untuk melindungi. Aku tahu, ia mencintai dengan caranya sendiri. Caranya yang tak terucap.

 Napas Maya tercekat. Kalimat itu. "Tangannya selalu bekerja untuk melindungi." Persis seperti yang dikatakan Pak Hadi. Persis seperti yang ia temukan dalam jurnal Ayah. Dan Ibu, jauh sebelum Maya ada, sudah mengerti itu.

Lihat selengkapnya